Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Inflasi Tembus 7,3 Persen, Warga Selandia Baru Terpaksa Makan Siput Kebun

SENIN, 18 JULI 2022 | 12:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Inflasi tinggi membuat biaya hidup naik, dan semakin mencekik warga Selandia Baru. Untuk pertama kalinya dalam 32 tahun terakhir, Selandia baru mencatatkan inflasi tertinggi, menyentuh 7,3 persen.

Imbas dari inflasi ini membuat lonjakan besar pada harga makanan, bahan bakar minyak (BBM), hingga perumahan.

Harga makanan naik 6,5 persen dari tahun sebelumnya. Sementara harga bensin naik 32 persen dan solar 74 persen.


Menurut manajer umum Stats NZ, Jason Attewell penyebab utama inflasi di Selandia Baru adalah karena kenaikan harga konstruksi dan persewaan perumahaan.

“Masalah rantai pasokan, biaya tenaga kerja, dan permintaan yang lebih tinggi terus mendorong biaya pembangunan rumah baru,” kata Jason Attewell, dikutip dari The Guardian.

Akibat dari situasi ini, sebagian masyarakat Selandia Baru memesan bahan makanan dari Australia untuk menghemat anggaran. Beberapa dilaporkan terpaksa makan siput kebun dan tidak lagi menggunakan tisu toilet.

Bagi keluarga yang memang tidak memiliki uang bahkan harus kelaparan.

Sebuah artikel yang dirilis oleh Journal of the Royal Society of New Zealand menceritakan enam ibu tunggal yang terpaksa tidak makan agar anak-anak mereka tidak kelaparan.

“Semuanya naik tetapi pendapatan tidak naik. Dengan hidup yang sama, ada defisit,” kata Evans, warga Selandia Baru.

Pemerintah Selandia Baru berusaha mensiasati kenaikan biaya hidup yang cukup tinggi dengan memberikan subsidi transportasi.

Pada Minggu(17/7), pemerintah mengumumkan untuk terus memperpanjang setengah harga biaya transportasi dan pengurangan cukai bahan bakar serta biaya pengguna jalan sampai 2023 mendatang.

Subsidi ini awalnya hanya direncanakan untuk tiga bulan, tetapi harga yang terus melonjak membuat pemerintah terus berupaya lanjutkan program tersebut.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya