Berita

Ilustrasi/Repro

Politik

Soal Penurunan Papan Nama, Muhammadiyah Banyuwangi: Kita Disebut Hebat Kalau Banyak Memberi Manfaat

RABU, 02 MARET 2022 | 15:58 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Banyuwangi meminta semua pihak untuk tidak memunculkan perbedaan-perbedaan yang bisa menimbulkan konflik berkelanjutan atas penurunan plang Muhammadiyah yakni "Pusat Dakwah Muhammadiyah Tampo" dan "Pimpinan 'Aisyiyah Ranting Tampo".  
 
"Kita ini disebut hebat apabila kita banyak memberi kemanfaatan bagi yang lain, bukan banyak meminta dan merebut yang bukan haknya," kata Ketua PDM Muhammadiyah Banyuwangi, Mukhlis, dalam keterangan yang diterima Redaksi, Rabu (2/3).

Mukhlis berharap kejadian penurunan plang di Masjid Al Hidayah Desa Tampo Kecamatan Cluring itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. Insiden itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara berdialog dan mengedepankan mediasi dan langkah hukum, bukan dengan penghakiman sepihak.  


"Dengan modal spiritual, modal sosial, modal kultural, dan modal kearifan lokal, kita ikuti proses mediasi, proses hukum, proses pendekatan individu dan sosial dalam mewujudkan kehidupan menuju masa depan Banyuwangi yang lebih bermartabat, lebih baik dan berkemajuan," tuturnya.

Sebab, lanjut Mukhlis, Muhammadiyah di mana saja berada, harus mampu bekerjasama dengan pemerintah di segala tingkatan. Kehadiran serta keberadaannya juga harus bermanfaat kepada seluruh umat manusia dan mampu mewujudkan hidup bersama dalam suasana penuh kedamaian, penuh kerukunan, dan penuh kebersamaan dalam suatu bangsa.

Muhammadiyah, dalam situasi dan kondisi apapun dalam mengembangkan dakwahnya wajib mengedepankan sikap dan sifat tasamuh dalam wujud syahadah sosial yang bercirikan bersedia hidup berdampingan secara damai dengan siapa saja.

Muhammadiyah meyakini bahwa perbedaan pandangan, perbedaan paham keberagamaan, perbedaan pendapat bila digelar secara jujur dan lugas dengan mengingat tanggung jawab yang besar pasti akan melahirkan pemikiran yang lebih segar dan bermartabat.

Sehingga muncul alternatif alternatif, ide ide kreatif yang pada akhirnya lahir penyelesaian yang lebih bermartabat dan bermanfaat besar bagi kemajuan umat manusia.

Muhammadiyah juga, masih kata Mukhlis, berkeyakinan bahwa perbedaan paham keberagamaan yang dianut dan berkembang di masyarakat tidak harus dipaksakan sama, perbedaan tidak perlu disama-samakan.

Namun penghormatan perbedaan menjadi sebuah keniscayaan, penghormatan perbedaan dijunjung tinggi untuk tidak saling merendahkan, tidak saling menghina, tidak saling meniadakan.

"Mari kita junjung tinggi prinsip toleransi, prinsip moderasi dalam merajut harmoni dengan semboyan 'Menyakiti orang lain sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Jangan habiskan energi kita untuk memperdebatkan persoalan persoalan yang memang sudah jelas berbeda'," jelasnya.

Atas dasar itu, PDM Muhammadiyah Banyuwangi menyerukan kepada semua elemen masyarakat, pengguna dan pegiat media sosial, untuk bersikap adil, jujur, dalam bermedia sosial.

Pun proporsional, santun dan turut serta menyelesaikan konflik internal  tersebut dengan mengedepankan akal sehat, menghindari sikap arogan, kepongahan, kesombongan, dan pemutarbalikkan fakta.

"Demi menjaga dan merawat persaudaraan, mewujudkan harmoni sosial, meningkatkan ketenteraman serta keharmonisan antarwarga masyarakat maka Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi," pungkasnya.

Seperti dituturkan Ketua Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah, Trisno Raharjo, insiden di Desa Tampo itu terjadi pada 25 Februari 2022. Penurunan plang itu dilakukan karena ada warga setempat yang menilai masjid tersebut bukan masjid Muhammadiyah.

"Jadi ada permintaan dari warga yang menyatakan itu bukan masjid Muhammadiyah. Saya sayangkan, khususnya dari aparat desa, camat. Itu bukan menyelesaikan. Harusnya itu bukan jadi hal untuk menurunkan. Jadi tak sampai seperti itu," kata Trisno, Selasa (1/3).

Trisno menjelaskan, pemberi dan penerima wakaf masjid itu merupakan warga Muhammadiyah sejak 1992 silam. Masjid itu pun sudah banyak digunakan oleh masyarakat terafiliasi oleh Muhammadiyah.

"Sejak 1992 wakaf itu ada sampai dengan saat ini. Itu sudah cukup lama. Nah, tak ada persoalan. Di situ juga aktivitas sekolah Muhammadiyah ada TK di situ," terang Trisno.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

Pergantian Panglima TNI, Kapolri, dan Jaksa Agung Jadi Ujian Kekuatan Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 18:10

UPDATE

Usulan PPPK Jadi ASN Pusat Sejalan dengan Komitmen Prabowo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:24

Emas Antam Terbang Rp20.000, Tembus Rp2,71 Juta per Gram Pagi Ini

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:23

Komisi III DPR Minta Penyebar Hoaks Kerusuhan Berbayar Diberantas

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:13

Bukan Cuma Hapus Konten, Penyebar Hoax Harus Diproses Hukum

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:07

Produk Newport Panen Kecaman, Promosi Tukar Hafal Ayat Suci dengan Miras

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:06

Puluhan Ribu Warga Padati Tunas Bumi Fest 2026 di Wonosobo

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:05

Disambut Sholawat, Gus Yaqut Siap Hadapi Sidang Dakwaan Korupsi Kuota Haji

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:56

Pemulihan Ekosistem Harus Dilakukan Secara Serentak

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:54

Trump Media Tekor 238 Juta Dolar AS, Saham Ambruk 8 Persen

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:53

Ruang Amal Indonesia Siapkan 50 Warga Kurang Mampu Tembus Industri Tekstil

Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:49

Selengkapnya