Berita

Militer Ukraina/Net

Dunia

Banjir Senjata di Ukraina, Pakar Militer Khawatir Banyak Penyelundupan

SENIN, 16 MEI 2022 | 10:21 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Aliran senjata ke Ukraina semakin deras, baik secara legal maupun ilegal. Hal ini memicu kekhawatiran para pakar militer terhadap mungkinnya penyelundupan senjata terjadi.

Sejak Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari lalu, Presiden Volodymyr Zelenksy mendesak berbagai negara untuk mengirimkan bantuan senjata melawan Moskow.

Baru-baru ini, Amerika Serikat (AS) mengumumkan paket bantuan keamanan senilai 40 miliar dolar AS ke Ukraina yang telah disetujui oleh DPR pada pekan lalu.


Sejumlah pakar mengaku khawatir jika senjata-senjata yang dikirim dapat jatuh ke tangan musuh atau muncul kembali dalam konflik di masa depan.

"Tidak mungkin untuk melacak, tidak hanya ke mana mereka pergi dan siapa yang menggunakannya, tetapi bagaimana mereka digunakan," kata ahli pengendali senjata di Stimson Center, Rachel Stohl, seperti dikutip The Washington Post.

Jurubicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait senjata yang dipasoknya. Ukraina juga telah menandatangani perjanjian yang tidak mengizinkan pemindahan senjata ke pihak ketiga tanpa izin pemerintah AS.

Namun kontrak semacam itu lemah. Bahkan AS pun telah melanggarnya sendiri.

Pada pertengahan April, AS mentransfer armada helikopter Mi-17 ke Ukraina yang awalnya dibeli dari Rusia sekitar satu dekade lalu. Rusia mengecam transfer tersebut, dengan mengatakan itu melanggar dasar-dasar hukum internasional.

Penjualan awal pesawat mengharuskan AS untuk menandatangani kontrak yang menjanjikan untuk tidak mentransfer helikopter ke negara ketiga mana pun tanpa persetujuan Federasi Rusia.

Sejauh ini AS telah memasok berbagai senjata ke Ukraina, termasuk 1.400 sistem antipesawat Stinger, 5.500 rudal antitank, 700 drone Switchblade, 90 sistem artileri Howitzer jarak jauh, 7.000 senjata kecil, 50 juta butir amunisi, serta banyak ranjau bahan peledak dan sistem roket berpemandu laser.

Dalam hal pendanaan, AS mengirim 8,7 miliar dolar AS untuk mengisi kembali gudang senjata AS yang dikirim ke Ukraina, 6 miliar dolar AS untuk melatih dan memperlengkapi pasukan Ukraina, dan 3,9 miliar dolar AS untuk pasukan AS yang dikerahkan di seluruh Eropa.

Selain AS, negara-negara NATO lainnya telah mentransfer miliaran dolar dalam bentuk senjata dan peralatan militer sejak invasi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya