Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Ancaman Gocapan

RABU, 21 DESEMBER 2022 | 04:30 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TAHUN ini tidak happy ending bagi GoTo. Harga sahamnya, di pasar modal, Anda sudah tahu: seperti tahu dipukul palu. Tinggal Rp 97/saham di penutupan Jumat lalu. Bahkan sempat tinggal Rp 94. Pun Rp 82. Beberapa menit.

Dan Senin kemarin masih turun lagi: Rp 87 /lembar. Mungkin akan ada usaha tertentu agar tetap di kisaran itu. Agar tidak jatuh menjadi saham gocapan. Siapa tahu.

Penyebabnya pun Anda sudah tahu: sejumlah besar saham yang dulu dilarang diperjualbelikan, sudah boleh dilepas ke pasar.


Jumlah saham jenis itu mencapai ratusan miliar lembar. Pemiliknya pun Anda sudah tahu: ada perusahaan Singapura, Tiongkok, lembaga investasi dan sedikit Boy Thohir. Sedikit ukuran GoTo itu 1 miliar lembar. Kurang dari 1 persen.

Tapi manajemen Gojek-Tokopedia (GoTo) tenang saja. Orang pasar modal, tidak kagetan oleh turun naiknya harga saham. Pun bila harga itu terjun bebas tinggal kurang dari 29 persennya. Dari Rp 338/saham di awal IPO jadi Rp 97 Jumat lalu. Padahal sehari setelah IPO tanggal 11 April 2022, saham GoTo sempat naik jadi Rp 388.

Rupanya, begitu umur IPO GoTo mencapai 8 bulan, 30 November 2022, larangan jual itu berakhir. Para pemegang saham itu melepas saham mereka. Bahkan sejak 28 November, 2 hari sebelum batas itu, harga saham GoTo sudah mulai anjlok.

Semua pemain pasti sudah hitung: bakal ada pelepasan saham besar-besaran setelah tanggal 30 November. Dalam jumlah ratusan miliar saham. Sebelum jatuh beneran ada yang sudah mulai turun tangga. Harga pun jatuh beneran. Sampai 11 hari berturut-turut. Berhenti sebentar turun lagi. Sampai Jumat lalu.

Begitu dalamnya jurang itu sampai BEI (Bursa Efek Indonesia) memasukkan GoTo dalam UMA: unusual market activity.

Maka berakhirlah hiruk-pikuk GoTo. Gegap gempita pun padam. Sejarah tinggal sejarah: inilah IPO terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Sampai 2 persen dari GDP Indonesia. Gemparnya mirip ledakan gunung Tambora. IPO-nya di pasar modal Jakarta, gempanya sampai di New York.

Hari itu, kata 11 April 2022, GoTo dapat uang baru sekitar Rp 160 triliun. Dalam sehari. Silau saya seperti mata menatap matahari pada jam 12.00 siang.

Ketika belakangan harga saham GoTo nyungsep, medsos penuh dengan gosip GoTo. Mulai dari siapa pemilik saham itu, berapa triliun rupiah Telkom rugi, berapa besar gaji manajemennya sampai mengapa OJK belum turun tangan.

Telkom selalu bilang belum bisa dibilang rugi. Investasi Telkom di GoTo memang besar. Sekitar Rp 6,4 triliun. Yakni untuk membeli saham sebanyak 23,7 miliar lembar. Rupanya hati itu Telkom (lewat Telkomsel) dapat diskon khusus. Dari harga IPO Rp 338/lembar, cukup membeli dengan Rp 276/lembar.

Ketika harga saham GoTo sempat naik jadi Rp 388 di tanggal 12 April 2022, Telkom untung sekitar Rp 2 triliun. Tapi Telkom tidak bisa menjual saham di tanggal itu. Saham yang dibelinya saham diskon. Tidak boleh dijual selama 8 bulan.

Sayangnya ketika masa penahanan 8 bulan itu lewat, harga saham GoTo tinggal Rp 97/lembar. Telkom rugi sekitar Rp 4 triliun.

Untung Rp 2 triliun tadi hanya di atas kertas. Rugi Rp 4 triliun tadi juga di atas kertas. Yang jelas di tutup buku tahun ini aset Telkom turun sekitar Rp 3 triliun dari seharusnya. Ini tidak lagi di atas kertas.

Tentu Telkom harus menunggu harga saham itu naik lagi.

Kapan?

Tidak ada yang tahu. Tahun ini GoTo masih rugi sekitar Rp 23 triliun. Kalau ditambah kerugian lama, total kerugiannya mencapai Rp 100 triliun.

Tapi menurut CEO GoTo Andre Sulistyo, kerugian besar tahun ini lebih banyak akibat stock base compensation. Tenang saja. Bukan kerugian tunai.

Bagaimana menjelaskan ini? Mudah. Berarti GoTo membayar gaji pimpinannya dengan dua cara: sebagian dibayar dengan uang, sebagian lagi dibayar dengan saham.

Gaji bulanan mereka, kata Andre, dibayar tidak melebihi umumnya perusahaan besar. Itu yang dalam bentuk uang. Pengeluaran gaji pimpinan GoTo, selama 9 bulan tahun ini, sebesar Rp 22,9 miliar. Berarti sebulan sekitar Rp 1,5 miliar. Dibagi untuk sekitar 10 orang.

Wajarlah gaji itu: sekitar Rp 150 juta/bulan/orang. Bahkan kurang besar. Terutama untuk ukuran perusahaan yang pernah bisa dapat uang Rp 160 triliun dalam sehari.

Itulah sebabnya para pimpinan tersebut masih mendapat gaji dalam bentuk stock base compensation (SBC). Kompensasi berbentuk saham. Mereka diberi saham. Nilainya, konon mencapai sekitar Rp 11 triliun. Dibagi, mestinya, untuk sekitar 10 orang itu.

Saham jenis ini termasuk yang tidak boleh dijual selama diperjanjikan. Mungkin selama 4 atau 5 tahun. Tujuannya: supaya pimpinan perusahaan bekerja keras untuk menaikkan harga saham.

Saya tidak tahu Rp 11 triliun itu didasarkan pada harga saham berapa. Anda juga tidak tahu. Mereka yang tahu. Bisa saja angka Rp 11 triliun itu sekarang juga tinggal 25 persennya.

Stock base compensation itu beda dengan ESOP (Employee Stock Option Plan). Karena bentuknya compensation, maka Rp 11 triliun itu, harus dibukukan sebagai pengeluaran.

Pencatatannya pun harus dilakukan di tahun pertama. Yakni saat kompensasi itu dilaksanakan. Maka di catatan buku GoTo mestinya ada pengeluaran Rp 11 triliun tahun ini. Pengeluaran bukan tunai. Padahal kompensasi itu bisa jadi dikunci selama 5 tahun.

Ini berbeda dengan ESOP. Di ESOP pimpinan dan karyawan memang dapat saham, tapi bentuknya option. Maka dicatatnya di pembukuan di kolom equity. Begitulah sistem akuntansi harus mencatatnya

Anda beli saham GoTo? Nilainya turun?

Anda tentu rugi. Tapi juragan GoTo mungkin rugi lebih besar. Nilai perusahaan itu di awal IPO mencapai sekitar Rp 400 triliun. Kini tinggal Rp 97 triliun. Inilah uang Rp 97 triliun yang menuliskannya pakai kata "tinggal".

Maka jangan gundah. Anda bisa tetap tersenyum dengan humor ini: ketika Anda beli jeruk di pinggir jalan sebanyak 5 kg dan ternyata masam, si penjual masih bisa menghibur Anda. "Anda hanya beli 5 kg. Kami ini lho beli 1 ton masam semua".

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

UPDATE

Makna Filosofi Lampion Waisak 2026, Simbol Pencerahan, Harapan, dan Kedamaian

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:58

Standarisasi Kemasan Rokok Dinilai Berpotensi Merugikan Pedagang Kaki Lima

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:43

Soal Opini Bahlil yang Sebut Kurban Wajib bagi Setiap Muslim, Ini Respons Komisi Fatwa MUI

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:27

Harga Minyak Dunia Anjlok ke 92 Dolar AS

Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:07

Rupiah Melemah, Biaya Liburan di Indonesia Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:36

Penyidik Dalami Dokumen Ekspor Sawit, Kasus Under Invoicing Terus Bergulir

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:24

IHSG di Akhir Mei 2026 Tertekan, Asing Net Sell Jumbo Rp8,5 Triliun

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:16

Bukan Sekadar Kurban, Begini Cara Galeri 24 Sampaikan Makna Berbagi di Hari Raya

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:12

Harga Emas Antam Melonjak Rp25.000 di Akhir Mei 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:03

Opini Bahlil di Kompas Disoal: Tidak Tepat Samakan Kurban dengan Zakat Fitrah

Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:47

Selengkapnya