Berita

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry/Net

Dunia

Kyiv Desak Negara-negara Afrika Bersikap Netral dalam Konflik Rusia-Ukraina

SELASA, 11 OKTOBER 2022 | 08:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah Ukraina meminta negara-negara Afrika untuk meninggalkan sikap netral mereka terkait perang dengan Rusia dan ikut mengutuk referendum empat wilayah yang berujung pada aksesi oleh Moskow.

Permintaan tersebut disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba dalam 'Pesan untuk Bangsa-Bangsa Afrika' yang diterbitkan di situs web kementerian pada Senin (10/10).

“Dukungan Afrika dibutuhkan sekarang lebih dari sebelumnya," tulis Kuleba, mengungkapkan bahwa dia mempersingkat tur lobi ibu kota Afrika untuk kembali ke rumah setelah serangan rudal Rusia di Kyiv dan kota-kota lain.


"Negara-negara Afrika (harus) berdiri dengan hukum internasional, integritas teritorial, dan perdamain, tidak hanya dengan mengutuk serangan di Kyiv, Odessa, Dnepr, Kharkov, Rovno, Lviv, dan Ivano-Frankovsk, tetapi juga dengan menentang dengan suara di PBB atas aksesi wilayah-wilayah bekas Ukraina oleh Moskow," tulisnya.

Meskipun telah melakukan berbagai upaya, nyatanya Kyiv sejauh ini mengalami kesulitan meyakinkan para pemimpin Afrika tentang perjuangan bersama mereka.

Deklarasinya bahwa Rusia menyandera benua itu dan entah bagaimana bertanggung jawab atas sanksi yang dijatuhkan padanya oleh negara-negara NATO, sehingga membahayakan pasokan makanan global, sebagian besar tidak didengarkan.

Hanya setengah dari negara-negara Afrika yang mendukung resolusi Majelis Umum PBB bulan Juni yang mengutuk tindakan Rusia di Ukraina, dan tidak ada yang bergabung dalam sanksi yang dipimpin oleh AS dan Eropa.

Sebaliknya, Ketua Uni Afrika Macky Sall mengeluh bahwa sanksi anti-Rusia telah mempersulit benua itu untuk membayar pupuk dan biji-bijian yang sangat dibutuhkannya, sementara Eropa mampu membuat celah untuk dirinya sendiri.

PBB berencana untuk memberikan suara minggu ini pada resolusi yang menyatakan referendum dan aneksasi empat wilayah oleh Rusia sebagai sesuatu yang tidak sah.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya