Berita

Truk tanah/Net

Suara Mahasiswa

Romantisme Penguasa dan Pengusaha, Elegi Kehancuran Bangsa

OLEH: DIAN FITRIANI*
MINGGU, 12 JUNI 2022 | 09:48 WIB

BERITA naik harga BBM, listrik, bahan pangan, hingga tarif masuk toilet tentu rakyat sudah bosan dan mati rasa dibuatnya. Bukan dalam artian abai, lebih secara implisit menggambarkan letih menanggapi, apalagi mencoba mengkomparasikan negara lainnya misal, dari segi kekayaan alam, ketertiban administrasi hingga keseriusan pemerintah dalam mengurusi rakyatnya.

Memang kita tak habis kata untuk menggambarkan, kalau dihitung secara parsial saja, luas Indonesia memiliki wilayah sebesar 1.904.569 km persegi, yang tak hanya besar, tapi juga kaya, sebutlah hutan Indonesia yang seluas 99 juta hektare, penghasil beras terbesar dengan rata-rata 50 juta ton per tahun, data terakhir menyebutkan cadangan gas alam Indonesia sekitar 2,8 triliun meter kubik yang membuat Indonesia menjadi negara pengekspor gas alam terbesar di dunia.

Ini hanya sebagian kecil kekayaan yang dimiliki, legenda tanah surga. Bukan saja jadi lirik lagu melainkan juga merupakan bagian dari fakta yang membuat rakyat termangu.


Ironisnya, fakta tersebut hanyalah menjadi dongeng belaka, dan sebaliknya justru kemiskinan merebak bak berjajar menawarkan iba, hari hari mereka tak diwarnai dengan kekayaan alam, bahkan kampung halamannya dirampas secara biadab, padahal sejak dulu nenek moyang nya tinggal di kaki gunung bebatuan, tapi entah kata mereka para pemilik modal tentang gunung punya siapa, yang jelas mereka punya tracktor, bulldozer bahkan pekerja kasar dari negeri tetangga.

Mirisnya mereka tak ragu giling rata rumah penduduk, mereka tak segan pecahkan gunung bebatuan, bagaimana dengan rumah di kaki gunung? Mereka tak mau ambil pusing, asal ada keuntungan yang mereka raih. Apakah ini betulan terjadi?

Ya, sebutlah di salah satu daerah yang padat truk melintas merusak aspal jalanan, tepatnya di perkampungan Parung Panjang Bogor Barat. Beberapa kali saya melintasi jalanan Parungpanjang menuju Jasinga, debu dan gusar derum truk truk besar mengiringi perjalanan, saya tak terbayang bila menjadi penduduk yang setiap harinya menghirup udara yang tercemar, dan memang hanya itu yang tersisa untuk penduduk sekitar tak ada semen gratis, apalagi rumah gratis hasil proyek, lantas apakah hasil kekayaan gunung tersebut penduduk sekitar turut menikmati? Jelas tidak, mereka hanya mengisap debu dan korban aspal rusak.

Kemana truk itu membawa harta galian hasil memecahkan gunung-gunung batu? Tentu bukan di halaman warga, yang jelas entah kemana mereka menyetorkan hasilnya, yang jelas setiap harinya truk-truk besar berseliweran sepanjang jalan kabupatun bogor termasuk jonggol, parung panjang, rumpin hingga gunung sindur.

Setidaknya 4 kecamatan terancam terserang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) diakibatkan debu yang setiap hari dikonsumsi oleh warga, berdasarkan data terakhir. Jumlah penderita ISPA di daerah ini, dalam kurun waktu dua tahun terakhir (semester pertama 2017 hingga 2018, periode Januari hingga Juni) mencapai 12.067 orang.

Secara spesifik, berdasarkan data yang didapat pada semester pertama tahun 2018, warga Kecamatan Rumpin yang terjangkit ISPA sebanyak 2.900 orang atau 5,9 persen, tahun sebelumnya 3.767 orang atau 7,69 persen.

Untuk Kecamatan Gunung Sindur semester pertama 2018 sebanyak 2.131 orang atau sekitar 2,36 persen penderita ISPA, tahun sebelumnya 1.843 orang atau 2,04 persen.

Di Kecamatan Parungpanjang semester pertama 2018, warga menderita ISPA sebanyak 79 orang atau 0,08 persen, tahun sebelumnya sebenyak 1.347 orang atau 1,38 persen.

Bila melihat besaran angka, maka setidaknya ada ribuan warga terancam menderita ISPA setiap tahunnya, mereka terpaksa menghirup debu setiap harinya, tak hanya paru-paru mereka, pelataran rumah pun tak absen dihinggapi debu kotor. Miris, di tengah kekayaan alam yang melimpah, rakyat nya justru menderita pula nestapa.

Negeri ini kaya, bahkan tanah surga katanya, sayangnya kekayaan ini tak berdampak pada resonansi peradaban, hanya bersahut-sahutan dengan para pengusaha dan penjabat, berebut pisau untuk memotong-motong kue, berbagi jatah tanah yang entah milik siapa seharusnya. Lucunya ketika kontestasi politik tiba, pejabat berebut jadi pahlawan, lantas bertransformasi menjadi sosok sarat empati, berbicara tentang masa depan indah yang abadi sepanjang dirinya terpilih nanti.

Lima tahun sekali, atau bahkan kurang dari itu, kita punya siklus reinkarnasi para penjabat yang mengisi kekosongan kursi ataupun posisi, yang sibuk berkampanye siang dan malam, berambisi jadi sang penguasa. Entah penguasa lahan pertanian Cianjur, penguasa gunung bebatuan parung panjang, penguasa 99 juta hektare hutan Indonesia, bahkan mungkin penguasa darah dan jiwa rakyatnya, yang sewaktu-waktu bisa menjadi mangsa akibat keserakahan hasrat berkuasa.

Setidaknya, hari ini, kita tak lagi harus mengangkat senjata melawan penjajah, tak repot-repot merumuskan proklamasi, atau reinkarnasi jadi pejuang reformasi. Bila yang dibutuhkan merdeka lewat elegi panjang, maka tentu negeri ini telah lebih dari setengah abad lamanya.

Bila yang dibutuhkan adalah reformasi, maka setidaknya kita sudah 7 kali mengganti pemimpin negeri, hanya saja kita tak hanya butuh birokrasi, reformasi apalagi narasi, kita hanya butuh restorasi, rekonstruksi, bahkan revolusi sistem operasi, ini bukan soal koalisi apalagi oposisi tapi ini tentang negeri. Negeri yang berada diambang kehancuran akibat serangan keserakahan.

Penulis adalah Mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP UMJ

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya