Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Genggaman Ketat dari Pemerintah China, Memicu Brain Drain di Sektor Pendidikan Hong Kong

KAMIS, 01 SEPTEMBER 2022 | 15:34 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah China yang kembali menegakkan sistem otoriternya di Hong Kong lewat undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan pada 2020 lalu, telah memicu ribuan guru meninggalkan pekerjaannya.

Pemerintah dikabarkan tengah gencar mengubah kurikulum di sekolah-sekolah dengan menyelaraskan pada ideologi dari Partai Komunis China.
Para guru sejak saat itu mulai diperintahkan untuk menanamkan sikap patriotisme pada siswa dan didesak untuk terus mematuhi undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan Beijing, undang-undang tersebut kerap kali membatasi kebebasan fundamental para guru dan sering mengkriminalisasi banyak perbedaan pendapat.

Siswa dan orang tua juga didorong untuk melaporkan guru yang mungkin melanggar aturan tersebut dalam proses pembelajaran.

Siswa dan orang tua juga didorong untuk melaporkan guru yang mungkin melanggar aturan tersebut dalam proses pembelajaran.

Dilansir dari Digital Journal pada Kamis (1/9), laporan terbaru dari pemerintah menunjukkan lebih dari 4.000 guru meninggalkan pekerjaan mereka pada tahun ajaran lalu, angka ini melonjak hingga 70 persen dari tahun sebelumnya dan disebut angka yang paling tinggi dalam lima tahun.

Sedangkan para siswa juga dikabarkan berbondong-bondong meninggalkaan sekolah mereka, dengan 30 ribu lebih sedikit yang menghadiri sekolah dasar dan menengah pada September 2021.

Menurut cerita Wong seorang guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajar selama lebih dari satu dekade mengungkapkan ia khawatir dirinya akan segera bergabung dengan eksodus guru dan siswa yang dipicu oleh pengetatan cengkeraman Beijing di Hong Kong. Ia pun mengaku pernah menerima surat teguran dari Biro Pendidikan Hong Kong tahun lalu karena bahan ajarnya di kelas yang menganalisis pro dan kontra pembangkangan sipil.

Sementara itu ia lebih lanjut mengatakan lima remaja dari kelasnya yang berjumlah 32 turut mengundurkan diri di tengah semester untuk beremigrasi. Guru veteran ini pesimis terhadap masa depan Hong Kong dalam sektor pendidikan karena keadaan yang memprihatinkan. Banyak sekolah-sekolah di Hong Kong yang saat ini dikabarkan tengah kekurangan murid serta tenaga pengajar.

“Para siswa pergi bukan karena mereka tidak menyukai sekolah, tetapi karena lingkungan Hong Kong,”ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Pendidikan Hong Kong membantah tuduhan tersebut, ia mengatakan saat ini sekolah-sekolah masih beroperasi dengan lancar, dan tidak kekurangan tenaga pengajar. Akan tetapi, survei mengatakan sebaliknya, sebanyak 140 sekolah menunjukkan setiap institusi rata-rata kehilangan 32 siswa dan tujuh guru selama setahun terakhir.
 
Surat kabar Ming Pao juga mengatakan setidaknya 200 sekolah masih mencari guru pada akhir Juli ini. Beberapa sekolah dikabarkan terpaksa mempekerjakan seseorang yang tidak kompeten di bidangnya.
 
Fenomena Brain Drain telah terjadi di sektor pendidikan Hong Kong, brain drain sendiri merupakan fenomena hengkangnya para kaum intelektual dan cendekiawan dari Hong Kong, beberapa dari mereka memutuskan untuk menetap di negara lain, karena dipicu faktor politik yang semakin kacau yang membatasi ruang gerak masyarakat serta minimnya kesempatan berkembang di wilayah ini.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya