Berita

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir saat menghadiri silaturahmi nasional (Silatnas) bidang sayap dan badan DPP Nasdem/Ist

Politik

Di Silatnas Nasdem, Menteri BUMN: Pancasila adalah Fundamental Ekonomi Bangsa

KAMIS, 02 JUNI 2022 | 18:20 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Silaturahmi nasional (Silatnas) bidang sayap dan badan DPP Nasdem bertajuk "Kita Pancasila: Pancasila Menjawab Tantangan Zaman" diikuti sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, salah satunya Menteri BUMN Erick Thohir.

Dalam acara yang digelar di Ballroom DPP Partai Nasdem, Jakarta, Menteri BUMN menyebut ideologi Pancasila tidak bisa ditawar lagi.

"Ada catatan penting dari Pak Surya Paloh bahwa perbedaan itu akan terus terjadi di dalam diri kita. Pertanyaannya, bisa tidak kita tetap solid menjaga Pancasila?" kata Erick di lokasi, Kamis (2/6).


Dalam sudut pandang ekonomi, sila kelima dalam Pancasila adalah salah satu fundamental bagi Indonesia. Apalagi kondisi pandemi dan era disrupsi seperti saat ini, di mana digitalisasi telah mengubah model bisnis, jenis pekerjaan, hingga aktivitas masyarakat.

"Kita lihat lagi, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin karena pandemi atau dengan perubahan yang terjadi pada rantai pasok," tuturnya.

Ia menegaskan, Indonesia bukanlah Amerika Serikat yang tidak mempunyai BUMN karena menganut kapitalisme dan pasar terbuka. Oleh karenanya, Pancasila menjadi dasar utama BUMN dalam menjaga keseimbangan ekonomi bangsa.

"Saat ditanya ADB, World Bank, saya jawab Indonesia jelas fondasi negaranya demokrasi. Jadi model yang kita terapkan mirip Swedia, Norwegia, Finlandia. BUMN tetap ada sebagai korporasi yang sehat, bukan korporasi yang sakit," tandas Erick.

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menegaskan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu bangsa paling efektif. Para pendiri bangsa mampu menemukan ideologi bangsa meski berbeda-beda suku dan agama.

"Kekuatan Pancasila dari sila pertama hingga sila kelima seharusnya menjadi dasar-dasar pemikiran dan kehidupan kita," tegas Surya Paloh.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya