Berita

Pemerhati sejarah, Arief Gunawan/Net

Publika

Kemiskinan Jawa Tengah, Capres Boneka, dan Pemilu 110 Triliun

SENIN, 09 MEI 2022 | 11:47 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

ORANG Eropa dulu menyebut Jawa sebagai Javadios. Dari kata Jaba atau Jau, yang berarti jarak yang melampaui.

Raffles di dalam History of Java menyebut nama lain Pulau Jawa sebagai Nusa Kendang, Nusa Hara-Hara, atau Jawawut, yang berasal dari pendatang pertama India yang menemukan biji-bijian baru di Tanah Jawa.  

Pulau Jawa abad 19 menjadi titik perdagangan terpenting dunia. Tanaman-tanaman komoditas ekspornya yang dieksploitasi oleh pemerintah kolonial Belanda melalui Tanam Paksa (1830-1870) membuat rakyat biasa dan petani miskin.


Sejarawan Robert Van Niel di buku Sistem Tanam Paksa di Jawa menyebut, 70 persen petani Jawa kala itu dipekerjakan di perkebunan-perkebunan kolonial.

Para petani dipaksa menyerahkan sebagian tanah untuk ditanami tanaman-tanaman ekspor, dengan mengabaikan sawah dan kebutuhan pangan sehari-hari.

Mereka harus memikul beban memenuhi target ekspor yang ditentukan oleh pemerintah kolonial.

Kekalahan dalam Perang Jawa (1825-1830) membuat defisit kas Belanda, ditambah ongkos untuk membiayai perang melawan Belgia yang tak sedikit jumlahnya.

Itulah sebabnya Van Den Bosch didatangkan.

Perwira yang kekejamannya bukan di medan pertempuran ini merupakan konseptor Tanam Paksa.

Ia menjadikan para bupati dan kepala daerah dari kalangan bumiputera sebagai suksesor.

Untuk wilayah yang mampu memenuhi target Tanam Paksa para bupati dan kepala daerahnya diberikan hadiah dan kenaikan pangkat, serta birthright, yaitu semacam hak lahir untuk keturunan mereka buat meneruskan jabatan bupati atau kepala daerah secara turun menurun.

Dalam konteks sekarang para bupati dan kepala daerah tersebut menjadi semacam peliharaan oligarki, sekaligus suksesor kepentingan bisnis oligarki yang bertindak merangkap cukong  pada saat Pilpres.

Bagaimana praktek Tanam Paksa di Jawa Tengah saat itu?

Secara umum kerugian yang dialami rakyat di Pulau Jawa akibat Tanam Paksa berujung pada masifnya penderitaan dan kemiskinan yang terjadi secara merata.

Beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Demak dan Grobogan, pada 1848, 1849, dan 1850, misalnya, dilanda oleh paceklik dan bencana kelaparan yang cukup panjang.

Dalam waktu dua tahun jumlah penduduk di wilayah itu dilaporkan berkurang drastis akibat kematian karena kelaparan.

Kekacauan sosial akibat Tanam Paksa  juga terjadi di Rembang, Kedu, Banyumas, dan beberapa daerah sekitarnya.

Sekarang pun rupanya terjadi paralelisme historis. Di bawah Gubernur Ganjar Pranowo yang kini semakin sibuk melakukan pencitraan, lantaran kepingin jadi presiden, jumlah daerah kemiskinan ekstrem di wilayah Jawa Tengah bertambah drastis dari 5 daerah kemiskinan ekstrem menjadi 19 daerah kemiskinan ekstrem.

Ganjar yang banyak disebut oleh  masyarakat sebagai capres boneka oligarki dianggap tidak mengurus rakyat daerahnya sendiri. Sikapnya terhadap kasus tanah Desa Wadas yang banyak dicemooh publik telah memperjelas tidak adanya keberpihakan terhadap rakyat Jawa Tengah.

Belum lama ini dari Sragen, Jawa Tengah,  terbetik pula berita, dalam sehari terjadi tiga kali peristiwa gantung diri yang dilakukan oleh warga di wilayah tersebut, akibat kemiskinan.

Modal pencitraan yang selama ini dilakukan oleh Ganjar esensinya adalah mengulang cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Jokowi menjelang Pilpres 2014, yang terbukti gagal.

Inti pencitraannya adalah kebohongan dan pura-pura memihak rakyat.

Bertambahnya secara drastis daerah kemiskinan di Jawa Tengah, tidak adanya keberpihakan dalam persoalan Desa Wadas, dan keterkaitan nama Ganjar dalam kasus E-KTP merupakan contoh buruk komitmen pejabat publik kepada rakyat.

Maka menjadi semakin suram masa depan negeri ini dan mayoritas rakyatnya apabila Pemilu dan Pilkada Serentak 2024 mendatang yang telah dianggarkan akan menelan biaya Rp 110 triliun hanya menghasilkan penguasa bermodal pencitraan tanpa integritas, track record yang positif, dan kemampuan problem solver.

“Biaya Pemilu yang sangat besar seperti itu apakah akan menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat atau hanya pemimpin-pemimpin kelas boneka ? Yang hanya mengandalkan pencitraan berbayar melalui pollsterRp dan mediaRp ...” tandas tokoh nasional Dr Rizal Ramli di akun twitter-nya baru-baru ini.

Pertanyaan penting ini esensinya mewakili suara kolektif mayoritas rakyat dan membangun kesadaran bahwa betapa berbahaya memilih pemimpin yang bertumpu pada pencitraan dengan modal kapital oligarki, karena pada akhirnya sosok yang terpilih hanya akan mengabdi kepada kepentingan oligarki.

Persis seperti para bupati dan kepala daerah di era Taman Paksa yang menempatkan diri menjadi suksesor bagi Van Den Bosch.

Yang apabila dihadapan tuan-tuan oligarki yang merupakan junjungan mereka, siap sedia untuk selalu berkata:

“Duli paduka Tuanku, akulah pelayan abdi setiamu ...”.  Sambil kakinya menginjak rakyat.

Penulis adalah pemerhati sejarah

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya