Berita

Sekretaris Fraksi PPP DPR RI, Achmad Baidowi/RMOL

Politik

Setuju Konversi Kompor Gas ke Listrik Ditunda, Achmad Baidowi: Di Konstituen Saya Masih Pakai Kayu Bakar

SELASA, 27 SEPTEMBER 2022 | 16:02 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Penundaan program konversi kompor gas ke listrik disambut baik oleh sejumlah kalangan masyarakat. Pasalnya, program tersebut dianggap kurang adil bagi masyarakat menengah ke bawah yang aliran listriknya masih di bawah 900VA.

Menurut Sekretaris Fraksi PPP DPR RI, Achmad Baidowi, penundaan yang program konversi kompor gas ke listrik yang dilakukan pemerintah sudah sangat tepat. Namun, jika program tersebut dijalankan nanti maka pemerintah tidak boleh memberatkan rakyat.

“Kalau pemerintah hari ini menunda ya kami sepakat, terus apakah kami tidak setuju kompor listrik? Kami setuju. Demi perbaikan lingkungan kita, blue energy kita kembangkan kita setuju, high energy yang ramah lingkungan kita setuju. Masalahnya, jangan sampai memberatkan kepada masyarakat,” kata Achmad Baidowi di Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (27/9).


Lanjut Awiek, sapaan akrabnya, pemerintah harus melihat infrastruktur kompor listrik yang mampu menelan uang negara cukup besar. Pun soal tidak tidak samanya daya listrik masyarakat di kelas atas, menengah, dan bawah.

"Ya itu dia, lihat infrastrukturnya kompor listrik kan mahal itu. Daya listriknya di setiap masyarakat itu tidak sama. Kalau kami misalkan di RJA itu 1.300 aman saja, tapi bagaimana di kampung? Dayanya 450VA, listriknya dialirkan ke 3 KK? Setengah kompor listrik saja itu, enggak nyala itu,” tuturnya.

"Jadi, selain kompornya mahal, kemampuan daya listriknya itu harus benar-benar terjamin,” tambahnya.

Anggota Komisi VI DPR RI ini mengatakan kebijakan konversi kompor gas ke listrik ini tidak boleh membebani ekonomi masyarakat dan pemerintah harus mencarikan spesifikasi kompor listrik yang murah dan hemat energi.

“Ya kira-kira kalau listriknya itu enggak terlalu banyak nyedot lah. Yang kedua, keberadaan kompornya sendiri, barangnya itu bisa didapatkan dengan mudah dan murah. Didapatkan dengan mudah tapi mahal? Ya kan hanya orang-orang tertentu,” katanya.

"Kalau di kampung-kampung? Apalagi kami di  konstituen di desa itu yang fakta hari ini banyak yang pakai kayu bakar, boro-boro pindah ke kompor listrik, orang masih pake kayu bakar. Kompor gas saja belum, terus ke listrik ini kan pasti berat,” tutupnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya