Berita

Rekaman Satelit pembantaian warga di Negara Bagian Kayah oleh Junta Myanmar pada Desember lalu. /Net

Dunia

Laporan PBB, Junta Myanmar Telah Membantai 1,600 Warga dengan Bom, Sajam, dan Penyiksaan

RABU, 16 MARET 2022 | 22:58 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Junta militer Myanmar disebut telah melakukan sederet pelanggaran HAM dan kejahatan perang terhadap warga sipilnya. Hal ini berdasarkan laporan komprehensif pertama dari kantor HAM Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB),

Di laporan tersebut dijelaskan pelanggaran HAM mereka bersifat meluas dan sistematis dan perlu ditindak secara tegas dan serius.

Di awal laporan PBB mengatakan, Junta militer telah mengabaikkan kondisi kehidupan warganya dan dengan sengaja menargetkan warga sipil sejak mereka merebut kekuasaan pada 1 Februari 2021.


Kemudian dalam laporan yang dirilis pada Rabu (16/3) itu, dirincikan kejahatan perang dan HAM yang dilakukan oleh Junta seperti, pengeboman daerah-daerah berpenduduk dengan serangan udara, dan serangkaian pembunuhan massal terhadap warga sipil.

PBB menjelaskan contoh kasusnya, di mana warga sipil telah ditembak di kepala, dibakar sampai mati, ditangkap secara sewenang-wenang, disiksa atau digunakan sebagai tameng manusia.

“Ini sangat besar skalanya, pelanggaran hukum internasional yang dialami oleh rakyat Myanmar harus ditanggapi secara tegas dan terpadu,” ujar Michelle Bachelet, komisaris tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Setidaknya 1.600 orang telah tewas oleh Junta sejak kudeta. PBB mengatakan serangan udara, helikopter tempur, artileri, dan mortir digunakan tanpa pandang bulu di daerah berpenduduk.

Selain warga yang tewas, 12.500 warga lainnya telah ditahan selama setahun terakhir, dengan ratusan bahkan ribuan telah menjadi sasaran penyiksaan.

Mereka digrebek di rumah masing-masing saat junta mencurigai aktivitas mereka tidak senalar dengan rezimnya.

Sekitar 325 orang, termasuk 16 anak-anak, tewas dalam tahanan.

Laporan tersebut juga mengacu pada serangkaian pembantaian oleh pasukan keamanan Junta, termasuk pembunuhan hingga 40 wanita, pria, dan anak-anak di Negara Bagian Kayah pada Desember lalu.
 
Mereka yang menemukan jenazah para korban pada kejadian itu mengatakan, beberapa mayat berada dalam posisi mencoba melarikan diri dan telah dibakar hidup-hidup.

Laporan ini didasari oleh hasil wawancara dengan lebih dari 155 korban, saksi, dan advokat, serta rekaman video dari satelit.

“Tindakan yang serius oleh komunitas internasional sangat dibutuhkan untuk menghentikan banyaknya individu yang kehilangan hak, hidup, dan mata pencaharian mereka,” ujar Bachelet kepada The Guardian, terkait besarnya kekejaman Junta terhadap rakyatnya.

Menurut PBB, negara-negara barat telah memberlakukan sanksi terhadap anggota Junta dan bisnis mereka.

Sementara itu, PBB Asia Tenggara telah memimpin upaya negosiasi dengan Junta untuk meredakan situasi yang kacau-balau di negara itu. Namun hingga saat ini proses negosiasi hampir tidak ada kemajuan.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya