Berita

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo/Net

Publika

Pergaulan Bangsa-bangsa

SABTU, 10 SEPTEMBER 2022 | 08:34 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

MEWARISKAN pembangunan infrastruktur di mana-mana secara cepat, progresif, dan revolusioner mempunyai konsekuensi yang berat bukan hanya terhadap peningkatan akumulasi utang-piutang ke masa depan, melainkan merupakan pintu masuk terhadap okupansi bangsa lain ke dalam negeri.

Keserbabolehan dalam modernisasi pemikiran arus investasi bangsa-bangsa, migrasi besar-besaran masuk ke dalam negeri, dan akulturasi budaya merupakan konsekuensi penting dari perubahan akibat membuka diri secara liberal ke dalam pergaulan bangsa-bangsa.

Sejarah pra kemerdekaan NKRI membuktikan bahwa pangeran-pangeran muda dan putra mahkota, yang menjalin hubungan dagang dengan bangsa-bangsa yang lebih modern dari Eropa, kemudian menjadi pintu masuk terhadap sejarah panjang tentang degradasi dan demoralisasi kebanggaan kebudayaan kerajaan-kerajaan besar di nusantara ketika itu.


Masuknya perdagangan rempah-rempah oleh Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol, selanjutnya perdagangan tekstil dengan Gujarati dan kesultanan Turki, maupun perdagangan sutera dan keramik dari China, maupun masuknya armada tempur Khubilai Khan telah mendegradasi kemajuan kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Sriwijaya, kerajaan Pajajaran, dan kerajaan Majapahit.

Akibatnya, dari semula sebagai bangsa pelaut yang mempunyai kemampuan armada tempur yang amat sangat besar, kemudian mengungsi pindah total menjadi kerajaan-kerajaan yang pindah ke pedalaman-pedalaman.

Sungguh mirip dengan kondisi kepindahan warga lokal secara bertahap ke luar menuju pinggiran batas negara. Mengungsi dari pusat-pusat kekuatan dan kemakmuran kota menuju menjauh ke pedalaman.

Artikulasi bahasa yang digunakan adalah pemerataan pembangunan dari sentralisasi Jawa Sentris menuju desentralisasi pembangunan ke luar Jawa. Pembangunan hingga menjadikan batas terluar negara menjadi halaman depan negara. Pindah dari gemerlap ibukota negara Jakarta menuju Ibukota Nusantara. Jakarta menjadi udik.

Secara subyektif dan kurang pergaulan, perubahan arah pembangunan nasional dan kedaerahan sebagai konsekuensi dari bergaul dengan bangsa-bangsa yang lebih maju di tingkat bangsa-bangsa di dunia, adalah pengulangan terhadap deakulturasi budaya bangsa pelaut menjadi kerajaan daratan, yang semakin menjauh menyingkir ke daerah-daerah yang lebih terisolasi.

Kedatangan Xi Jinping yang hendak duduk berdampingan dengan Joko Widodo untuk meresmikan dimulainya modernisasi Kereta Cepat Jakarta Bandung, adalah secara prejudisme negatif mengenai momentum dimulainya percepatan akumulasi permodalan saudara tua nenek moyang bangsa dari negeri Yunan.

Pembangunan visi tol laut menjadi tol darat, telah mengingatkan secara negatif terhadap pembangunan jalan tol percepatan pengangkutan hasil bumi dan pengerahan pasukan gerak cepat Thomas Stamford Raffles dari Anyer ke Panarukan untuk percepatan penumpasan pemberontakan.

Strategi hilirisasi dan percepatan pembangunan smelter dan gerakan nasionalisasi divestasi perusahaan multinasional tidak lebih dari usaha membangun kesadaran penyusutan daya beli saham atas kepemilikan sumber daya alam, menuju akhir tetesan terakhir.

Peneliti Indef, yang juga pegajar Universitas Mercu Buana

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

UPDATE

Jejak Bakti Jenderal Sigit di Pelosok Negeri Bukti Pujian Presiden bukan Pepesan Kosong

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:27

Presiden Tiba di Kompleks Parlemen, Disambut Ketua DPD dan Ketua MPR

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:24

Sidang Tahunan 2026 Dipersingkat Mengejar Waktu Salat Jumat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:21

Jokowi Hadiri Sidang Tahunan MPR, Megawati Absen

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:19

Harga Minyak Dunia Turun 2 Persen

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:19

LSAK: Maraknya OTT KPK Isyaratkan Darurat Reformasi Sistem Pilkada

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:17

Pasar Karbon Berpotensi Tarik Investasi Hijau

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:08

Saham Nokia Naik 3,31 Persen, Prospek Bisnis AI Jadi Perhatian

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:08

Pengamanan Diperketat Jelang Sidang MPR-DPR, Rantis dan Helikopter Disiagakan

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:02

Pilkada Tanpa Wakil Kepala Daerah untuk Hindari Konflik Kepentingan

Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:00

Selengkapnya