Berita

Penulis (kedua dari kiri) saat menjadi pembicara di "Forum Internasional Revolusi dan Perubahan di Abad 21" di Caracas, Venezuela, 4 Februari 2022./Ist

Publika

Media Revolusi

RABU, 09 FEBRUARI 2022 | 23:50 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

ADA dilema saat menerima undangan itu pertengahan Januari yang lalu.

Red de Intelectuales y Artistas en Defensa de la Humanidad atau Jaringan Intelektual dan Seniman Pembela Kemanusiaan, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Kementerian Kebudayaan Venezuela, mengharapkan kehadiran saya dalam sebuah forum internasional yang diikuti sekitar 40an peserta dari 20an negara.

Selain Red, forum bertema "Revolusi dan Era Perubahan di Abad 21" itu juga didukung Instituto Simon Bolivar (ISB) dan Institutos de Altos del Pensamiento del Comandante Supremo Hugo Rafael Chavez Frias.


Forum internasional ini digelar dalam rangka memperingati Kudeta yang dilakulan Chavez dan kawan-kawan sayap militernya, Revolutionary Bolivarian Movement-200 atau Movimiento Bolivariano Revolucionario 200 (MBR-200), pada 4 Februari 1992.

Upaya menggusur Presiden Carlos Andres Perez dari Palacio de Miraflores itu gagal. Chavez menyerah. Dia dan pendukungnya dijatuhi hukuman penjara.

Namun menggagalkan kudeta kelompok Chavez -- yang gelombang keduanya terjadi di bulan November 1992 -- tak bisa menyelamatkan karier politik Perez. Kekuasaannya semakin lemah. Di bulan Maret 1993, Perez digugat Jaksa Agung dalam kasus penggelapan uang.

Pada Mei di tahun itu juga Mahkamah Agung menyatakan Presiden Perez bersalah, dan sehari kemudian Parlemen melucuti semua kekuasaan yang dimilikinya. Presiden Perez digulingkan.

Tahun 1994, Presiden Rafael Caldera (pemerintahan kedua) membebaskan Chavez. Tahun 1997, Chavez meng-upgrade gerakannya menjadi Fifth Republic Movement atau Movimiento V República (MVR). Setahun kemudian, Chavez memenangkan pemilihan presiden.

***

Undangan itu membuat dilema, karena bila menghadirinya saya tidak akan dapat mengikuti ulang tahun Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 yang keduanya diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Saya dijadwalkan berangkat tanggal 31 Januari. Lalu transit di Istanbul, Turki selama 22 jam. Tiba di Venezuela tanggal 2 Februari. Konferensi diselenggarakan selama dua hari, tanggal 3 dan 4 Februari di bekas kediaman presiden Venezuela sebelum era Chavez, La Casona Cultural.

Tanggal 5 Februari ada satu kegiatan kebudayaan di bario St. Agustin, dan tanggal 6 Februari saya dijadwalkan kembali ke Jakarta via Istanbul -- di mana saya harus transit lagi selama 22 jam -- dan mendarat di Jakarta tanggal 8 Februari petang.

Pilihan yang sulit, karena dua kegiatan di tanah air, HUT JMSI dan HPN 2022, bernilai penting. Apalagi ulang tahun ke-2 JMSI. Ini akan jadi ulang tahun spesial karena diselenggarakan tidak lama setelah organisasi perusahaan pers itu diresmikan sebagai Konstituen Dewan Pers.

Setelah menarik nafas sejenak, saya putuskan berangkat ke Venezuela. Pertimbangannya antara lain, saya sudah menyampaikan pokok-pokok penting yang harus dilakukan JMSI setelah jadi konstituen Dewan Pers dalam Rakorsus di Bandung, Jawa Barat, Januari lalu.

Memang, karena bersifat khusus, tidak semua unsur pimpinan daerah hadir. Tapi saya percaya, pokok-pokok pikiran itu akan cepat disosialisasikan.

Pertimbangan lain, saya merasa perlu untuk tampil sebagai representasi Indonesia. Bagaimana pun juga, masyarakat dunia perlu diingatkan kembali bahwa Indonesia pernah menjadi ibukota revolusi. Para pendiri bangsa kita ikut mengambil inisiatif untuk membangun kesadaran kemerdekaan di Asia dan Afrika. (Ini sudah saya sampaikan di hadapan peserta konferensi.)

Ketika menuliskan kisah ini, saya sedang menjalani karantina di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Persis di Hari Pers Nasional (HPN) 2022. Dan karenanya, tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk kita semua, praktisi pers dan kaum revolusioner di manapun berada. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik.

***

Di Caracas, penyelenggara meminta saya membagi pandangan mengenai hubungan pers dan revolusi. Di sesi ketiga.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah bahwa pers dan perubahan sosial, terserah bagaimana kita menyebutnya -- bisa reformasi, bisa revolusi, dan sebagainya -- adalah seperti saudara satu sama lain. Mereka tumbuh di alam penindasan, dan karenanya memiliki pengalaman dan perasaan yang sama.

Perubahan sosial rasanya selalu memanfaatkan -- atau diuntungkan oleh -- pers. Pers mempercepat dan memperdalam penyebaran api perlawanan.

Ketika pers membuka pintu bagi kemerdekaan, persis di saat yang sama, dia menutup pintu bagi penjajahan.

Setidaknya, langkah pertama yang dilakukan pers adalah membangun narasi "kita" (terjajah) untuk membedakan dengan "mereka" (penjajah).

Di masa-masa perjuangan, hubungan keduanya sangat erat. Namun setelah kemenangan diraih, ada kalanya pers dan kaum revolusioner berselisih paham.

Bila kaum revolusioner yang sudah jadi penguasa itu sangat kuat, dia bisa membengkokkan pers. Bila sebaliknya, pers yang akan meluruskannya.

Tapi sering juga penguasa dan pers, karena tumbuh bersama bagaikan saudara, sepakat untuk sama-sama bengkok. Habis perkara.

Belum.

Akan hadir pers baru dan kaum revolusioner baru. Membuka bab baru.

Kapan?

Kita tunggu.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya