Berita

Salamuddin Daeng/Net

Publika

Para Bandit Batu Bara Indonesia Akhirnya Disuntik Mati dengan Dana 20 Miliar Dolar AS

KAMIS, 17 NOVEMBER 2022 | 11:15 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

DUA tahun lagi presiden Jokowi akan menjabat, mewariskan komitmen dalam tujuh tahun ke depan akan menutup pembangkit batu bara lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Inilah yang dihasilkan oleh pertemuan G20 Bali Indonesia Presidency. Suntik mati pembangkit batu bara dengan uang 20 miliar dolar AS dari konsorsium internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Jepang.

Kesepakatan akan memajukan emisi puncak hingga 2030
Indonesia menetapkan tujuan nol-bersih di sektor ketenagalistrikan

Indonesia menetapkan tujuan nol-bersih di sektor ketenagalistrikan
Program berdasarkan rencana COP26 Afrika Selatan.

Dana ini akan dikelola oleh Kemitraan Transisi Energi Indonesia (JETP), yang direncakan rampung dalam satu tahun "mungkin merupakan satu-satunya transaksi atau kemitraan keuangan iklim terbesar yang pernah ada", seorang pejabat Departemen Keuangan AS mengatakan kepada wartawan.

Untuk mengakses program hibah dan pinjaman lunak senilai 20 miliar dolar AS selama periode tiga sampai lima tahun, Indonesia telah berkomitmen untuk membatasi emisi sektor listrik sebesar 290 juta ton pada tahun 2030, dengan puncaknya pada tahun itu. Sektor publik dan swasta masing-masing telah menjanjikan sekitar setengah dari dana tersebut.

“Indonesia berkomitmen untuk menggunakan transisi energi kita untuk mencapai ekonomi hijau dan mendorong pembangunan berkelanjutan,” kata Presiden Joko Widodo dalam sebuah pernyataan. "Kemitraan ini akan menghasilkan pelajaran berharga bagi komunitas global."

Darimana Dananya?

Amerika Serikat dan Jepang memimpin upaya bersama Indonesia atas nama negara demokrasi G7 lainnya, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, serta mitra Norwegia, Denmark, dan Uni Eropa.

Bank pembangunan multilateral dan Dana Investasi Iklim akan menyumbang sekitar sepertiga dari 10 miliar dolar AS dana publik untuk JETP Indonesia, kata kepala CIF Mafalda Duarte kepada wartawan. CIF telah mengalokasikan sekitar 500 juta dolar AS untuk membantu transisi energi Indonesia.

Jepang sendiri telah mengumumkan akan membantu transisi Indonesia dari tenaga batu bara melalui lembaga publik dan swasta, termasuk Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang berafiliasi dengan negara.

Selanjutnya Asian Development Bank (ADB) dan produsen listrik swasta pada hari Senin mengumumkan rencana untuk membiayai kembali dan pensiun dini pembangkit listrik tenaga batu bara 660 megawatt di provinsi Jawa Barat, kesepakatan pertama di bawah program pembiayaan pengurangan emisi karbon baru ADB.

Pejabat Departemen Keuangan dan Luar Negeri AS mengatakan setengah dari $20 miliar akan datang dari sektor swasta, dengan tujuh bank global yang berpartisipasi: Bank of America (BA.N) Citigroup Deutsche Bank (DBKGn.DE), HSBC (HSBA.L), Standard Chartered (STAN.L), Macquarie (MQG.AX) dan MUFG.

Para pejabat AS mengatakan keuangan publik akan mencakup pinjaman lunak dan ekuitas, serta beberapa hibah.

Amerika Serikat akan bekerja dengan Indonesia untuk memetakan rencana 90 hari untuk mendirikan sekretariat untuk menjalankan inisiatif dan bagi Indonesia untuk mereformasi kebijakannya, seperti merampingkan perizinan dan menyiapkan proses pengadaan yang kompetitif untuk membuat target dapat dicapai.

Suntik Mati Batu Bara

Suntik dulu baru mati, mungkin itu maksud Menteri Luhut Binsar Panjaitan. Adanya suntikan dana 20 miliar dolar AS akan membuat ngiler. Sehingga tidak ragu-ragu lagi akan menyuntik mati seluruh pembangkit batubara yang sebagian besar milik oligarki yang menopang politik negara ini.

Dana ini akan diterima separuh oleh pihak swasta sehingga akan mempensiunkan separuh dari pembangkit batubara mereka. Oligarki pembangkit batubara dapat mengakses program hibah dan pinjaman lunak senilai 20 miliar Dolar AS selama periode tiga sampai lima tahun, Indonesia telah berkomitmen untuk membatasi emisi sektor listrik sebesar 290 juta ton pada tahun 2030, dengan puncaknya pada tahun itu.

Ini kerja lumayan oligarki Indonesia, delapan tahun mereka bersama presiden Jokowi menggenjot pembangunan pembangkit batubara melalui mega proyek 35 ribu megawatt. Proyek yang berhasil memasang kapasitas listrik 72 gigawatt.

Sementara kebutuhan puncak listrik nasional hanya 38 gigawatt. Jadi kalau seluruh pembangkit batubara swasta ditutup, maka sama sekali tidak ada masalah dengan listrik nasional. Tetap nyala.

Jadi suntik mati dan jangan sisahkan satupun. Ini eranya suntik menguntik mati. Mumpung presiden Jokowi dapat uang 20 miliar dolar AS dari Jepang, AS dan negara negara G7.

Ini adalah kebetulan yang baik bagi PLN, lepas dari kewajiban membayar 50 % listrik yang tidak terpakai atau terbuang percuma atau tidak terjual. Jadi pak LBP paham sudah bagaimana mancing uang yang banyak. Top markotoplah!

Penulis adalah Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya