Berita

Salamuddin Daeng/Net

Publika

Bersih Itu Harus dari Uangnya, Setelah Itu Cara Mengelolanya

RABU, 23 NOVEMBER 2022 | 09:45 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

Para pembantu Presiden Jokowi harus ngeh

MEMANG transisi energi (TE) ini tidak cocok dengan mekanisme bank  konvensional,. Mobilisasi dana masyarajat menawarkan bunga, lalu investasi di iklim. Ini jatuhnya akan mahal. Selain itu bank itu bersifat tertutup, dan bankers itu ekslusive, untuk diri sendiri.

Transisi energi ini memang harus dijalankan oleh lembaga investasi milik negara, disuntik dengan APBN dan harus disertai dengan kemampuan mencari sumber pendanaan iklim yang tepat.


Sehingga Sri Mulyani tawarkan PT. SMI, dan itu dibolehkan, tetapi ketahuan bahwa SMI ini bancakan oligarki, maka disertakan persyaratan lain, inclusive dengan peta jalan penutupan pembangkit batubara secara konsisten, serta tidak ada biodisel sawit dalam hal ini. Karena sawit itu merusak lingkungan.

Selain itu SMI telah terindikasi berhubungan dengan dana-dana kotor yang tidak transparan yakni seperti SWF, soft bank, tax amnesty yang terindikasi menjadi tempat buang hajat para bandit keuangan yang basisnya eksploitasi energi kotor terutama batu bara.

Makanya di G20 sendiri dalam memuluskan jalannya transisi energi mereka mempersyaratkan digitalisasi, yang tujuannya adalah transparansi keuangan, tidak ada aliran uang dari sumber sumber kotor untuk pembiayaan iklim.

Kalau transparan dan terbuka nanti procurement-nya akan dimakan oleh asing barang impor dan seterusnya. Memang itu masalah dari dulu. Tapi harus tau bahwa tiga agenda G20 kemarin adalah isu yang mendapat pengecualian dari seluruh perjanjian internasional yang binding di bawah WTO, dengan demikian maka negara dapat mengembangkan local content untuk penanganan Covid-19, digitalisasi, dan transisi energi.

Pembatasan oleh negara terkait tiga isu tersebut negara dapat memberlakukan negatif list, membatasi konten inpor, dan menjalankan subsidi, semuanya tidak dapat digugat ke WTO.

Semua alasan sudah ditetapkan yakni keselamatan umat manusia, bukan kepentingan sempit negara masing-masing.

Penulis adalah Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya