Berita

Logo Ikatan Dokter Indonesia (IDI)/Net

Publika

IDI Single Party Rule

KAMIS, 31 MARET 2022 | 21:31 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SATU yang luput dari reformasi. Ormas warisan rezim milter nggak dilikuidasi. Misalnya IDI. Ternyata wataknya fasis, kaku, mekanik dan text book thinking. Oligarki petinggi ormas. Hegemoni organisasi tunggal. Absolute power, corrupt absolutely.

IDI hanya serap iuran. Bukan sponsor riset dr. Terawan. Nggak ada kontribusinya. IDI Nggak pernah melakukan tahapan riset dan uji klinis seperti yang dipatenkan Western Medical System.
 
Nggak ada dokter kere. Tajir kaya raya. Nggak ada tuh inisiatif crowdfund jadi sponsor anggotanya yang bernama dr. Terawan. Karena ngoceh itu murah.
Penilaian dr. Terawan keliru berasal dari buku. Bukan dari praktek. Tanpa melakukan riset, IDI nggak punya validity power to approve nor disapprove dr. Terawan's practice. Biologi bukan exacta. IDI menisbikan begitu banyak testimoni positif dari figur nasional.

Penilaian dr. Terawan keliru berasal dari buku. Bukan dari praktek. Tanpa melakukan riset, IDI nggak punya validity power to approve nor disapprove dr. Terawan's practice. Biologi bukan exacta. IDI menisbikan begitu banyak testimoni positif dari figur nasional.

Kebenaran ditemukan lewat pakem, referensi, logika, ratio, kalkulasi, deep thought, mind game, dan imaginasi.

"Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand," kata Sir Albert Einstein.

Black hole ditemukan sebelum Event Horizon Telescope mengkonfirmasi eksistensinya. Einstein's theory of gravity, the universality of free fall, dinyatakan akurat beberapa dekade kemudian.

Modus tudingan IDI persis sama dengan grassroot activist anti vaksin. Sampai sekarang, nggak ada manusia lizards and mutant akibat mutasi DNA dan genetik setelah divaksin.
 
Pemerintah harus segera mencabut priviledge IDI. Single party system sudah pasti otoritatif dan diktatorial. Sangat berbahaya. Nggak fair. Tiranic. Bayangkan yang digencet dokter biasa yang nggak sekuat dr. Terawan. Apa jadinya...??

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya