Berita

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo/Net

Publika

Momentum Kapolri Melahirkan Korps Pembinaan (Anggota) Polri dan Masyarakat

SABTU, 15 OKTOBER 2022 | 07:21 WIB | OLEH: HENRYKUS SIHALOHO

PERSIS 4 bulan seminggu sebelum Joko Widodo menjadi Presiden RI, di “Kolom” detikNews pada 13 Juni 2014, Penulis menekankan pentingnya mengubah perilaku masyarakat yang menyimpang secara menyeluruh dan mendasar melalui pendampingan dengan memanfaatkan ilmu penyuluhan pembangunan (baca: Catatan untuk Revolusi Mental Jokowi dan Trisakti Bung Karno).

Menyusul kasus Ferdy Sambo, dalam tulisan di RMOL.ID dan MyNews.Id 1 September 2022, Penulis memastikan pembenahan Polri ke depan yang akan dilakukan oleh Kapolri sesuai Presisi yang beliau canangkan adalah dengan menyeimbangkan soft skill dan hard skill anggota Polri (baca: Penyeimbangan Soft Skill dan Hard Skill Anggota Polri).

Dalam tulisan pertama di atas, Penulis menekankan bahwa ini selaras pula dengan revolusi mental yang digaungkan oleh Presiden Jokowi sejak 2014 dan menginspirasi tulisan yang Penulis buat lebih dari 8 tahun silam tersebut.


Secara substantif kedua tulisan memuat kata kunci pentingnya melakukan revolusi mental: yang satu merevolusi mental masyarakat, yang lain merevolusi mental Polri.

Dalam tulisan 1 September 2022 itu, Penulis mengusulkan agar Kapolri menambahkan direkorat pengembangan karakter anggota Polri dalam Korps Pembinaan Masyarakat (Korbimas) Baharkam Polri yang kini masih membawahi 2 direktorat, yakni Direktorat Pembinaan Ketertiban Masyarakat Baharkam Polri dan Direktorat Pembinaan Potensi Masyarakat Baharkam Polri.

Bila usul ini diterima nama Korbimas seyogianya berganti menjadi Korps Pembinaan (Anggota) Polri dan Masyarakat (Korbinpolmas). Sekarang keberadaan Korbinpolmas menjadi semakin penting diwujudkan menyusul kejadian Kanjuruhan 1 Oktober 2022 dan penjemputan Irjen TM terkait kasus jual beli narkoba oleh Divisi Propam Polri.

Bencana Susulan dan Tulah

Di balik berita bencana tsunami yang ditimbulkan oleh kasus Ferdy Sambo dengan 2 “gempa” susulan yang sangat berdekatan (tragedi Kanjuruhan dan penangkapan Irjen TM) yang kini melanda Polri, sebenarnya berita sore tadi yang disampaikan Kapolri sendiri mengandung isi yang menggembirakan, yakni sedang berprosesnya dengan cepat upaya Kapolri untuk melahirkan Polri yang prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan (Presisi) dan humanis.

Perintah Kapolri kepada Kadiv Propam Irjen Pol Syahar Diantono untuk menjemput dan memeriksa Irjen Pol TM sejatinya bermakna sebagai upaya bersih-bersih Kapolri yang sigap, serius, dan segera.

Dua hari pascatragedi Kanjuruhan, Penulis mendorong Kapolri untuk menjadikan tragedi tersebut sebagai momentum untuk meneladani keberanian Hoegeng saat menangani kasus Sum Kuning (baca: Momentum Kapolri Jenderal Listyo Meneladani Hoegeng).

Penulis salut, mendahului Tim Gabungan Independen Pencari Fakta mengumumkan hasil investigasinya, 10 Oktober 2022 yang lalu Kapolri langsung mencopot Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan menunjuk Irjen Pol TM yang sore tadi menurut Kapolri akan dibatalkan promosinya karena ditengarai terlibat kasus jual beli narkoba.

Pada tempatnya Penulis memberi apresiasi yang tinggi terhadap upaya bersih-bersih Kapolri yang sigap, serius, dan segera. Meski efek kejutnya luar biasa, namun ini berjangka pendek.

Hemat Penulis, seperti saran Penulis pada 1 Sepetember 2022 yang lalu, Kapolri tetap perlu menambahkan direkorat pengembangan karakter anggota Polri dalam Korps Pembinaan Masyarakat (Korbimas) Baharkam Polri yang kemudian pascapenambahan direktorat tersebut berubah nama menjadi Korbinpolmas.

Penambahan direktorat ini berefek jangka panjang dan bisa menghasilkan output dan outcome yang optimum dengan percepatan yang lebih tinggi bila Polri bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi penyuluhan pembangunan seperti yang ada di IPB (IPB University) sejak 1975.

Dari sudut pandang seorang akademisi yang berlatar belakang magister komunikasi dan doktor penyuluhan pembangunan, menurut Penulis kita harus memperluas makna kata “prediktif”.

Secara operasional, bila “prediktif” dirangkai dengan preemptif dan preventif, nilai prediktif bisa jauh lebih tinggi. Artinya, upaya preemptif yang dilakukan Polri dengan membangun jiwa anggota Polri dan masyarakat dengan proses internalisasi nilai-nilai atau norma-norma yang baik, luhur, dan mulia (soft skill) yang akan merevolusi mental anggota Polri bakal melahirkan anggota Polri yang berintegritas, yang menjauhkan diri dari perbuatan nista, tercela, dan biadab.

Seperti Penulis kemukakan sebelumnya, terkait tindakan preventif, Polri dapat melakukannya antara lain dengan patroli 24 jam (termasuk patroli siber) dan kerja-kerja intelijen yang terukur, prediktif, dan profesional (misalnya dengan tidak menghabiskan waktu memata-matai masyarakat yang kritis).

Tindakan preventif juga dilakukan dengan segera merespon aduan, keluhan, masukan, dan curahan hati masyarakat dengan transparan dan berkeadilan dan kemudian menanganinya secara terintegrasi, modern, mudah, dan cepat.

Keberhasilan Polri melahirkan anggota Polri yang Presisi dan humanis yang antara lain dilakukan dengan penambahan direktorat pengembangan karakter anggota Polri akan tampak manakala masyarakat tidak lagi melihat praktik percaloan, beking-bekingan, penyuapan, dan perbuatan nista dan tercela lainnya yang dilakukan oleh oknum Polri (termasuk dalam hal penerimaan gratifikasi).

Pengembangan karakter anggota Polri seyogianya tidak hanya melibatkan internal Polri (seperti Lembaga Pendidkan dan Pelatihan Polri), tetapi juga eksternal Polri seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, Kementerian Agama RI, Komnas HAM RI, Lemhanas, BNN, BIN, BNPT, organisasi nonpemerintah, dan lain-lain hingga tokoh-tokoh masyarakat.

Ada keuntungan lain yang bisa dipetik Polri dari penambahan direktorat yang dimaksud.

Pertama, penambahan direktorat ini akan menghilangkan kesan Polri menempatkan masyarakat sebagai subordinatnya sehingga perlu mendapat pembinaan dari Polri.

Kedua, direktorat ini berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dan bersama-sama dengan Polri melahirkan Polri yang Presisi dan humanis.

Inilah momentumnya. Jangan lagi menunggu datangnya tulah seperti yang pernah ditimpakan Tuhan kepada bangsa Mesir sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran dan Alkitab.

Penulis adalah Doktor Penyuluhan Pembangunan dari Institut Pertanian Bogor; dosen Universitas Katolik Santo Thomas, Medan

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Ketika Seekor Ayam Lebih Berharga dari Nyawa Seorang Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 00:21

Disoal Kader, Pergantian Pengurus AMPI Langgar Aturan Organisasi?

Senin, 27 Juli 2026 | 00:20

Inilah Skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

Senin, 27 Juli 2026 | 00:00

Program Pembangunan Prabowo Memperhatikan Aspek Keberlanjutan

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:29

Gaza for Israel Jika Kita Tetap Diam

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:20

‘API’ Jaringan Umat

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:01

Pakar Hukum: Tersangka Korupsi Bisa Ditetapkan Meski Belum Diperiksa

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:45

Kaesang Pilih Dapil Neraka Lawan Puan, Kejar Legitimasi atau Sensasi?

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:37

Kapitra Ampera Labeli Febrie Adriansyah Maling Gede

Minggu, 26 Juli 2026 | 22:14

ICW Dapat Bocoran Timses Prabowo-Gibran Sodok Posisi Gantikan Ketua Ombudsman RI

Minggu, 26 Juli 2026 | 21:50

Selengkapnya