Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Suami Bakar Istri di Depok Akibat PTSD

SABTU, 03 SEPTEMBER 2022 | 12:37 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

"Suami pembakar istri terdeteksi pelariannya. Tinggal tangkap," kata Kasat Reskrim Polres Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno ke pers, Jumat, 2 September 2022. "Sebaiknya menyerahkan diri."

Pelaku inisial LN (33) membakar istrinya, EL (27) di rumah mereka di Kelurahan Duren Seribu, Depok, Jabar, Minggu, 28 Agustus 2022 pukul 22.00.

Pembakaran disaksikan tiga anak mereka. Mengakibatkan EL luka bakar sekitar 40 persen pada wajah dan badan. Dia dirawat di RSUD Depok. Sedangkan LN melarikan diri.


Kronologi kejadian sudah dimuat di sini kemarin. AKBP Yogen hanya melengkapi, saksi yang diperiksa empat orang: "Ibu korban, anak korban, sepupu korban, sama teman korban."

Dari kesaksian mereka, penyidik mendapat beberapa tambahan. Antara lain, beberapa titik lokasi sembunyi pelaku. Lokasinya dirahasiakan.

Kronologi ringkas: Di hari kejadian, LN pulang pukul 18.00. Marah ke EL yang nonton YouTube di HP, sementara kondisi rumah ia nilai berantakan. Lantas, teman-teman EL datang, pesta miras di halaman depan rumah. Sampai pukul 22.00 semua mabuk, lalu bubar.

EL masuk rumah, marah lagi. Ditujukan ke anak sulungnya, usia 10. "Pelaku mengancam membakar anaknya. Tapi ibunya melindungi," ujar Yogen. Akhirnya El disiram tiner, dibakar. Pelaku kabur.

Meski pelaku kondisi mabuk, bukan jadi pemaaf kekejamannya. Mabuk justru membuat EL brutal.

Profesor Hung-En Sung, dalam bukunya "Alcohol and Crime", The Blackwell Encyclopedia of Sociology, American Cancer Society (2016) menyebutkan, pemabuk alkohol potensial jadi pelaku kriminal. Mabuk, selangkah lagi jadi penjahat.

Prof Sung, kriminolog yang Direktur di International Research Partnerships at John Jay College of Criminal Justice, New York, Amerika Serikat. Sehari-hari ia peneliti kriminologi.

Orang jadi pemabuk alkohol, akibat berbagai hal. Paling signifikan, ia pengidap Post-traumatic Stress Disorder (PTSD). Gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental. Muncul setelah seseorang mengalami atau melihat peristiwa yang bersifat traumatis.

Tapi, tidak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis, pengidap PTSD. Karena, selain mengalami atau melihat peristiwa traumatis, juga ada faktor lain sebagai penyebab.

Antara lain, riwayat gangguan mental pada keluarga (faktor genetik). Juga, kepribadian bawaan yang temperamental.

Orang dengan PTSD sekali waktu, bisa juga sering, berniat melarikan diri dari kegelisahan. Ketika niat itu datang, ia minum beralkohol. Sebagai pelarian. Dampaknya, ia mabuk, melupakan kegelisahan, sesaat.

Mabuk, membuat orang kehilangan (melemahnya) kontrol logika. Dan kehilangan empati. Bersikap agresif. Tidak bisa merasakan, apa yang dirasakan orang lain, atas tindakan dia.

Prof Sung: "Saat itulah kejahatan terjadi. Dilakukan pemabuk."

Kejahatan pemabuk, bisa beragam. Biasanya sudah direncanakan, ketika ia belum mabuk. Jadi sudah ada niat jahat. Tapi niat itu belum dilaksanakan, karena ia menunggu mabuk. Dengan mabuk, ia merasa enteng dan berani melakukan kejahatan.

Pemabuk pada dasarnya pengecut. Tidak berani melakukan agresi, sebelum mabuk. Ia sudah hapal efek alkohol, menghilangkan empati sosial. Dan logika. Maka, ia mabuk.

Paling sering, kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan anak. Prof Sung dalam bukunya, menyebutkan, kekerasan dalam rumah tangga di Amerika Serikat, sekitar dua per tiga dilakukan orang mabuk. Baik pelaku pria atau wanita.

Pemabuk berat, rata-rata di pesta miras. Sebab di situ ada semacam persaingan, atau adu kuat minum di antara peserta. Akibatnya peserta mabuk berat, dibanding peminum sendirian.

Di kasus Depok, LN, pegawai bengkel motor, ayah empat anak itu, sudah marah ke istri, sebelum LN mabuk. Penyebab marah soal sepele, isteri sedang nonton YouTube di HP.

Seumpama malam itu teman-teman LN sesama pemabuk tidak datang dan pesta miras di sana, bakal lain cerita. Belum tentu terjadi pembakaran.

Sesuai teori Prof Sung, pemabuk sesungguhnya pengecut. LN belum tentu berani menyiram tiner, membakar badan istri, teriak kesakitan, dalam kondisi ia tidak mabuk. Itu tindakan sangat mengerikan. Apalagi terhadap isteri.

Teori Prof Sung dan kasus Depok bisa jadi pelajaran kita. Kriminologi bertujuan dua: Mengapa kejahatan terjadi? Dan, bagaimana cara mencegah, agar kejahatan tidak terjadi?

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Giliran ASN dan Pejabat Bea Cukai Diperiksa KPK

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:56

Usulan ATM MBG Bakal Dibahas di Komisi IX DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:40

UPDATE

Penanganan Kabupaten Terdampak Gempa NTT Terus Difokuskan Kemensos

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:21

KPK Ungkap Pengondisian Pembagian Kuota Haji 50:50 Sebelum MoU RI-Arab Saudi

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:16

BNPB Perkuat OMC Tangani Karhutla di Kalimantan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:02

Iran Pamerkan Pabrik Rudal Balistik Bawah Tanah

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:26

Pasukan Darat dan Water Bombing Dikerahkan Padamkan Karhutla Kalsel

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:21

KPK Usut Dugaan Korupsi PBJ Era Bupati Bogor Rudy Susmanto

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:13

Prabowo dan Jokowi Hadiri Pernikahan Kasespri Rizky Irmansyah di JCC

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:07

Desa Sade Terbakar, Ini Sejarah dan Asal-usul Masyarakat Suku Sasak

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:52

Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Catat Jadwalnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:43

Karhutla Kalsel, Api Tak Terlihat tapi Gambut Masih Berasap

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:13

Selengkapnya