Berita

Petani kelapa sawit/Net

Politik

Pungutan Terlalu Besar, Pengusaha Minta Sri Mulyani Hapus Bea Keluar dan Pungutan Ekspor CPO

JUMAT, 15 JULI 2022 | 13:21 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Bea keluar dan pungutan ekspor CPO kian memberatkan bagi pengusaha di tengah belum pulihnya ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Atas alasan itu, pengusaha sawit mulai mendesak pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk menghapus bea keluar dan pungutan ekspor tersebut.

Salah satu yang lantang meneriakan tuntutan itu adalah Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatra Utara Alexander Maha.

Dia menilai tidak sedikit pengeluaran yang harus dirogoh pengusaha sawit. Contohnya per 1 Juli 2022, ada bea keluar senilai  288 dolar AS per ton CPO, pungutan ekspor 200 per dolar AS pe ton CPO, dan tarif tambahan flush out sebesar 200 dolar AS per ton CPO.


Jika ditotal, maka pengeluaran pengusaha untuk ekspor mencapai 688 dolar AS per ton. Artinya, pengusaha harus membayar pungutan sebesar Rp 10 ribu per kilogram CPO (asumsi 1 dolar AS sama dengan Rp 15 ribu).

“Jadi beban pungutan itu terlampau besar," ujarnya.

Di satu sisi, dia menjelaskan bahwa harga CPO dunia saat ini berada di kisaran 535 dolar AS per ton. Artinya, bea keluar yang harus dikeluarkan pengusaha lebih besar dibandingkan harga CPO yang dijualnya.

Sebagai pembanding tarif bea keluar ekspor CPO pada 1 Juli 2019 hanya sebesar 50 dolar AS per ton. Sedangkan harga CPO saat itu rata-rata 453 dolar AS per ton.

"Kutipan ekspor sangat membebani perusahaan, jumlahnya sangat tinggi,” sambung Alex.

Atas alasan di atas, Alex tegas meminta pemerintah segera mencari solusi atas permasalahan di sektor sawit. Dia meminta agar pemerintah bisa menghapus atau minimal memangkas kutipan ekspor. Paling tidak, sambungnya, hingga kondisi stok CPO di dalam negeri kembali normal.

"Kutipan ekspor segera dikurangi sampai stok CPO normal 3,5 juta hingga 4 juta ton per bulan," tutup dia sembari mengurai bahwa Stok CPO Indonesia mendekati 8 juta ton saat ini.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

Pergantian Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung Jadi Ujian Kekuatan Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10

UPDATE

Usulan PPPK Jadi ASN Pusat Sejalan dengan Komitmen Prabowo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:24

Emas Antam Terbang Rp20.000, Tembus Rp2,71 Juta per Gram Pagi Ini

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:23

Komisi III DPR Minta Penyebar Hoaks Kerusuhan Berbayar Diberantas

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:13

Bukan Cuma Hapus Konten, Penyebar Hoax Harus Diproses Hukum

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:07

Produk Newport Panen Kecaman, Promosi Tukar Hafal Ayat Suci dengan Miras

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:06

Puluhan Ribu Warga Padati Tunas Bumi Fest 2026 di Wonosobo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:05

Disambut Sholawat, Gus Yaqut Siap Hadapi Sidang Dakwaan Korupsi Kuota Haji

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:56

Pemulihan Ekosistem Harus Dilakukan Secara Serentak

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:54

Trump Media Tekor 238 Juta Dolar AS, Saham Ambruk 8 Persen

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:53

Ruang Amal Indonesia Siapkan 50 Warga Kurang Mampu Tembus Industri Tekstil

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:49

Selengkapnya