Berita

Dunia

Tolak Kebijakan Taliban, 60 Persen Profesor Mengundurkan Diri sebagai Pengajar di Kampus

SABTU, 24 DESEMBER 2022 | 10:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Aparat Taliban nampak berjaga-jaga di pintu masuk sebuah universitas di Kabul, menghalangi langkah beberapa mahasiswi yang datang pagi itu.

Semenjak pemerintah Taliban menetapkan larangan sekolah bagi mahasiswa perempuan, penjagaan di jalan-jalan dan di pintu masuk kampus nampak semakin intens. Seorang mahasiswi mengaku terkejut. Dia tahu soal larangan itu, tetapi tidak mengira bahwa itu akan benar-benar terjadi, dan hari itu dia tidak bisa menginjakkan lagi kakinya di kampus, tempat ia menempuh cita-citanya.

Wajahnya pucat, sedih, dan hampir menangis.


Pada Jumat (23/12), mahasiswi mulai mengosongkan asramanya. Aparat Taliban mulai mengawasi asrama, memastikan bahwa semua mahasiswi telah pergi.

Sehari sebelumnya, jalan-jalan di kota Kabul diramaikan dengan aksi pengunjuk rasa dalam jumlah kecil yang memprotes larangan pendidikan bagi mahasiswa perempuan. Bahkan, puluhan mahasiswa laki-laki dan beberapa pengajar ikut meninggalkan kelas untuk bergaung dalam aksi protes.

Mereka menunjukkan solidarisnya terhadap penderitaan mahasiswi yang dipaksa meninggalkan pendidikannya.

Obaidullah Wardak, seorang profesor di Universitas Kabul menyatakan ia akan berhenti mengajar sebagai bentuk protesnya. Menurutnya, larangan pendidikan perempuan “tidak adil dan tidak bermoral.”

"Saya tidak ingin terus bekerja di suatu tempat di mana ada diskriminasi terorganisir terhadap gadis-gadis lugu dan berbakat di negara ini oleh mereka yang berkuasa," katanya dengan marah.

Yang mengejutkan baginya adalah pernyataan Menteri Pendidikan Taliban  yang menyatakan bahwa saat ini banyak mahasiswi yang pergike kampus dengan tidak mengenakan jilbab dengan benar. Mahasiswi banyak yang mengejar mata pelajaran sains yang tidak sesuai dengan “ budaya Afghanistan ”, katanya.

"Kami mengatakan kepada gadis-gadis untuk memiliki jilbab yang tepat tetapi mereka tidak melakukannya dan mereka mengenakan gaun seperti mereka akan pergi ke upacara pernikahan," kata Menteri Pendidikan Nida Mohammad Nadim, seperti dikutip dari Independent.

Menurut Nadim, anak-anak perempuan boleh saja belajar pertanian dan teknik, tapi ternyata itu tidak sesuai dengan budaya Afghanistan. Anak perempuan harus belajar, tetapi tidak di daerah yang bertentangan dengan Islam dan kehormatan Afghanistan. Pemahaman utama para pemberontak tentang Islam adalah aliran Deobandi, yang dikenal sebagai varian dari Islam Hanafi yang didirikan pada pertengahan abad ke-19.

Larang perempuan dari perguruan tinggi akan ditelaah kembali, tetapi saat ini larangan itu berlaku sampai ada keputusan final.

Saat ini, sekitar 60 profesor yang bekerja di berbagai universitas telah mengundurkan diri dari pekerjaan mereka sebagai pengajar. Mereka menyatakan tidak ingin mendukung ketidakadilan  bagi perempuan di negara itu.

Sampai saat ini, Jumat (23/12), tentara Taliban terlihat terus mengawasi di sekitar universitas dan tidak mengizinkan orang-orang  berkumpul untuk mencegah keributan.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya