Berita

Staf Khusus Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Ossy Dermawan/Net

Politik

Koreksi Stafsus SBY Atas Cara Anak Buah Sri Mulyani Bandingkan Utang

JUMAT, 08 APRIL 2022 | 11:04 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Uraian dari Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo tentang peningkatan utang pemerintah tidak hanya terjadi di era Presiden Joko Widodo, melainkan saat era reformasi hingga pemerintahan SBY disorot sejumlah pihak.


Staf Khusus Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Ossy Dermawan bahkan merasa terpanggil untuk meluruskan informasi yang disampaikan anak buah Menkeu Sri Mulyani Indrawati itu. Sebab, seolah terjadi peningkatan utang besar di era SBY.

"Yang disampaikan mas Yustinus Prastowo untuk melihat peningkatan utang dalam bentuk nominal saja, tentu ini merupakan perbandingan yang “kurang adil”," kata Ossy Dermawan kepada redaksi, Jumat (8/4).


Ossy menilai bahwa nominal utang yang dipaparkan Yustinus, setiap tahunnya akan terpengaruh oleh inflasi. Artinya, utang Rp 1 juta di tahun 2022 tidak dapat diperbandingkan dengan utang Rp 1 juta di tahun 2005. Sebab, daya beli pada tahun tersebut juga pasti berbeda

Untuk menghilangkan efek inflasi, nilai utang harus dinyatakan dalam bentuk relatif. Caranya, dengan membagi besaran utang di tahun tertentu dengan suatu variabel lain di tahun yang sama misalnya GDP. Sehingga, terbentuklah Debt-to-GDP ratio.

Satuan pengukuran utang (debt) adalah rupiah (Rp), satuan pengukuran GDP juga Rp. Sehingga rasio tersebut (Rp dibagi Rp) merupakan indeks yang sudah tidak dipengaruhi inflasi.

Selain tidak dipengaruhi inflasi, rasio tersebut juga mengandung makna bahwa untuk menghasilkan Rp 1 GDP, berapa Rp utang yang digunakan. Debt-to-GDP ratio berhasil diturunkan oleh SBY dari sekitar 56 persen pada tahun 2004 menjadi sekitar 24 persen pada tahun 2014 (selama 10 tahun).

"Kalau sekarang Debt-to-GDP ratio tersebut naik lagi menjadi sekitar 40 persen, silakan rakyat menilainya," urai Ossy Dermawan.

Dengan rasio utang terhadap GDP yang makin dikurangi di era SBY, kata Ossy, itu mengindikasikan relatif kecilnya utang untuk hasilkan GDP. Relatif kecilnya utang, berarti beban fiskal pemerintah untuk bayar bunga dan pokok utang tersebut jadi lebih kecil. Sehingga, besaran fiskal yang tersedia untuk dorong ekonomi jadi lebih besar.

"Itulah sebabnya (di antara beberapa penyebab lain) mengapa laju pertumbuhan ekonomi SBY lebih tinggi dibanding Jokowi," tuturnya.

Karena, proporsi fiskal untuk membangun relatif lebih besar, sehingga hasilnya laju pertumbuhan ekonomi alias GDP growth di masa SBY lebih tinggi dibandingkan saat ini.

"Padahal Menkeunya sama yaitu Bu SMI, lalu mengapa kinerja ekonominya berbeda? Jawabnya, to some extent, leadership matters,” katanya.

Ossy menambahkan, kepemimpinan SBY menyebabkan semua sektor bergerak, tidak hanya 1 atau 2 sektor saja seperti infrastruktur. Resultantenya, struktur perekonomian jadi semakin kokoh.

Sebab menurutnya, jika ada yang menyampaikan bahwa perekonomian kita saat ini menurun karena Covid-19, mungkin ada benarnya. Namun, data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi RI sebelum pandemi pun sudah memiliki trend yang menurun atau paling tidak stagnan.

"Sebenarnya saya malas membandingkan antar 1 pemimpin dgn pemimpin lainnya. Karena tiap pemimpin pst punya cara membangun negaranya. Tapi menjd pertanggungjawaban moral saya, untuk meluruskan apa yang disampaikan ke publik terkait SBY," pungkasnya.

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo sebelumnya mengatakan bahwa utang pemerintah memang mengalami peningkatan secara nominal dari era awal Reformasi, pemerintahan SBY, hingga masa pemerintahan Jokowi.

"Kelihatan sekali penambahan signifikan terjadi saat pandemi. Dari total Rp 4.247 T (Okt 2014-Des 2021), Rp 2.122 T atau 50 persen ditarik 2020-21," katanya dalam akun Twitter pribadinya @prastow pada Kamis (7/4).

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya