Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Menunda Pemilu Bukan Demokrasi, Tetapi Tirani

MINGGU, 06 MARET 2022 | 15:43 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Usulan penundaan Pemilu bukan menjadi bagian dari demokrasi, melainkan tirani atau kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang.

Hal itu disampaikan oleh Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan yang menganggap bahwa usulan penundaan Pemilu atau kudeta konstitusi terus bergulir secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

Apalagi, alasan penunda disiapkan secara meyakinkan, yakni melalui lembaga survei dan think-think Indonesia Laboratorium 2045 (Lab 45).


"Lembaga survei mengatakan 70 persen lebih rakyat Indonesia sangat puas dengan kinerja Jokowi. Kemudian Lab 45 mengatakan mesin big data mereka menangkap isu masyarakat ingin masa jabatan presiden diperpanjang," ujar Anthony dalam keterangan tertulis, Minggu (6/3).

Tahap selanjutnya adalah sosialisasi yang ditugaskan kepada Menteri Investasi atau Kepala BPKM, Bahlil Lahadalia, dan Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Usulan kudeta konstitusi tersebut mendapat penolakan luas dari masyarakat, termasuk partai politik (parpol) lain seperti PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Demokrat, PKS, dan Partai Gerindra.

"Karena usulan penundaan pemilu melanggar konstitusi yang berlaku, melanggar kedaulatan rakyat. Dapat dicap sebagai pengkhianat kedaulatan rakyat," kata Anthony.

Anthony pun sempat meminta kepada Presiden Joko Widodo, DPR/MPR, dan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk bertindak tegas untuk menegakkan marwah konstitusi.

Akhirnya kata Anthony, Jokowi bersuara dengan mengajak semua pihak, termasuk dirinya, untuk tunduk, taat dan patuh pada Konstitusi.

"Tentunya ini sangat melegakan. Semua elemen masyarakat wajib taat pada ajakan ini," kata Anthony.

Akan tetapi kata Anthony, pernyataan Jokowi berikutnya bikin kening berkerut. Karena, seperti ada pihak-pihak yang mau menjerumuskan presiden, dengan mengatakan usulan penundaan pemilu tidak bisa dilarang karena merupakan demokrasi.

"Maaf, Pak Jokowi. Menurut hemat saya, pernyataan ini sangat berbahaya. Usulan melawan hukum dan konstitusi seharusnya bukan bagian dari demokrasi. Tapi bagian dari tirani. Khususnya usulan menunda pemilu. Bisa diartikan mau melanggengkan kekuasaan, tanpa pemilihan umum, yang menjadi cikal bakal otoriter," jelas Anthony.

"Bayangkan, Pak Jokowi. Orde Baru saja selalu melaksanakan pemilu tepat waktu, setiap lima tahun sekali. Tapi, sekarang Bapak mau membiarkan usulan liar dan melawan hukum ini bergulir tanpa terkendali? Sangat bahaya," sambung Anthony.

Oleh karena itu, usulan yang melawan hukum dan konstitusi kata Anthony, seharusnya dilarang untuk kepastian hukum itu sendiri.

Jika tidak, dipastikan akan menimbulkan chaos dan anarki karena setiap pihak nantinya akan merasa bisa mengusulkan perubahan konstitusi sesukanya yang mengakibatkan terjadinya konflik horizontal yang meluas.

"Bayangkan, nanti ada pihak yang mengusulkan Indonesia sebaiknya menjadi negara serikat lagi saja. Atau ada pihak yang mau menjadi negara islam. Mungkin juga ada pihak yang mau memisahkan diri dari Indonesia. Organisasi gerakan merdeka nantinya akan menjamur, dengan alasan demokrasi. Bukankah ini akan menjadi chaos dan anarki?" terang Anthony.

"Karena itu, Pak Jokowi harus waspada. Yang membisiki pasti mempunyai niat jahat. Niat jahat kepada Pak Jokowi, niat jahat kepada Indonesia dan niat jahat kepada rakyat, mau menjerumuskan pak Jokowi, mau menjerumuskan Indonesia, mau menghancurkan bangsa Indonesia," sambungnya menutup.




Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Sekolah Rakyat Jadi Senjata Putus Rantai Kemiskinan

Sabtu, 18 April 2026 | 20:05

Megawati: Lemhannas Bukan Lembaga Pencetak Sertifikat

Sabtu, 18 April 2026 | 19:36

Bahaya Judi Online, Hadir Seperti Permainan dengan Keuntungan

Sabtu, 18 April 2026 | 19:09

Sidak Gudang Bulog, Prabowo Cek Langsung Stok Beras di Magelang

Sabtu, 18 April 2026 | 18:52

Megawati Minta Hak Veto PBB Dihapus, Pancasila Masuk Piagam Dunia

Sabtu, 18 April 2026 | 18:27

Perempuan Bangsa Gelar Aksi Nyata Tanam Pohon untuk Jaga Lingkungan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:43

Perjuangan Fraksi PKB untuk Pesantren Berbuah Penghargaan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:10

PDIP: Jangan Sampai Indonesia Dianggap Proksi Kekuatan Global

Sabtu, 18 April 2026 | 16:37

wondr Kemala Run 2026, Peserta Berlari Sambil Berbagi

Sabtu, 18 April 2026 | 16:21

Menggugat Algoritma, Pentingnya Lampaui Dogmatisme Hukum Klasik

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48

Selengkapnya