Berita

Kerusuhan demonstran di depan kantor Pemerintahan Sri Lanka di Kolombo, Selasa (15/3)/Net

Dunia

Krisis Finansial Sri Lanka Tak Kunjung Usai, Rajapaksa Didesak Turun

KAMIS, 17 MARET 2022 | 19:53 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Protes anti pemerintah telah mengguncang ibukota Sri Lanka di mana rakyat menuntut agar Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk mengundurkan diri, karena negara itu menderita krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade.

Puluhan ribu orang berkumpul dan membawa spanduk anti pemerintah di luar kantor presiden di Kolombo pada Selasa (15/3). Demo tersebut dipimpin oleh pendukung partai oposisi, United People's Force.

Massa demonstran menuduh pemerintah salah mengelola ekonomi dan menciptakan krisis valuta asing yang menyebabkan kebutuhan pokok seperti bahan bakar, gas untuk memasak, susu bubuk, dan obat-obatan menjadi sulit didapatkan.


Pemimpin oposisi, Sajith Premadasa berpidato di depan massa demonstran, menyatakan bahwa krisis tidak kunjung usai itu menandai awal keruntuhan Sri Lanka. Ia kemudian berkampanye untuk menggulingkan pemerintah.

“Kamu telah menderita sekarang selama dua tahun. Bisakah kamu menderita lebih jauh?” ujar Sajith kepada massa demonstran, seperti dikutip oleh Al-Jazeera.

Sajith menggambarkan pemerintahan yang sedang menjabat sebagai "penjahat" dan menyalahkannya atas banyak kesengsaraan ekonomi negara itu.

Sri Lanka kini sedang susah-payah untuk membayar impornya karena cadangan devisa negara itu berada pada titik teranjlok sepanjang masa.

Hanya 24 jam setelah kerumunan besar menyerbu kantornya, Rajapaksa mengatakan pemerintahnya sedang berdiskusi dengan Dana Moneter Internasional (IMF), badan-badan lain dan negara-negara internasional untuk menunda pembayaran pinjaman. Dikatakan dari kantornya, Sri Lanka akan mencari dana talangan IMF.

Dalam menghadapi krisis fiskal, Bank Sentral Sri Lanka mengambangkan mata uang nasionalnya pada pekan lalu, namun malah mengakibatkan devaluasi sebesar 36 persen dan mengacaukan harga dari seluruh kebutuhan di negeri itu.

Kini, kelangkaan bahan bakar telah membatasi transportasi di dalam negeri, menghambat aktivitas ekonomi, dan telah menyebabkan pemadaman listrik selama berjam-jam setiap hari.

Krisis fiskal Sri Lanka ini sebagian disebabkan oleh utang luar negeri yang belum terselesaikan, nilainya diperkirakan sekitar 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 100 triliun.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

Pergantian Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung Jadi Ujian Kekuatan Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10

UPDATE

Usulan PPPK Jadi ASN Pusat Sejalan dengan Komitmen Prabowo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:24

Emas Antam Terbang Rp20.000, Tembus Rp2,71 Juta per Gram Pagi Ini

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:23

Komisi III DPR Minta Penyebar Hoaks Kerusuhan Berbayar Diberantas

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:13

Bukan Cuma Hapus Konten, Penyebar Hoax Harus Diproses Hukum

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:07

Produk Newport Panen Kecaman, Promosi Tukar Hafal Ayat Suci dengan Miras

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:06

Puluhan Ribu Warga Padati Tunas Bumi Fest 2026 di Wonosobo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:05

Disambut Sholawat, Gus Yaqut Siap Hadapi Sidang Dakwaan Korupsi Kuota Haji

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:56

Pemulihan Ekosistem Harus Dilakukan Secara Serentak

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:54

Trump Media Tekor 238 Juta Dolar AS, Saham Ambruk 8 Persen

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:53

Ruang Amal Indonesia Siapkan 50 Warga Kurang Mampu Tembus Industri Tekstil

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:49

Selengkapnya