Berita

Lambang Google/Net

Publika

PHK Karyawan Google, Amazon, Meta, dan Apple Pertanda Buruknya Resesi 2023: Dunia Butuh Tatanan Internasional Baru

MINGGU, 22 JANUARI 2023 | 11:40 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

DAMPAK negatif dari isu Resesi 2023 mulai nampak. Kini datang dari perusaahan teknologi dan AI terbesar di dunia, Google. Perusahaan induk Google yaitu Alphabet pada 20/1 telah mengumumkan akan memangkas 12.000 karyawan.

Sebelumnya, perusahaan seperti Amazon, Meta, dan Microsoft juga sudah mengumumkan melakukan PHK di awal tahun 2023 ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, totalnya 51,000 karyawan perusahaan raksasa dari teknologi terdepan dunia diPHK akibat pelemahan ekonomi imbas Covid dan ketegangan geopolitik.


Google sendiri mencatat 6 persen dari total karyawaan akan mengalami PHK. Hal ini disebabkan google menghadapi "realitas ekonomi yang berbeda"

Padahal google sedang giat-giatnya melakukan riset kecerdasan buatan (AI) dan diprediksi dalam waktu dekat akan melaunching produk Chatbot berteknologi tinggi seperti chat dengan manusia sesungguhnya.

Kenapa google dan perusahaan bigtech dunia lainnya melakukan PHK tersebut?

Meski tidak diakui secara terang-benderang, google dan perusahaan bigtech dunia lainnya sudah melihat dampak terburuk dari dampak resesi 2023 kedepan.

Mereka tidak mau terlambat dalam antisipasi resesi 2023. Mereka selalu ingin berada didepan curve crisis 2023 karena bila terlambat diantisipasi, mereka akan tergilas  bangkrut seperti hal-hal perusahaan konvensional lainnya.

Patut diingat, bahwa perusahaan bigtech raksasa dunia tersebut sudah memiliki tools prediksi situasi dunia ke depan dan mereka tidak mau terjebak dalam masalah tersebut.

Saham Google, Meta, dan Amazon sebenarnya dalam performa terbaik di 2022 dibandingkan perusahaan lainnya berbasis crypto. Bila ukurannya harga saham, seharusnya Google dkk tidak akan melakukan PHK demikian besar.

Namun keputusan mereka mengindikasikan bahwa saham-saham mereka tidak akan bertahan lama.

PHK tersebut hanyalah gelombang pertama dari prediksi resesi 2023 yang akan dimulai pada akhir Maret nanti.

Digelombang pertama ini, Google hanya memberhentikan karyawan yang bekerja di proyek eksperimental. Apple pun dirumorkan telah melakukan PHK terhadap karyawannya yang bekerja di lini marketing terdepan iphone karywawan  non-musiman di saluran ritelnya seperti yang bekerja di bestbuy.

Sundar Pichai, CEO, Google-Alphabet sejak 2019, mengatakan dalam memo pada hari Jumat bahwa dia "bertanggung jawab penuh" atas keputusan yang menyebabkan PHK.

Pichai mengambil tindakan tidak populer tersebut karena ditekan oleh para pemegang saham yang menginginkan terjadi efisiensi dalam operasional perusahaan.

Aktivitas google dalam periklanan adalah sumber pendapatan utama Alphabet. Namun akhir-akhirnya pengguna google mendapatkan persaingan serius dari Tiktok dan Instagram sehingga youtube mulai kehilangan pamornya.

Dengan pengurangan staf Alphabet, PHK di empat perusahaan teknologi terbesar AS berjumlah 51.000 pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir. Jumlah ini akan double di kuartal pertama seiring dimulainya resesi 2023 nanti.

Bila perusahaan bigtech tersebut ancang-ancang, bagaimana perusahaan konvensional seharusnya bersikap?


Resesi ekonomi 2023 tidak dapat dihindari disebabkan penanganan Covid19 yang ceroboh melalui penerbitan global bond besar-besaran oleh berbagai pemerintahan negara di Dunia.

Resesi 2023 ibarat sebagai obat (remedy) akibat cetak uang besar-besaran baik untuk memproduksi vaksin maupun memberikan bantuan sosial kepada publik di seluruh dunia.

Pemulihan ekonomi akibat Covid seharusnya bisa terjadi cepat paska dibebaskannya mobiltias sosial dibeberapa negara. Namun karena ekonomi terbesar kedua China sengaja melakukan pengetatan sosial melalui Zero Policy Covid maka permintaan dunia tidak dapat pulih segera sesuai harapan.

Ditambah, terjadi perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan krisis ekonomi imbas Covid makin besar dampaknya.

Indonesia Harus Bersiap


Beberapa ekonom Indonesia, mengatakan bahwa sumbangan perdagangan dunia kepada ekonomi hanya 25 persen sehingga resesi 2023 tidak akan berdampak terlalu buruk.

Namun mereka, ekonom tersebut lupa bahwa resesi 2023 tersebut tidak hanya memukul sisi demand saja. Sisi suplay termasuk ketersediaan pembiayaan untuk pembangunan Indonesia juga akan terdampak.

Indonesia mengandalkan pembiayaan dari penerbitan SUN untuk membiayaai APBN. Bayangkan bila terbitnya SUN tidak dibeli oleh global karena mereka merasa investasi overseas harus ditahan dulu untuk melihat bagaimana arah resesi 2023 nanti.

Perusahaan konvensional pasti terdampak juga. Mereka yang mengandalkan keuntungannya dari demand perdagangan retail akan mengalami penyusutan.

Beban utang perusahaan tersebut juga semakin besar karena bunga utang semakin naik seiring naiknya suku bunga kebijakan central bank. Oleh karena itu satu-satunya harapan mereka adalah stimulus fiskal dari pemerintah.

Apa daya, ternyata pemerintah juga tidak bisa diandalkan karena tidak punya cash untuk membiayaai belanja APBN.

Sektor riil-retail, sektor fiskal dan sektor keuangan adalah sektor yang akan terpukul dari Resesi 2023 ini.

Dunia Butuh Tatanan Internasional Baru


Krisis resesi 2023 yang memukul ketiga sektor tersebut adalah unprecedented dalam sejarah ekonomi sejak Perang Dunia ke-2.  

Oleh karena itu, tidak ada game changer dari krisis resesi 2023 ini selain perubahan mendasar dari tatanan ekonomi internasional. Aturan lama seperti Internasionalisasi dollar, breton woods dan globalisasi akan runtuh. Dunia akan bingung sementara tatanan ekonomi baru belum juga muncul.

Penulis adalah Kepala Studi Ekonomi Politik UPN Veteran Jakarta, yang juga pakar kebijakan publik

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya