Berita

Ilustrasi/Net

Politik

HMI Binjai: Dalam Lima Tahun Terakhir, Subsidi Energi Tidak Lebih Dari Rp 200 T

KAMIS, 01 SEPTEMBER 2022 | 00:34 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Kebijakan menyesuaikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar merukan hal dilematis bagi pemerintah. Tetapi, kebijakan itu perlu diambil untuk menekan pos anggaran pembiayaan subsidi.

Begitu dikatakan Ketua Umum GMNI Binjai, Windi Yolanda Tanjung dalam diskusi publik Cipayung Plus Kota Binjai bertema "Tepatkan BBM Naik di Situasi Ekonomi Rakyat yang Belum Stabil,".

Dia mengatakan, kebijakan penyesuaian subsidi BBM bisa menjadi masuk akal dan diterima jika melihat tren harga minyak dunia.


"Kalau melihat alasan mengapa subsidi harus dilakukan penyesuaian tentu masuk akal. Pertama karena pertimbangan harga minyak dunia yang di atas perkiraan yakni 105 dolar AS per barel," ujar Windi Yolanda.

"Termasuk juga tekanan APBN yang begitu besar karena dana alokasi subsidi yang terus membengkak," imbuhnya.

Hal tersebut diamini Ketua Umum KAMMI Binjai, Hari Wibowo. Membengkaknya dana subisidi, menjadi ironi karena subsidi BBM pada kenyataannya selama ini tidak tepat sasaran.

"Sekitar 80 persen konsumen BBM bersubsidi adalah masyarakat ekonomi menengah ke atas. Jelas ini sangat merugikan negara, karena sejatinya subsidi dieruntukkan bagi kalangan menengah ke bawah," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Binjai Nofrizal AN mengatakan, langkah pemerintah menaikkan tarif BBM harus disambut baik sebagai bagian dari antisipasi pembengkakan dana subsidi yang semakin tidak terkontrol.

"Karena pabila tren konsumsi ini dibiarkan, maka pemerintah terpaksa harus menambah anggaran sebesar Rp 195,6 triliun dari Rp 502,4. Sehingga totalnya menjadi Rp 698 triliun untuk subsidi energi," jelasnya.

Nofrizal pun membandingkan data terkait alokasi dana subsidi energi selama lima tahun terakhir yang bahkan tidak pernah melebihi Rp 200 triliun.

"Pada tahun 2018 subsidi sebesar Rp 153,5 triliun, 2019 sebesar Rp 144,4 triliun, 2020 Rp 199,9 triliun, 2021 Rp 188,3 triliun, 2022 sebelum perubahan sebesar Rp 152,5 triliun yang disesuaikan menjadi Rp 502,4 triliun," pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya