Berita

Dunia

Beijing dan Ilmuwan Asing Berkomentar soal Pembatasan Pelancong Asal China

KAMIS, 05 JANUARI 2023 | 07:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan Pemerintah Jepang untuk membatasi kedatangan asal China di tengah melonjaknya angka kasus Covid-19 mendapat reaksi dari Beijing.

Seperti AS, Jepang telah meningkatkan kontrol perbatasan yang menargetkan pelancong dari China. Mereka mengatakan pihaknya butuh hasil tes yang lebih ketat dari pengunjung negara itu.

Menurut laporan NHK, seluruh kedatangan China saat ini diwajibkan melakukan tes antigen sederhana setibanya di Jepang. Mereka yang dites positif diharuskan tinggal di fasilitas karantina.


Menanggapi langkah-langkah baru Jepang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan negaranya selalu percaya bahwa untuk langkah-langkah respons Covid harus berbasis sains dan proporsional.

"Mereka tidak boleh digunakan untuk manipulasi politik, tidak boleh ada tindakan diskriminatif terhadap negara tertentu, dan tindakan tidak boleh mempengaruhi perjalanan normal dan pertukaran serta kerja sama orang-ke-orang," kata Mao, seperti dikutip dari Global Times, Rabu (4/1).

Langkah Jepang mengikuti keputusan Pemerintah AS serta negara-negara anggota Uni Eropa, di mana komite kesehatan blok itu mengatakan pada Selasa bahwa negara-negara anggota menyetujui pendekatan terkoordinasi untuk situasi Covid-19. Sebagian besar negara UE mendukung pengenalan pengujian Covid pra-keberangkatan untuk pelancong dari China.

Beberapa ilmuwan asing tidak mendukung pembatasan perjalanan baru pada pelancong dari China yang menurut mereka tidak perlu dan tidak akan menghentikan penyebaran virus, mengingat variannya telah menyebar ke seluruh dunia.

“Pembatasan perjalanan sebagian dapat menghambat impor dan penyebaran virus. Namun, dalam ekonomi global saat ini, negara tertutup tidak mungkin dilakukan,” kata Kaio Kitazato, ahli virologi dari Departemen Ilmu Biomedis di Universitas Nagasaki.

"Selama ada pergerakan orang, tidak mungkin sepenuhnya menghindari impor virus jika pembatasan perjalanan hanya diberlakukan di negara tertentu," lanjutnya.

James Wood, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Penduduk Universitas New South Wales, menggemakan pandangan ini. Menurutnya, dia tidak yakin bahwa pembatasan perjalanan akan berdampak signifikan pada penyebaran kasus dari China ke negara lain.

Hal serupa diungkapkan Jeffrey Shaman, seorang ahli epidemiologi di Universitas Columbia. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak percaya pembatasan perjalanan akan membantu menghentikan bahaya yang diklaim oleh beberapa negara.

"Karena virusnya sudah ada di mana-mana dan seperti yang ditunjukkan varian lain, mereka berpindah-pindah," ujarnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya