Berita

Kondisi David Bennett, pasien transplantasi jantung babi/Net

Dahlan Iskan

Komentar Tuhan

SELASA, 25 JANUARI 2022 | 05:13 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BERAPA lama David Bennett akan bisa hidup dengan jantung babinya?

Lima hari lalu, 18 Januari, ia memasuki babak baru penyembuhan: alat bantu jantungnya sudah dilepas. Pria 57 tahun itu sudah sepenuhnya menggunakan jantung babi untuk hidupnya.

David juga sudah bisa bercakap-cakap –bukan sekadar grrkhh-grrkhh-grrkhh– dengan siapa pun yang ada di sekitar tempat tidurnya di Maryland Medical Center, Baltimore.


Memang belum ada laporan kapan diizinkan keluar dari rumah sakit. Teoretis, dua minggu lagi sudah boleh pulang. Satu bulan setelah transplant, mestinya, semua alat bantu sudah bisa dilepas. Sudah bisa berjalan. Sudah bisa ke toilet sendiri.

Saya dulu memutuskan tiga bulan, baru pulang. Terlalu banyak sumber infeksi di rumah –termasuk banyaknya kunjungan keluarga dan tamu. Sebenarnya bukan saya yang memutuskan itu, tapi Robert Lai, teman Singapura saya. Ia tahu kondisi rumah saya. Juga tahu kebiasaan saya yang kurang menjaga kebersihan.

Tentu David masih harus terus diobservasi. Lebih lama. Terutama kontrol kedisiplinannya minum obat. Ia pernah ketahuan tidak disiplin minum obat. Itu sekaligus jadi objek penelitian: apa saja yang akan menjadi penyebab kematiannya kelak. Termasuk penyebab yang tidak ada hubungannya dengan transplant organ babi itu.

Misalnya, kejatuhan pohon. Atau ditabrak truk. Atau tiba-tiba ada orang yang menikamnya saat minum bir di bar.

Ilmu pengetahuan berkepentingan agar David berumur panjang.

Harusnya David bisa hidup paling tidak tiga tahun lagi. Itu berdasar pengalaman Prof Muhammad Mohiuddin yang menjadi partner Prof Bartley Griffith mentransplantasi jantung David 7 Januari lalu.

Prof Mohiuddin adalah seorang ilmuwan, peneliti sekaligus ahli bedah jantung. Asal Pakistan. Lulus dokter di Dow Medical School Karachi. Ia direktur di program transplant organ binatang ke manusia di Maryland Medical Center. Ia yang mendirikan program itu 4 tahun lalu. Griffith yang menjadi direktur kliniknya.

Dua ilmuwan itu sudah lebih dulu mencoba melakukan transplant serupa ke tubuh kera baboon.

Sama: jantung babi yang dipasang ke baboon itu juga sudah diedit. Unsur gen yang membuat jantung babi itu ditolak oleh tubuh baboon sudah dibuang. Menurut The Lancet, jurnal ilmiah terkemuka, salah satu unsur gen yang dibuang dari jantung babi itu adalah: anti-CD40 di antibodi. Ternyata antibodi itu sendiri begitu banyak unsurnya. Salah satunya adalah yang bertugas khusus untuk menolak benda asing yang masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh.

Unsur gen lain yang juga dibuang Anda sudah tahu: yang membuat jantung babi terus tumbuh membesar. Yang bisa membuat dada manusia akan terlalu penuh.

Soal ukuran rongga dada itu ternyata juga penting –meski tidak sepenting unsur kecocokan medis antara tubuh manusia dan organ babi.

Ukuran jantung babi –juga ginjalnya– ternyata pas untuk rongga yang tersedia di tubuh manusia. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Asal, itu jantung babi berumur 1 tahun, yang sudah disiapkan di peternakan khusus. Ukuran jantung muda itu masih akan membesar seiring pertambahan umur dan ukuran babi. Itulah sebabnya unsur gen pertumbuhannya harus dibuang. Jangan lebih besar lagi.

Ruang di dada manusia ternyata juga bisa berubah. Sebelum melakukan transplant hati, ruang dada saya ternyata sudah sempat mengecil. Itu karena hati saya sudah mengecil akibat sirosis. Tulang rusuk saya berubah mengikuti ukuran organ tersebut.

Itulah sebabnya ketika hati baru yang ukurannya normal dimasukkan ke dada saya, ada sedikit masalah: terlalu sesak. Tapi masih dalam batas yang aman. Itulah penjelasan dokter yang saya terima setelah transplant 17 tahun lalu.

Penemuan dan pengalaman editing unsur gen jantung babi yang dilakukan Prof Mohiuddin tentu akan menjadi dasar untuk langkah berikutnya di masa depan. Apalagi kalau terbukti David tidak mati akibat penolakan jantung babi itu.

Sewaktu Prof Mohiuddin mencoba transplant jantung baboon, tidak terjadi penolakan itu. Aman. Setidaknya selama tiga tahun. Baboon terus hidup normal.

Akhirnya baboon itu memang mati. Tapi itu karena Prof Mohiuddin sengaja mencoba mengembalikan unsur gen penolakan itu. Masa tiga tahun uji coba dianggap sudah sangat cukup. Akhirnya baboon itu mati akibat sesak napas –jantung babinya tidak berfungsi lagi, ditolak oleh badan baboon.

Kalau David nanti bisa hidup lebih 3 tahun belum tentu akan ada transplant seperti itu untuk umum. Prosedur untuk bisa dipraktikkan masih panjang. Bahkan untuk bisa dapat izin uji coba pun masih lama. Yang dilakukan pada David itu berdasar "izin welas asih". Belum izin uji coba. Waktu itu jantung David sudah di terminal akhir. Begitu alat batu dilepas ia mati. Berbagai pusat transplant juga menolak memasukkan David ke daftar prioritas: ia tidak disiplin berobat. Juga pernah masuk penjara akibat menikam pemuda yang memangku pacarnya dulu di bar biliar.

Tahap uji coba masih begitu lama. Perlu beberapa kali kisah sukses seperti David –meski tidak perlu menunggu ada orang lain yang ditikam di bar.

Yang jelas editing gen manusia akan menjadi trend komersial di masa depan. Sayang kita tidak bisa mendapat kabar lebih lanjut: bagaimana nasib bayi kembar yang di Shenzhen, Tiongkok. Yang lahir lebih dua tahun lalu itu: Lulu dan Nana. Bayi kembar itu produk editing gen yang dilakukan Prof He Jiankui di sana. (Baca Disway edisi: Lulu dan Nana)

Editing dilakukan justru ketika bayi masih dalam bentuk embrio. Unsur-unsur yang akan menjadi penyakit tertentu dibuang. Unsur-unsur yang membuat pintar didorong.

Prof He Jiankui sendiri dijatuhi hukuman penjara 3 tahun: dianggap melanggar hukum kedokteran di sana. Juga dikenakan denda sekitar Rp 5 miliar. (Baca Disway edisi: Hukuman Ilmuwan)

Tapi bayi kembar itu sendiri tentunya dibiarkan hidup. Dipelihara, entah oleh ibu mereka atau oleh negara. Sekarang, mestinya, bayi kembar itu sedang lucu-lucunya.

Dengan majunya ilmu editing gen itu, Tuhan, sebagai pencipta manusia, harus berkomentar apa?

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Sidang Praperadilan Yaqut Cholil Qoumas Dikawal Puluhan Banser

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:13

Pramono Setop Izin Baru Lapangan Padel di Zona Perumahan

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:08

Komisi II DPR Dorong Partisipasi Publik dalam Penyusunan RUU Pemilu

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:07

Usulan Masyarakat Patungan MBG Dinilai Problematis

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:03

CELIOS Surati Presiden, Minta Perjanjian Tarif Indonesia-AS Dibatalkan

Selasa, 24 Februari 2026 | 12:03

Tewasnya El Mencho Disebut-sebut Bagian dari Operasi Senyap Trump Basmi Kartel Meksiko

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:56

Ribuan Buruh Bakal Kepung DPR Tuntut Pembatalan Impor Pickup 4x4

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:49

Emas Antam Loncat Rp40 Ribu Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:44

Gubernur Lemhannas: Potensi Konflik Global Bisa Picu Perang Dunia Ketiga

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:39

KSPI Tuduh Perusahaan Gunakan Modus “Dirumahkan” via WhatsApp untuk Hindari THR

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:28

Selengkapnya