Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kisah Seorang Tibet Di Pengasingan yang Tidak Memiliki Kewarganegaraan di Dunia

KAMIS, 28 JULI 2022 | 15:14 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Tenzin Jampa, adalah seorang pelajar Tibet yang lahir dan besar di India, kedua orangtuanya merupakan keturunan Tibet. Saat ini ia seorang sarjana di MIT, Cambridge, Amerika Serikat. Kepada Tibet Rights Collective (TRC) ia berbagi rasa sakitnya karena tidak memiliki kewarganegaraan di dunia. Berita ini dikutip dari Ani News pada Kamis(28/7).

Tibet adalah contoh utama dari fenomena abad ke-21 yang tidak memiliki kewarganegaraan di dunia. Jampa mengatakan Tibet hanya seperti legenda bagi dunia, untuk itu dia sering merasa gugup saat menjawab bahwa dia adalah seorang pengungsi Tibet yang tinggal di India.

"Ada satu pertanyaan yang saya takuti dengan setiap pertemuan baru yang datang dan itu adalah pertanyaan dari mana Anda berasal?" kata Jampa pada saat memulai wawancara itu. Ia mengaku tidak mempunyai jawaban yang kuat atas pertanyaan tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan jika menyebut dirinya sebagai orang Tibet, akan muncul pertanyaan kembali bahwa Tibet tidak lagi dianggap sebagai sebuah negara, dan itu sangat melukai perasaannya.


"Saya merasa sedih, dan putus asa. Saya berduka meskipun saya tidak menunjukkannya. Saya menangis tetapi jarang melalui mata saya. Saya hancur tetapi hanya di hati saya. Saya tahu, setidaknya, bahwa saya memiliki hak atas emosi ini. Saya memiliki emosi-emosi ini dan emosi-emosi ini muncul melalui diri saya. Jadi, dapatkah kesedihan saya membuktikan Identitas saya? Kesedihan ini. Penyakit yang tak berkesudahan ini. Keputusasaan dan kekecewaan yang selalu ada. Ini adalah rasa sakit saya, rasa sakit yang sepenuhnya milik saya atas penderitaan sesama saya, orang Tibet," ungkapnya.

Dalam wawancaranya ini, ia mengaku ingin merasakan mempunyai identitas seperti warga negara lain.

"Orang Amerika punya Amerika, orang Inggris punya Inggris, begitu juga orang India, India mereka, tapi apa yang orang Tibet punya? Kami tidak memiliki apa-apa selain pembicaraan kosong dan legenda masa lalu yang makmur dan bebas," kata Jampa.

Sementara itu ia mengatakan bahwa status orang Tibet sama dengan status pengungsi. Di antara kelompok tersebut huruf R(untuk pengungsi) menjadi kata yang populer bagi mereka.

“Kami memiliki pepatah di komunitas pengasingan bahwa kami dilahirkan dengan huruf R (untuk Pengungsi) terukir pada kami. Saya tidak tahu asal-usulnya atau dari mana dan kapan tepatnya saya mendengarnya. Sebagai seorang anak, Saya tidak pernah benar-benar memperhatikan dan memikirkannya secara mendalam. Tetapi ketika saya tumbuh, saya semakin memahaminya tentang pengasingan kita. Kondisinya. Hampir seperti tanda lahir, tato alami, huruf R ini tidak akan terlihat tetapi akan bertahan lama. Tidak ada yang akan melihatnya secara alami tetapi Anda akan melihat ke cermin dan melihat huruf R yang bertinta,".

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

UPDATE

Video Viral, Netanyahu Menyerah dan Flotilla Bebas

Senin, 25 Mei 2026 | 01:57

Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu per 1 Juni 2026 Hoax!

Senin, 25 Mei 2026 | 01:40

Euforia Bobotoh

Senin, 25 Mei 2026 | 01:20

Sugiono Dianggap Berhasil Terjemahkan Kerja Nyata Prabowo

Senin, 25 Mei 2026 | 00:59

Ini Tujuh Saran untuk Prabowo Realisasikan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 25 Mei 2026 | 00:40

Gubernur Lemhannas Minta Keberadaan BoP Dikaji Ulang

Senin, 25 Mei 2026 | 00:18

Edukasi Keuangan Bantu Mahasiswa Kelola Kantong Secara Sehat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:58

Golkar Jadikan MDI Instrumen Sosialisasi Program Prabowo ke Umat

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:40

Prabowo Singgung Reshuffle Zulhas, PAN Terancam Tidak Digandeng Gerindra di 2029

Minggu, 24 Mei 2026 | 23:19

Ekonomi Syariah dan Ekonomi Kerakyatan: Dua Tombak Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 | 22:43

Selengkapnya