Berita

Wakil Presiden Argentina, Christina Fernandez/Net

Dunia

Senat Argentina Setujui Disuntik Rp 645 T, Tinggal Tunggu Keputusan Dewan Direksi IMF

SABTU, 19 MARET 2022 | 02:20 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Keputusan Senat Argentina menyetujui perjanjian pemerintah dengan Dana Moneter Internasional (IMF) senilai 45 miliar dolar AS (sekitar Rp 645 triliun), membuka jalan bagi persetujuan akhir oleh dewan direksi pemberi pinjaman.

Dalam pemungutan suara yang hasilnya 56-13 dengan 3 abstain pada Kamis malam (17/3), para senator mengesahkan undang-undang yang mendukung program IMF terbaru Argentina. Rencana tersebut saat ini tinggal perlu langkah voting oleh dewan eksekutif IMF agar bisa segera berlaku.

Namun, menurut Jurubicara IMF, Gerry Rice, tanggal pelaksanaan voting tersebut belum ditetapkan.


Jika voting tersebut lolos, dana itu akan menyelesaikan kesepakatan yang sudah dinegosiasikan selama dua tahun dengan staf teknis IMF. Ini merupakan perjanjian ke-22 negara itu dengan IMF.

Rencana tersebut memungkinkan Argentina melunasi pembayaran yang akan datang kepada IMF dari rekor bailout yang diberikan pada 2018 kepada kabinet Argentina sebelumnya yang gagal menstabilkan ekonomi.

Tanggal pemungutan suara dewan direksi itu juga akan menjadi kunci untuk menentukan apakah negara tersebut mengalami default dengan pemberi pinjaman IMF.

Argentina harus melakukan pembayaran sekitar 2,8 miliar dollar AS pada 22 Maret. Setelah kesepakatan disetujui oleh dewan, Argentina akan segera menerima sekitar 9,8 miliar dolar AS dari IMF. Pencairan lainnya bergantung pada pencapaian target Argentina dalam program yang dinilai selama tinjauan triwulanan dengan staf IMF.

Rencana itu bisa membuat Argentina menunda pembayaran utangnya hingga 2026, dengan pembayaran berlanjut hingga 2034. Di bawah pengaturan sebelumnya, pembayaran utang akan terkonsentrasi pada 2022 dan 2023.

Di sisi lain, menurut para analis Bloomberg dan ABCNews, langkah Presiden Argentina, Alberto Fernandez, yang membuat pemungutan suara legislatif pada perjanjian itu mengungkapkan perpecahan dengan anggota parlemen oposisi dan dalam koalisi sayap kirinya sendiri.

RUU itu disetujui di majelis rendah kongres pada pekan lalu, setelah anggota parlemen mengubah teks RUU hanya untuk memberikan suara pada pembiayaan IMF.

Pemerintah golongan kiri-tengah (condong ke Presiden Alberto) mengatakan, perjanjian IMF baru itu sangat penting untuk menghindari default pada pinjaman dan bahkan masalah yang lebih besar bagi ekonomi yang terluka oleh default dan krisis di masa lalu.

Namun menurut politisi kiri di negara itu, termasuk beberapa anggota partai pemerintahan yang dekat dengan Wakil Presiden, Christina Fernandez, rencana IMF terbaru itu akan memperburuk kondisi bagi 40 persen rakyat Argentina yang miskin.

"Ini adalah utang yang seharusnya tidak akan kami ambil," ujar Christina

"Saya mendengar orang mengatakan bahwa kesepakatan dan kewajiban yang ditanggung Argentina akan berujung ke dalam masa penyesuaian, namun di manakah penyesuaian itu? Penyesuaian harus dilakukan jika kita default (gagal melunasi utang sebelumnya). Jika kita default kali ini, kita tidak akan punya jalan keluar lagi atau melarikan diri," pungkasnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya