Berita

Ekonom senior DR. Rizal Ramli saat ziarah ke makam Kiai Haji Abbas bin Kiai Haji Abdul Jamil Buntet di Kompleks Makbaroh Gajah Ngambung Pesantren Buntet, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon pada Minggu (27/2)/Yasin

Politik

Ziarah ke Makam Kiai Abbas, Rizal Ramli: Penguasa Sekarang Sudah Lupa Perjuangan Membela Tanah Air

SENIN, 28 FEBRUARI 2022 | 14:25 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Amanah Jasmerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah) dari Presiden pertama RI Soekarno ternyata selalu diamalkan oleh tokoh nasional DR. Rizal Ramli.

Hal tersebut dibuktikan saat dirinya memilih berziarah di akhir pekan. Menko Perekomian era Presiden Gus Dur itu berziarah ke makam Kiai Haji Abbas bin Kiai Haji Abdul Jamil Buntet di Kompleks Makbaroh Gajah Ngambung Pesantren Buntet, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon pada Minggu (27/2).

Jarak tempuh dari kediamannya di Jakarta Selatan ke lokasi memakan waktu kurang lebih 3 jam. Dengan catatan, arus lalu lintas dalam keadaan lancar.


“Bung Karno mengingatkan kita supaya jangan meninggalkan sejarah. Republik ini bisa berdiri dan ada hingga saat ini karena perjuangan para pendahulu kita yang begitu gigih melawan penjajah. Nah, salah satunya adalah Kiai Abbas,” ujar Rizal Ramli di sela kunjungan tersebut.

Bagi Rizal Ramli, Kiai Abbas bukan sekadar ulama besar. Kiai Abbas pernah ditunjuk KH. Hasyim Asy'ari dan ulama-ulama lainnya di Rembang menjadi Komando Resolusi Jihad dalam pertempuran melawan tentara sekutu pada 10 November 1945  di Surabaya.

“Itulah yang menginspirasi saya untuk semangat dalam berjuang,” ujar Rizal Ramli yang juga mantan Tim Panel Ekonomi PBB itu.

“Sayangnya, elite politik dan penguasa sekarang ini seolah sudah lupa dengan perjuangan para pejuang-pejuang terdahulu yang rela mempertaruhkan nyawa demi tanah air,” lanjutnya.

Menurut Rizal Ramli, faktanya banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Dia mencontohkan pemindahan ibukota negara (IKN). Fakta sejarah menyebut bahwa Fatahillah atau yang kita kenal Sunan Gunung Jati pernah mengalahkan serta mengusir Portugis dari Sunda Kalapa. Kemudian, Bung Karno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 itu di Jakarta.

“Kalau tetap keukeuh memindahkan IKN sama saja mencabut akar sejarah dong. Itu baru bicara soal IKN dan sejarah Indonesia. Belum lagi kita bicara dalam konteks kebijakan pemerintah yang lainnya,” sambung mantan Menteri Kemaritiman itu.

Masalah lainnya adalah kelangkaan dan mahalnya harga komoditas, seperti minyak goreng, kedelai, daging, dan sebagainya. Ini semua sebenarnya adalah ujian bagi pemerintah untuk bisa berpihak pada rakyat.

Sebab aneh jika Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki perkebunan sawit terluas, tapi minyak goreng menjadi langka dan mahal. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika pemerintah lebih pro pada pengusaha sawit dan tidak berpihak pada rakyat.

“Belakangan masyarakat juga sempat dibuat gelisah dengan kelangkaan kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Lalu, masalah harga daging yang mahal. Kalau urusan pangan rakyat saja sulit diatasi, bagaimana pemerintah berjuang bagi rakyat dalam urusan yang besar?” tanya Rizal Ramli.

Pandemi, kata Rizal Ramli, seharusnya memberi pelajaran pada pemerintah untuk bisa fokus menggenjot sektor pertanian demi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Jika saat pandemi pemerintah membuat solusi dengan memberikan subsidi pupuk dan bibit bagi para petani, maka masalah pemenuhan rakyat bisa teratasi.

“Bila saran kita dilakukan dengan serius, maka tak ada lagi masalah kelangkaan dan mahalnya harga komoditas. Keberpihakan penguasa sebagaimana para pejuang kita terdahulu membela rakyat dan tanah air juga tetap terjaga,” tandas Rizal Ramli.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya