Berita

Walikota Bekasi nonaktif, Rahmat Effendi/Net

Hukum

Kasus Suap dan Gratifikasi, Walikota Bekasi Rahmat Effendi Didakwa Terima Uang Rp 19,5 Miliar

SENIN, 30 MEI 2022 | 18:52 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Walikota Bekasi nonaktif, Rahmat Effendi alias Pepen didakwa menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 19,5 miliar dari beberapa pihak terkait pengadaan barang dan jasa serta lelang jabatan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

Dakwaan ini dibacakan langsung oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Bandung, Senin (30/5).

Dalam perkara ini, Pepen didakwa dengan beberapa dakwaan oleh tim JPU KPK. Yaitu, Pepen selaku Walikota Bekasi periode 2018-2023 bersama-sama dengan Jumhana Luthfi Amin selaku Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Kadis Perkimtan) Pemkot Bekasi, Wahyudin selaku Camat Jatisampurna, dan Muhamad Bunyamin selaku Camat Bekasi Barat dan selaku Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pemkot Bekasi menerima hadiah berupa uang sejumlah Rp 10.450.000.000 (Rp 10,45 miliar).


Uang tersebut diberikan oleh Lai Bui Min sejumlah Rp 4,1 miliar, dari Makhfud Saifudin sebesar Rp 3 miliar, dari Suryadi Mulya sebesar Rp 3,35 miliar.

"Supaya terdakwa dan Jumhana Luthfi Amin melakukan pengurusan agar Pemerintah Kota Bekasi membeli lahan milik Lai Bui Min di Jalan Bambu Kuning Selatan, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi seluas 14.339 meter persegi terkait pengadaan lahan untuk kepentingan pembangunan Polder 202 oleh Pemerintah Kota Bekasi," ujar Jaksa KPK.

Selain itu, Pepen dan Jumhana serta Wahyudin melakukan pengurusan ganti rugi atas lahan milik keluarga Makhfud Saifudin yang telah dibangun SDN Rawalumbu I dan VIII yang terletak di Jalan Raya Siliwangi Narogong, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi seluas 2.844 meter persegi atas nama Kamaludin Djaini.

Tak hanya itu, Pepen dan Bunyamin juga mengupayakan kegiatan pengadaan lahan pembangunan Polder Air Kranji agar dapat dianggarkan dalam APBD Perubahan Kota Bekasi Tahun Anggaran 2021, serta membantu memperlancar proses pembayaran lahan milik PT Hanaveri Sentosa.

Selain itu, Pepen juga didakwa bersama-sama dengan Bunyamin menerima hadiah berupa uang sebesar Rp 30 juta dari Ali Amril. Uang ini diberikan karena Pepen telah memberikan persetujuan sehingga Ali Amril mendapatkan perpanjangan kontrak pekerjaan pembangunan Gedung Teknis Bersama Kota Bekasi tahun 2021, sekaligus mendapatkan pekerjaan lanjutannya pada tahun 2022.

Kemudian, Pepen juga didakwa bersama-sama dengan Mulyadi alias Bayong selaku Lurah Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi meminta uang dengan jumlah total keseluruhan sebesar Rp 7,183 miliar.

Uang itu diminta dari para Pejabat Struktural di lingkungan Pemkot Bekasi yang seluruhnya berjumlah Rp 4,32 miliar, dari para Lurah di Kota Bekasi seluruhnya berjumlah Rp 178 juta, dari para Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Bekasi yang seluruhnya berjumlah Rp 1,24 miliar, dan penerimaan lainnya dari para PNS/ASN untuk keperluan Pepen yang seluruhnya berjumlah Rp 1,445 miliar.

Tak hanya itu, Pepen juga didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp 1.852.595.000 (Rp 1,85 miliar) yang berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya selaku Walikota Bekasi.

Dengan demikian, jika total secara keseluruhan yang diterima Pepen bersama-sama dengan beberapa orang lainnya, menerima uang sebesar Rp 19.515.595.000 (Rp 19,5 miliar).

Akibatnya, Pepen didakwa dengan dakwaan Pertama-Kesatu Pasal 12 huruf a Juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Atau dakwaan Pertama-Kedua Pasal 11 Juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Dan dakwaan Kedua-Kesatu Pasal 12 huruf b Juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Atau dakwaan Kedua-Kedua Pasal 11 Juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Dan dakwaan Ketiga Pasal 12 huruf f Juncto Pasal 18 UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Dan dakwaan Keempat Pasal 12 B UU 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 65 Ayat 1 KUHP.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya