Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Pembunuh Sadis di Tangsel Terlacak Sinyal

RABU, 29 JUNI 2022 | 13:00 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

PEMBUNUHAN wanita SL (35) di kosan Tangerang Selatan, Sabtu, 25 Juni 2022, pukul 02.00 diungkap polisi sangat cepat. Hari itu juga terungkap. Berkat keterangan saksi, bahwa SL mengatakan sesuatu menjelang ajal. Sesuatu yang penting.

Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Sarly kepada pers, Sabtu (25/6) mengatakan, dua orang saksi melihat kondisi SL berdarah-darah, berjalan keluar kamar kos. Lalu terkapar.

Saat itulah SL mengatakan sesuatu yang penting.


AKBP Sarly: "Korban berkata: Tolong... maling cowok dari pintu belakang. Handphone saya diambil."

Setelah itu, SL meninggal dunia dalam perjalanan diangkut mobil milik tetangga, menuju RSUD Tangerang.

Kata 'handphone' jadi kunci pengungkapan kasus. Dan, tim polisi sudah tiba di TKP (atas laporan warga) belum sampai sejam dari pukul 02.00. Diprediksi, saat itu pelaku masih dalam proses melarikan diri. Membawa HP korban.

Maka, sinyal HP milik korban terpantau jelas oleh polisi. Lika-liku pelarian pelaku. Yang terus berpindah-pindah.

TKP pembunuhan di tempat kos Jalan Bhayangkara RT2/5, Kelurahan Pondok Jagung Timur, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan.

HP yang dicuri berhenti di rumah kontrakan Kampung Plered, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang.

Di situ polisi menangkap pria inisial S. Dengan HP Samsung J7 Pro warna hitam.

Diinterogasi keras, S langsung mengaku, bahwa ia membeli HP tersebut dari temannya, pria inisial AJL. Maka, tinggal selangkah lagi bagi polisi.

AJL selalu berpindah-pindah tempat. Namun pelariannya berakhir di rumah kontrakannya di kosan di RT 15/05 Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan.

TKP pembunuhan, rumah penadah, dan rumah pelaku, tidak jauh. Mbulet di sekitar Tangerang. Cuma berjarak dua-tiga kilometer.

AKBP Sarly: "Antara korban dan pelaku tidak saling kenal."

Wayne Petherick, dalam bukunya: "The Psychology of Criminal and Antisocial Behavior" (2017) menyatakan, mayoritas pembunuh adalah orang dekat korban. Atau setidaknya, orang yang dikenal korban.

Pembunuhan, yang antara pelaku dengan korban tidak saling kenal, sangat jarang. Di antara yang jarang itu adalah pembunuhan bermotif ekonomi, atau perampokan. Antara korban dengan perampok tidak saling kenal.

Atau, pembunuhan yang dilakukan pembunuh yang sakit jiwa. Bisa beragam. Ada sosiopat (jenis gangguan kepribadian yang perilaku dan pola pikir antisosial). Atau kanibalisme. Gila dan sadis.

Pembunuhan di Tangsel, jenis perampokan. Antara korban dengan tersangka tidak saling kenal, cocok seperti teori Wayne Petherick.

Penangkapan tersangka AJL pada Selasa, 28 Juni 2022, pukul 00.37. Tim dipimpin langsung Kapolres Tangsel, AKBP Sarly.

Dari jam penangkapan, polisi bekerja keras. Gigih. Sebenarnya polisi sudah mengungkap kasus ini, belum sampai 24 jam dari saat olah TKP. Waktu 24 jam sebagai ukuran standar polisi mengungkap kasus pembunuhan. Penadah S ditangkap di hari yang sama.

Pembunuhan ini sangat sadis. Korban SL tewas dengan belasan tusukan di tubuh. Sampai pisau patah dari gagangnya. Mungkin mengenai tulang. Pisau dan gagang ditinggalkan pelaku di TKP.

Di kasus ini tidak perlu teori kriminologi yang rumit-rumit. Pelaku butuh duit, lantas merampok. Selesai. Tapi mengapa sampai begitu sadis? Masih disidik polisi.

Pelaku bagai anekdot: Orang tuli mencuri radio. Dan, ia tidak tahu bahwa radio dalam kondisi menyala. Dibawanya ke mana-mana. Sampai ia ketangkap.

Tapi, yang mengejutkan, AKBP Sarly mengatakan, HP curian itu dijual AJL kepada S dengan harga tidak wajar: "Cuma Rp30.000," katanya.

Proses penyidikan perkara masih berlangsung. Walau tampaknya tidak ada yang istimewa di kasus ini. Hanya perampokan biasa. Akibat kemiskinan.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Kultus “Benda-benda Suci” di Eropa Abad Pertengahan

Minggu, 15 Maret 2026 | 06:16

Lulusan IPDN Disiapkan Wujudkan Standar Pelayanan Minimal di Daerah

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:59

Roy Suryo Cs Dilarang Ladeni Rismon Beradu Argumentasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:32

Abdul Malik bin Marwan, Revolusi Birokrasi yang Mengubah Sejarah Islam

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:23

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Trump Berbaju Fir’aun

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:31

Enam Bulan Purbaya, Rupiah Melemah tiap Bulan

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:08

Pendekatan Teman Sebaya Efektif Cegah Bullying di Sekolah

Minggu, 15 Maret 2026 | 04:02

Rismon Menelan seluruh Omongannya Tanpa Ada Terkecuali

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:21

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Selengkapnya