Berita

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto dan Presiden Joko Widodo/Ist

Publika

Airlangga Sintesa Jokowi?

OLEH: LALU MARA SATRIAWANGSA*
SENIN, 07 NOVEMBER 2022 | 12:04 WIB

APA yang salah dengan antitesis? Diksi yang belakangan memicu polemik dalam perbicangan politik nasional beberapa hari terakhir ini. Sebagai bagian dari proses dialektika yang dipopulerkan filsuf Jerman, Friedrich Hegel, antitesis tentu baik diucapkan.

Antitesis dimaknai sebagai pertentangan, atau lawan dari tesis (pernyataan, pendapat teori yang dikemukakan). Dari pertentangan tesis-antitesis muncul lah sintesis sebagai titik temu, yang akan mendamaikan pendapat yang saling bertentangan. Begitu seterusnya.

Dalam sejarah suksesi kepemimpinan di Indonesia, narasi soal tesis-antitesis hampir pasti terjadi. Hal itu lumrah diucapkan, sebagai gagasan pembeda dari pemerintahan sebelumnya dan atau patahana.


Jam Terbang Tinggi

Indonesia akan melakukan suksesi kepemimpinan pada tahun 2024. Karenanya saat menghadiri acara peringatan ulang tahun Partai Golkar ke-58, minggu lalu, Presiden Jokowi mengingatkan Partai Golkar untuk tidak salah memilih calon presiden dan calon wakil presiden untuk ikut kontestasi pada Pilpres 2024.

“Tidak mudah untuk memimpin sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia,” tegas Presiden Jokowi. “Apalagi ke depan di prediksi dunia akan gelap akibat krisis ekonomi global ini."

Karenanya, Presiden yang dibutuhkan 2024 mendatang adalah tipe pemimpinan yang tidak sekedar melanjutkan yang baik dari pemerintahan sebelumnya, tapi juga memiliki jam terbang yang tinggi dalam tata kelola pemerintahan. Jadi sintesa dari kepemimpinan sebelumnya.

Terlebih, ancaman Indonesia di tahun-tahun mendatang adalah persoalan ekonomi dan keamanan. Presiden Jokowi menjelaskan, bahwa saat ini sudah ada 14 negara yang menjadi “pasien” IMF. Dan ada 28 negara lagi yang sudah antre di depan pintu IMF menunggu giliran mendapatkan bantuan.

Resesi ekonomi dunia dipicu oleh inflasi yang tinggi akibat melesatnya harga pangan dan energi di sejumlah negara, khususnya Eropa dan AS. Kenaikan harga pangan dan energi dipicu oleh perang Rusia-Ukraina yang hingga saat ini jelas akapan akan berakhirnya. Kedua negara tersebut adalah pemasok pangan dan energi dunia dalam jumlah yang signifikan.

Ancaman dan tantangan ekonomi global di tahun mendatang kian pelik. Konon, wujudnya lebih besar dari krisis di 1998. Bencana ini bila mengutip istilah The Economist disebut Perfect storm. Krisis paripurna. Tentu ini menjadi sinyal pentingnya sosok calon pemimpin yang tidak hanya piawai di politik, tapi juga nyetel dengan sistem perekonomian nasional dan global.

Dan Presiden Jokowi memuji Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartatro sebagai pemimpin yang memiliki jam terbang yang tinggi. Lebih lanjut Presiden Jokowi mengatakan, sosok seperti Ailangga yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk menghadapi kondisi ekonomi global saat ini. Istimewa bukan. Ini kode keras buat Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Sintesa

Partai Golkar sejak awal mendorong Airlangga Hartarto sebagai capres 2024. Sosok yang dinilai tepat melanjutkan kepemimpinan Presiden Jokowi, juga mumpuni dalam menangani persoalan ekonomi yang diprediksi bakal menghantam Indonesia.  

Sebagai pembantu utama Presiden Jokowi, Airlangga yang menjabat Menko Perekonomian bersama Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjadi aktor penting dibalik kesuksesan Indonesia dalam penanganan Covid-19.

IMF sampai memuji pemerintah Indonesia berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan sektor keuangan di tengah pandemi. Indonesia dinilai mampu mengendalikan pandemi lebih baik dibanding negara-negara lain, dan pemulihan ekonominya diprediksi semakin cepat.  

Kesuksesan ini berkat kinerja makro ekonomi RI yang kuat, disertai respon kebijakan yang tegas dan menyeluruh. Diantaranya paket kebijakan yang digawangi Menko Airlangga, seperti dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), kebijakan moneter yang akomodatif, dan upaya peningkatan perluasan akses pembiayaan untuk mendorong kredit UMKM.

Belum lagi penanganan masalah kemiskinan, pengendalian inflasi-harga kebutuhan pokok, penyesuaian harga BBM, pemberdayaan UMKM hingga komoditas pertanian, semua di bawah kendali Menko Airlangga Hartarto.

Sampai sini, cukup alasan Airlangga Hartarto pantas didapuk sebagai suksesor Presiden Jokowi. Portofolionya lengkap. Menteri Koordinator bidang perekonomian, memimpin partai dengan perolehan kursi terbesar kedua di DPR RI, punya jam terbang tinggi di politik, dan dikenal moderat.

Airlangga sosok yang berkomitmen pada politik kesejahteraan dan kebangsaan. Dalam sambutannya di depan Presiden Jokowi yang bisa disebut sebagai “janji politik”-nya akan melanjutkan seluruh program pembangunan pemerintahan di era Presiden Jokowi.

“Karena Partai Golkar tahu bagaimana melanjutkan arah pembangunan Pak Presiden,” tegas Airlangga Hartarto disambut tepuk tangan hadirin, termasuk Presiden Jokowi.

Jadi, Airlangga Hartarto itu adalah sintesa Jokowi.

 Penulis adalah Wakil Sekretaris Dewan Pembina Partai Golkar

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya