Berita

Rupee Pakistan/Net

Dunia

Cadangan Devisa Pakistan Anjlok ke Level Terendah dalam Sewindu

SELASA, 03 JANUARI 2023 | 13:12 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Cadangan devisa Bank Negara Pakistan anjlok ke level terendahnya dalam delapan tahun terakhir di penghujung tahun 2022, dan diperkirakan akan terus turun pada kuartal pertama tahun 2023.

Seperti dimuat Dawn pada Minggu (30/12), cadangan devisa Pakistan telah tercatat mengalami anjlokan terbesarnya sekitar 294 juta dolar AS (Rp 4,5 triliun). Kini Pakistan dikabarkan hanya memiliki cadangan devisa sebesar 5,8 miliar dolar AS (Rp 90 triliun) yang mereka punya.

Kemerosotan ini telah memicu banyak kekhawatiran karena akan menimbulkan masalah baru dalam pembayaran kembali utang luar negeri Islamabad yang sangat besar. Beberapa analis dan ahli pun percaya bahwa negara tersebut akan memasuki kondisi hampir gagal bayar, karena keadaan ekonominya yang suram.


Sementara itu, dalam menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Pakistan Ishaq Dar telah membantah dan menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengalami gagal bayar atau default.

Meskipun kenyataan di lapangan berbanding terbalik, dan hampir tidak ada pernyataan yang mendukung pernyataan Ishaq.

Semenjak pergantian pemerintahan Islamabad pada 2022 kemarin, cadangan devisa Pakistan tercatat terus menurun hingga penghujung tahun, dengan arus masuk keuangan yang terlalu sedikit untuk dapat membayar utang luar negerinya yang besar selama periode itu.

Ketika kepemimpinan baru berganti dari Imran Khan, Pakistan mengantongi cadangan devisa sebesar 10,5 miliar dolar AS, dan kini cadangan tersebut telah anjlok sekitar 50 persen pada awal tahun ini.

Ketakutan akan gagal bayar yang diprediksi akan dialami Pakistan juga dikuatkan dari ketidakstabilan nilai tukar mata uang asing, yang telah menggerus nilai mata uang lokal, khususnya dollar AS.

Pada April lalu, satu dolar AS mendapatkan nilai tukar sebesar 180 Rs (Rp 33 ribu) di Pakistan, namun kini nilai tersebut telah mencapai 226 Rs (Rp 42 ribu) untuk hanya satu dollar yang pasar antar bank terima.

Lebih buruk lagi ketika pasar abu-abu ilegal mulai muncul di negaranya, yang menawarkan satu dolar AS untuk 260-270 Rs. Perbedaan tarif yang signifikan ini pun sudah mulai mempengaruhi pengiriman uang yang datang melalui saluran perbankan resmi dengan arus masuk yang menunjukkan tren penurunan.

Menurut seorang bankir, nilai tukar yang lebih rendah di Bank Negara telah memicu pengalihan ke pasar abu-abu ilegal. Sehingga pengiriman uang di Pakistan akan kehilangan pengirimannya sebesar 300 juta dolar dalam sebulan.

Pertumbuhan ekonomi yang semakin buruk ini juga telah memangkas investasi asing langsung di negara tersebut, yang membuat semua pemangku kepentingan merasa khawatir atas cadangan devisa negaranya yang rendah.

Mereka mendesak menteri keuangan untuk mengumumkan bahwa dia telah mengatur pembayaran untuk pelunasan utang, agar investasi tidak takut untuk masuk ke negaranya.

Sementara itu, baik China maupun Arab Saudi sejauh ini belum mengumumkan bahwa mereka akan membantu menyelamatkan Pakistan dari keadaan gagal bayarnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya