Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tokoh AS: Ukraina Secara Historis adalah Bagian Imperium Pengaruh Rusia, Untuk Apa Amerika dan Inggris Ikut Campur?

SENIN, 01 AGUSTUS 2022 | 07:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keterlibatan Inggris dan Amerika Serikat dalam konflik Rusia-Ukraina mendapat kritik tajam dari penulis konservatif AS Ann Coulter.

Berbicara kepada penyiar Inggris Piers Morgan, Coulter berpendapat bahwa AS dan Inggris memiliki masalah mereka sendiri dan seharusnya tidak mencampuri urusan Ukraina, yang menurutnya secara historis berada di bawah pengaruh Rusia. Coulter juga menyalahkan perluasan aliansi NATO untuk konflik saat ini.

"Setelah Uni Soviet jatuh, tidak ada gunanya NATO, dan kami, melanggar batas..., terus melanggar batas," kata Coulter mengacu pada ekspansi aliansi ke Eropa Timur sejak jatuhnya Uni Soviet, seperti dikutip dari AFP, Minggu (31/7).


Morgan, seorang pendukung setia Ukraina yang baru-baru ini mewawancarai Presiden Ukraina Vladimir Zelensky dan istrinya Elena, berpendapat sebaliknya, mengklaim bahwa operasi militer Rusia di Ukraina membuktikan “untuk itulah NATO ada di sana.”

"Maaf, Ukraina secara historis adalah bagian dari imperium pengaruh Rusia," balas Coulter.

“Saya tidak membela Putin… tapi mengapa orang Amerika harus peduli dengan ini? Kami memiliki masalah kami sendiri. Mengapa Inggris harus peduli dan ikut campur tentang ini?" ujarnya.

Ketimbang mengurusi Ukraina, Coulter mengatakan bahwa Inggris sebaiknya lebih fokus pada pengurangan imigrasi. Lagipula, kata Coulter, "Putin tidak menyerang Inggris."

Coulter dikenal karena anti-intervensinya, dan memberikan dukungannya kepada Donald Trump pada tahun 2016 setelah dia bersumpah untuk mengakhiri “perang tanpa akhir” Amerika.

Kurang dari seminggu setelah pasukan Rusia memasuki Ukraina pada Februari, Coulter meminta Partai Republik untuk berhenti berbicara tentang Ukraina.

Mengklaim bahwa dukungan Inggris untuk Ukraina pada akhirnya berarti lebih banyak uang untuk kontraktor pertahanan AS, dia meminta partai untuk melakukan sesuatu tentang inflasi, imigrasi, kejahatan, dan rasisme anti-kulit putih di sekolah.

“Partai Republik seharusnya berbicara tentang krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya di perbatasan kita, atau tentang orang asing ilegal yang mengangkut shabu dan fentanil ke negara kita, pencurian yang merajalela, pembajakan mobil, dan penyerangan yang menghancurkan lingkungan di negara kita,” tutup Coulter.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya