Berita

Para pengunjuk rasa memblokir jalan dan melemparkan batu di Conakry, Guinea pada Kamis 28 Juli 2022/VOA

Dunia

Protes Anti-Pemerintah di Guinea, Empat Tewas

SABTU, 30 JULI 2022 | 09:33 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Aksi protes anti-pemerintah hari kedua telah memakan korban jiwa di ibu kota Guinea, Conakry pada Jumat(28/7). Sedikitnya empat orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka akibat ditembak oleh aparat keamanan, menurut laporan dari koalisi oposisi.

Dikutip dari Reuters, protes dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap junta penguasa Guinea yang mengambil alih kekuasaan dalam kudeta pada September lalu, junta dianggap tidak cukup cepat dalam memulihkan pemerintah sipil.

"FNDC sangat terkejut dan marah dengan hilangnya nyawa manusia yang tercatat pada hari Jumat 29 Juli," kata Front Nasional untuk Pertahanan Konstitusi (FNDC) dalam sebuah pernyataan.


Empat kematian dilaporkan oleh kelompok pemantau dan anggota keluarga korban, beberapa orang terluka akibat tembakan yang lima di antaranya dalam kondisi kritis, tambahnya.
Sementara pihak berwenang belum buka suara terkait protes tersebut, namun menurut seorang aktivis hak asasi manusia yang bekerja sama dengan keluarga korban mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas dapat dipercaya.

Menurut informasi dari penduduk sekitar, pada Jumat malam pengunjuk rasa mulai bentrok dengan pasukan keamanan, mereka mengaku mendengar suara tembakan di beberapa lingkungan Conakry.

Pada hari sebelumnya, Ibrahima Diallo salah satu pemimpin FNDC telah mencatat satu kematian dan beberapa terluka, ia mengatakan kepada wartawan lebih dari 100 orang ditangkap kemudian dikirim ke kamp militer. Jaksa Agung Guinea saat ini memerintahkan penyelidikan yudisial terhadap mereka yang bertanggung jawab atas aksi pada hari Kamis tersebut yang menewaskan satu orang.
Polisi tidak mengkonfirmasi kematian itu. Namun laporan dari seorang senior polisi yang menolak disebutkan namanya mengatakan bahwa 88 orang terluka akibat aksi protes ini, termasuk 12 polisi.

Demonstrasi minggu ini dikabarkan merupakan protes besar kedua terhadap junta dalam beberapa bulan terakhir. Pemimpin kudeta dan Presiden sementara Mamady Doumbouya telah mengusulkan transisi 36 bulan ke pemilihan, yang kemudian telah ditolak oleh para pemimpin regional dan politisi oposisi. Hal ini lantas membuat berbagai pihak mengkritik usulan tersebut, mereka menganggap bahwa Presiden sementara terlalu lama mengulur waktu dalam memulihkan pemerintahan sipil. Menyusul kritik terhadap garis waktu 36 bulan, junta melarang semua demonstrasi publik beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, negara ini dipimpin oleh Presiden Alpha Conde, namun karena ia mencoba mempertahankan kekuasaan dengan mengubah konstitusi yang memungkinkan dirinya bisa kembali mencalonkan diri untuk lebih dari tiga kali masa jabatan, ia digulingkan oleh militer Guinea. Doumbouya mengambil alih pemerintahan setelah memimpin kudeta terhadap Presiden Alpha Conde pada 5 September lalu.

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Video Viral, Netanyahu Menyerah dan Flotilla Bebas

Senin, 25 Mei 2026 | 01:57

Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu per 1 Juni 2026 Hoax!

Senin, 25 Mei 2026 | 01:40

Euforia Bobotoh

Senin, 25 Mei 2026 | 01:20

Sugiono Dianggap Berhasil Terjemahkan Kerja Nyata Prabowo

Senin, 25 Mei 2026 | 00:59

Ini Tujuh Saran untuk Prabowo Realisasikan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 25 Mei 2026 | 00:40

Gubernur Lemhannas Minta Keberadaan BoP Dikaji Ulang

Senin, 25 Mei 2026 | 00:18

Edukasi Keuangan Bantu Mahasiswa Kelola Kantong Secara Sehat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:58

Golkar Jadikan MDI Instrumen Sosialisasi Program Prabowo ke Umat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:40

Prabowo Singgung Reshuffle Zulhas, PAN Terancam Tidak Digandeng Gerindra di 2029

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:19

Ekonomi Syariah dan Ekonomi Kerakyatan: Dua Tombak Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 | 22:43

Selengkapnya