Berita

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Salamuddin Daeng/Net

Publika

Ketika Pertamina Jadi Tumbal Sawit dan Batubara, Sampai Kapan Bertahan?

SABTU, 29 JANUARI 2022 | 07:36 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BATUBARA dan sawit sekarang dimusuhi di mana-mana. Kedua komoditi ini telah dipandang sebagai biang kerok kerusakan lingkungan, terutama sekali deforestasi atau penggundulan hutan.

Komoditi sawit dan batubara ini telah kehilangan pasar di negara-negara Eropa dan dunia lainnya. Terutama sejak kesepakatan perubahan iklim di glasgow Inggris maka ke depan sawit dan batubara akan dihentikan sama sekali. Mungkin pasarnya tinggal China dan India.

Mereka sawit dan Batubara  tidak boleh lagi mendapatkan dukungan dari negara atau fiskal , tidak boleh lagi mendapatkan pembiayaan dari bank, tidak boleh lagi mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan internasional.


Namun Indonesia, batubara dan sawit tampaknya akan melawan sampai mati. Pemerintahan Jokowi tampaknya akan berdiri dibelakang sawit dan Batubara. Ini memang kontradiksi karena Jokowi adalah Presiden G20 dan salah satu pimpinan COP 26 Inggris.

Namun kalau memang benar-bandar sawit batubara bersama Jokowi mau melawan agenda global G20 dan climate change, maka itu bisa dilakukan dengan syarat sebagai berikut:

1. Ekonomi Indonesia sepenuhnya bersandar pada pasar dalam negeri dan berhenti ekspor apapun termasuk Batubara dan sawit karena akan terkena tax carbon 250 dolar per ton.

2. Ekonomi Indonesia bersandar pada keuangan dalam negeri dan tidak mengandalkan fasilitas utang yang dipromosikan melalui isue climate change. Sementara uang ke depan hanya akan mengalir dari pendanaan climate change atau perubahan iklim.

3. APBN dan perusahaan BUMN mampu hidup dari bank bank nasional dan tidak mengharapkan pembiayaan asing. Jadi APBN dan BUMN akan berhenti berutang pada asing.

Jika memang Jokowi dan para bandar batubara dan bandar sawit  bisa melakukan ketiga hal di atas, maka batubara akan tetap jaya di dalam negeri Indonesia. Batubara dan sawit tetap akan menjadi oligarki paling kuat di tanah air.

Apalagi sekarang, sebagian masalah mereka telah berhasil dikirim atau dibebankan kepada Pertamina melalui gasifikasi batubara dan solarisasi sawit, maka pasar batubara dan sawit makin mantap. Karena Pertamina dipaksa membeli 10 juta ton minyak sawit untuk dicampur dengan solar dan Pertamina harus membeli puluhan juta ton batubara.

Memang konsekuensinya Pertamina sebagai konsumen bahan bakar kotor akan susah mendapatkan fasilitas keuangan. Namun sisi lain Pertamina tampaknya akan  bersandar pada keuangan pengusaha sawit dan batubara, sebagaimana PLN sekarang yang sepenuhnya bersatu dengan bandar batubara.

Sisi lain bank bank nasional sama sekali tidak peduli dengan isu iklim atau COP 26. Jadi bank-bank nasional terutama bank BUMN masih bisa disedot dananya bagi eksploitasi energi primer batubara dan sawit.

Tidak peduli dunia mau ngomong apa. Anjing menggonggong, PLN dan Pertamina tetap berlalu. Karena presiden G20 Jokowi dan salah satu pimpinan COP 26 Jokowi dan pasukannya masih mendukung sawit dan batubara. Sepp lah.

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya