Berita

Peneliti senior LIPI, Muhamad Haripin ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Korea-ASEAN Solidarity Initiative: Epicentrum of Peace and Prosperity in the Indo-Pacific yang digelar oleh Kantor Berita Politik RMOL di Universitas Pertamina pada 20 Desember 2022/RMOL

Suara Mahasiswa

ASEAN-AOIP dan ASEAN-KASI: Serangkaian Agenda-Misi di Dalamnya

OLEH: AZELIA SYIFA WELLANTARI*
SELASA, 27 DESEMBER 2022 | 13:23 WIB

APABILA membayangkan dengan salah satu dialog antar tokoh di dalam buku "Tzukuri Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya", di mana Sarah menanyakan kepada Tzukuri apakah dia sudah menemukan keseimbangan antara dirinya dengan sekeliling namun respon yang dibalas oleh Tzuruki justru dia acuh dengan "keseimbangan" tersebut. Mungkin jika Sarah menanyakannya kepada Korea Selatan, jawaban yang akan diterima Sarah sudah tidak lagi tentang ketidakpedulian, namun jawaban berbeda dari negara tersebut.

Karena mungkin jawaban dari Korea Selatan, “Iya. Kami sedang mengusahakan untuk menciptakan keseimbangan antara diri kami sendiri dengan sekeliling, terlebih di Asia Tenggara.”

Mengapa saya bisa membayangkan percakapan lucu tersebut? Hal ini terlihat dengan kondisi antara ASEAN dan Korea Selatan yang disampaikan oleh Bapak Muhammad Haripin (Seminar Internasional Korea-ASEAN Solidarity Initiative: Epicentrum of Peace and Prosperity in the Indo-Pacific yang digelar oleh Kantor Berita Politik RMOL di Universitas Pertamina pada 20 Desember 2022) mengenai usaha getol oleh Korea Selatan dalam mendekati negara-negara di Asia Tenggara terlebih di ASEAN.


Alasan di balik usaha Korea Selatan mendekati ASEAN bukanlah alasan yang dinilai hanya bermain-main saja. Namun hal ini adalah respon dari beberapa faktor penting yang salah satu di antaranya adalah hasil survei responden public policy beserta masyarakat ASEAN yang menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak melihat Korea Selatan sebagai negara yang dianggap menjadi mitra alternatif selain US ataupun Tiongkok, ataupun negara yang memiliki kuasa besar dalam mempengaruhi politik maupun strategis di ASEAN.

Sehingga dari hal tersebut, Korea Selatan dan ASEAN menciptakan mitra kerjasama seperti Korea-ASEAN Solidarity Initiative, dan juga disambut baik oleh ASEAN sendiri.

Selain itu, Korea Selatan juga menemukan kesamaan security point atau poin-poin pembahasan keamanan penting dengan ASEAN yang sekiranya juga menunjukkan keserasian mereka di ranah global untuk menjadi kawan mitra yang lebih akrab.

Seperti di antaranya concern mengenai politik kontestasi strategis antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, concern dengan kasus semenanjung Korea, kasus Myanmar (yang dinilai merupakan kasus yang cukup serius), dan kasus-kasus lain sebagainya.

Namun meskipun ASEAN memiliki hubungan baik dengan mitra alternatif (seperti Korea Selatan, Jepang, dsb) ataupun aktor non-negara regional lainnya, ASEAN sendiri memiliki guideline khusus untuk menjelaskan prosedur ataupun mekanisme apabila aktor-aktor luar tersebut ingin memiliki interaksi dengan ASEAN. Guideline ini dinamakan dengan AOIP atau ASEAN Outlook Indo-Pacific yang sudah menjadi diskusi sejak tahun 2019.

Di dalam materinya, Bapak Muhammad Haripin lebih dalam menjelaskan mengenai draft diskusi lanjutan dari AOIP yang fokus terhadap pertahanan maritim seperti pelatihan bersama dan pertukaran informasi maritim baik antar sesama negara di dalam ASEAN ataupun ASEAN dengan aktor luar.

Draft diskusi AOIP Defence adalah draft AOIP yang dinilai lebih mengerucut dibandingkan draft besar AOIP resminya. Dikarenakan AOIP sendiri membahas hal-hal luas selain maritim (sosial-kultural).

Karena di tahun 2023 Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk serangkaian kegiatan ASEAN, tentu Indonesia tidak dapat melupakan pembahasan terkait keamanan itu sendiri. Hal ini dikarenakan keamanan sudah menjadi pembahasan yang lebih mendalam diantara negara ASEAN (bahkan hingga munculnya draft AOIP Defense).

Pembahasan keamanan yang sudah dijelaskan oleh Bapak Muhammad Haripin dan akan dibahas dalam agenda ASEAN 2023 di antaranya capacity building di antara tentara, baik di dalam internal ASEAN ataupun tentara di aktor-aktor luar, penguatan militer angkatan darat dalam menangani kasus kesehatan global (based dari peristiwa COVID-19), dan yang paling penting tentunya adalah pembahasan mengenai keamanan maritim.

Dari penjelasan tersebut, sehingga dapat ditemukan titik temu yang menjadi prospek menguntungkan atau positif antara ASEAN dengan AOIP ataupun ASEAN dengan Korea Selatan itu sendiri di dalam KASI.

Seperti di antaranya adalah, baik ASEAN-AOIP ataupun ASEAN-KASI masing-masing memiliki misi untuk mengkonkretisasi pembahasan agar suatu hasil pembahasan dapat diimplementasikan, memaksimalkan industrialisasi pertahanan karena melihat dari empiris Korea Selatan yang dinilai menjadi alternatif penyedia stok senjata terbesar, dan yang terakhir membuat baik ASEAN dan Korea Selatan sama-sama saling bersinergi untuk tidak menjadi salah satu aktor negara yang memiliki blok dengan salah satu sisi (bebas blok).

*Penulis adalah mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya