Berita

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menggunakan masker medis/Net

Dunia

Penelitian di Inggris: Masker Wajah Medis Membuat Pria Terlihat Lebih Menarik

JUMAT, 14 JANUARI 2022 | 20:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Masker medis merupakan hal yang biasa digunakan oleh banyak orang di dunia sejak pandemi Covid-19 terjadi. Fungsi utama penggunaan masker medis adalah untuk melindungi diri dari potensi penularan virus corona.

Namun sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa masker medis juga bisa jadi memiliki "fungsi" lain, yakni membuat penampilan menarik, terutama bagi pria.

Penelitian itu dilakukan oleh para peneliti di Fakultas Psikologi Universitas Cardiff di Inggris. Mereka menemukan bahwa pria yang menggunakan masker medis dianggap lebih menarik oleh lawan jenis.


Dalam penelitian itu mereka menemukan bahwa masker medis dibuat sebagai penutup yang lebih menarik daripada masker kain. Masker medis bisa menutupi lebih baik wajah-wajah pria yang kurang atraktif.

"Meskipun masker medis mungkin menjadi penyakit utama, masker juga dapat dilihat sebagai tanda warga negara yang bertanggung jawab dan peduli, yang dapat berdampak positif pada daya tarik yang dirasakan," kata peneliti Universitas Cardiff dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Cognitive Research: Principles and Implications pekan ini.

Bagaimana penelitian ini dilakukan?

Para peneliti di Universitas Cardiff melakukan percobaan mereka pada Februari 2021, atau sekitar tujuh bulan setelah masker wajah menjadi hal yang wajib digunakan di tempat umum di Inggris.

"Penelitian yang dilakukan sebelum pandemi menemukan masker medis mengurangi daya tarik," kata salah satu penulis studi tersebut, Dr Michael B Lewis, dalam sebuah artikel di situs Cardiff University

"Kami ingin menguji apakah ini telah berubah sejak penutup wajah menjadi di mana-mana dan memahami apakah jenis masker memiliki efek," sambungnya.

Sebanyak 43 mahasiswa psikologi wanita diminta untuk menilai 160 "rangsangan" berupa wajah pria untuk daya tarik pada skala 1 hingga 7.

160 rangsangan ini terdiri dari 40 wajah laki-laki dalam empat variasi, yakni dengan wajah tertutup penuh, wajah ditutupi buku catatan, wajah ditutupi masker kain, dan wajah ditutupi masker medis.

Para wanita tersebut juga ditanya apakah mereka setuju bahwa masker wajah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dalam satu tahun terakhir dan apakah mereka setuju bahwa penggunaan masker wajah efektif dalam mencegah penyebaran Covid-19. Mereka menunjukkan tingkat persetujuan yang tinggi dengan pernyataan tersebut.

Apa hasil penelitian tersebut?

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa wajah yang ditutupi masker medis "jauh lebih menarik" daripada wajah yang ditutupi oleh masker kain atau buku catatan.

Para peneliti menjelaskan bahwa keuntungan untuk wajah tertutup konsisten dengan temuan umum bahwa menutupi fitur wajah meningkatkan daya tarik, terlepas dari fitur mana yang ditutupi dan "daya tarik dasar" wajah. Namun, dalam penelitian ini tampaknya ada keuntungan lebih dari penggunaan masker medis.

"Keuntungan masker kain dapat dikaitkan dengan efek oklusi, tetapi efek masker medis lebih dari sekadar menyembunyikan fitur yang tidak diinginkan (pada wajah)," kata para penulis.

"Ada kemungkinan bahwa keuntungan tambahan untuk masker medis berasal dari asosiasi mereka dengan profesional medis," sambungnya.

Para peneliti mengakui, efek tersebut mungkin hanya ada selama pandemi Covid-19.

Dr Lewis mengatakan penelitian menunjukkan bahwa pandemi telah mengubah psikologi kita dalam persepsi pemakai masker.

"Ketika kita melihat seseorang memakai masker, kita tidak lagi berpikir, 'Orang itu memiliki penyakit, saya harus menjauh'," katanya.

"Ini berkaitan dengan psikologi evolusioner dan mengapa kita memilih pasangan yang kita lakukan. Penyakit dan bukti penyakit dapat memainkan peran besar dalam pemilihan pasangan - sebelumnya isyarat apa pun terhadap penyakit akan sangat mematikan," sambungnya, seperti dikabarkan Channel News Asia.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya