Berita

Presiden Xi Jinping di acara kongres Partai Komunis Tiongkok/Net

Dahlan Iskan

Kerelaan Anda

MINGGU, 23 OKTOBER 2022 | 05:01 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MUKTAMAR Partai Komunis Tiongkok berakhir kemarin. Perubahan konstitusi tentang penghapusan pembatasan masa jabatan presiden diterima sebagai salah satu putusan.

Hanya itu berita yang keluar dari arena muktamar. Sepanjang hari kemarin ada lima judul berita di surat kabar di sekitar muktamar. Tiap judul isinya hanya satu alinea. Lebih pendek dari edisi terpendek Disway Rabu lalu yang 4 alinea.

Misalnya judul Muktamar Ke 20 Partai Komunis Tiongkok Berakhir. Isinya ya hanya itu. Atau judul Perubahan Konstitusi Diterima di Muktamar. Tidak ada informasi lain selain yang ada di judul itu.


Yang sedikit agak panjang berita mengenai ucapan selamat dari negara-negara lain. Umumnya dari negara Afrika. Disertai pujian atas sukses ekonomi Tiongkok selama 10 tahun terakhir.

Satu-satunya ucapan selamat dari negara Asia adalah dari Thailand. Mungkin baru hari ini negara lain menyusul. Biasanya negara-negara blok Barat tidak memberi ucapan selamat.

Memang selama 10 tahun masa jabatan Xi Jinping, GDP Tiongkok naik lebih 100 persen. Itu kalau dinilai dalam yuan. Yakni dari 47 triliun yuan menjadi 114 triliun yuan. Tidak ada negara lain yang GDP-nya bisa naik dua kali lipat seperti itu.

Lihatlah angka capaian Xi Jinping ini:

Tahun 2012, ketika mulai menjabat presiden, GDP Tiongkok USD 6.301.

Tahun 2022, di akhir masa jabatan kedua Xi Jinping, GDP Tiongkok mencapai USD 12.000. Persentase pertumbuhan dalam dolar memang sedikit rendah dibanding dalam yuan.

Saya perlu mengutip pertumbuhan GDP Indonesia selama 10 tahun terakhir. Sekadar untuk melihat begitu cepatnya kenaikan GDP Tiongkok.

Tahun 2012, GDP Indonesia USD 3.694 triliun. Tahun 2021 menjadi USD 4.349 triliun. Bahkan GDP tahun 2022 ini mungkin turun sedikit. Apalagi kalau kurs rupiah terhadap dolar terus merosot. Besaran GDP dalam dolar pun menurun.

Kalau dalam lima tahun ke depan pertumbuhan GDP Tiongkok masih sama, maka secara statistik, ekonomi Tiongkok sudah mengalahkan Amerika.

Capaian ekonomi Tiongkok lebih mewarnai berita media dibanding capaian muktamar partai. Di tengah muktamar itu, berita paling besar adalah apa yang dicapai BYD. Perusahaan mobil Tiongkok itu mencatatkan diri sebagai pendatang baru di Fortune 500 Amerika.

Fortune adalah majalah ekonomi Amerika yang dipercaya reputasi baiknya. Majalah itu tiap tahun mengeluarkan daftar 500 perusahaan publik terbesar di dunia. Dulu tidak satu pun perusahaan dari Tiongkok yang bisa masuk Fortune 500. Satu per satu perusahaan Tiongkok ke dalamnya. Awalnya hanya di urutan bawah-bawah. Lama-lama kian naik peringkatnya dan kian banyak jumlahnya.

Kini Tiongkok mendominasi daftar 500 perusahaan terbesar itu. Dulunya dominasi itu oleh perusahaan Amerika Serikat dan Inggris. Atau Jepang.

Kini Tiongkok menjadi negara terbanyak dalam menempatkan perusahaan di Fortune 500. Dari 500 perusahaan itu yang 145 dari Tiongkok. Berarti tahun ini menjadi 146.

Dari Amerika tinggal 124. Dari Jepang 47 dan dari Jerman 28. Dari Inggris tinggal 18. Padahal Inggris adalah salah satu pusat keuangan dunia.

Walmart dan Amazon masih ranking 1 dan 2, tapi ranking 3,4, dan 5 sudah diduduki perusahaan Tiongkok.

Jadi, Anda pun harus merelakan Xi Jinping mendapatkan apa yang ia inginkan: periode ketiga sebagai Presiden Tiongkok. Anda tidak boleh keberatan. Apalagi sampai mengirim komentar penolakan atas periode ketiganya itu.


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya