Berita

Dunia

Rusia Optimis Bisa Penuhi Permintaan Minyak Hingga 500 Juta Ton pada 2023

SENIN, 26 DESEMBER 2022 | 06:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Rusia tetap optimis akan dapat memproduksi setidaknya 490-500 juta ton minyak pada tahun 2023.

Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan pada Minggu (25/12) bahwa di tengah serangan sanksi Uni Eropa, negaranya bisa tetap menikmati peningkatan permintaan. Banyak negara yang sangat bergantung pada minyak dan gas Rusia.

Namun, Novak memperingatkan, meskipun sanggup memenuhi permintaan tersebut, Rusia tidak akan mengirimkan minyaknya ke negara-negara yang mendukung pembatasan harga. Oleh karenanya Rusia perlu mengurangi produksinya sampai dengan 8 persen.


“Saya tidak mengesampingkan risiko penurunan produksi pada periode tertentu di tahun 2023. Kami mungkin akan menguranginya hingga 7-8 persen. Namun demikian, kami akan memproduksi setidaknya 490-500 juta metrik ton sepanjang tahun," ujarnya, seperti dikutip dari TASS.

Ia juga memperingatkan, keputusan Uni Eropa untuk menetapkan batas harga gas Rusia akan membuat Eropa sendiri semakin kesulitan. Keputusan itu akan memicu krisis dan destabilisasi jangka panjang yang mendalam di kawasan itu.

“Keputusan terbaru tentang pembatasan harga gas, sekali lagi, menunjukkan bahwa rekan-rekan Barat kita tidak dipandu oleh akal sehat. Mereka memperoleh keuntungan jangka pendek tetapi hanya politik, bukan ekonomi. Untuk jangka panjang perspektif, keputusan ini hanya memprovokasi krisis jangka panjang yang mendalam dan destabilisasi di Eropa," katanya.

Embargo pengiriman minyak Rusia ke Uni Eropa melalui laut mulai berlaku pada 5 Desember. Negara-negara UE juga menyetujui batas harga yang diatur untuk minyak Rusia yang dipasok melalui laut pada level 60 dolar AS per barel.

Mereka juga melarang perusahaannya menawarkan layanan transportasi, keuangan, dan asuransi, kepada kapal tanker yang mengirimkan minyak dari Rusia dengan harga melebihi batas harga yang disepakati.

Kremlin telah menyerukan penolakan tegas terhadap keputusan sewenang-wenang itu. Rusia tidak akan pernah menerima batasan harga apa pun pada sumber daya energinya. Saat ini, Kremlin sedang mempertimbangkan langkah balasan.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya