Berita

Tentara di depan gedung parlemen Karzakhstan yang dikabar massa/Net

Dunia

Kerusuhan Kazakhstan, Pendemo: Kami Bukan Teroris, Suara Kami Dibungkam

SABTU, 08 JANUARI 2022 | 12:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setiap kerusuhan selalu menimbulkan korban dengan tingkat kerugian yang berbeda-beda. Kazakhstan, yang selama bertahun-tahun diselimuti ketegangan akibat konflik politik yang isunya menutupi derita kemiskinan warganya, mengalami kerugian besar saat demo berdarah berlangsung selama lima hari terakhir.

Ketika media melaporkan para perusuh mencoba merusak gedung, menjarah, dan melukai aparat, di sisi lain, para perusuh mengatakan tidak ada di antara mereka yang memiliki senjata tajam. Sebut saja Aigerim Tuleuzhanova, seorang aktivis dari Partai Demokrat Kazakhstan, yang berada di antara sekitar 200 pengunjuk rasa di Almaty's Republic Square pada 6 Januari, yang mengatakan bahwa sekelompok tentara melepaskan tembakan dengan peluru tajam ke arah pendemo yang bahkan tidak membekali dirinya dengan benda apa pun.

Tembakan petugas menggema di penjuru kota, namun insiden berdarah itu tidak dilaporkan karena dengan akses ke internet terputus di seluruh negeri dan layanan telepon seluler terputus oleh KazakhTelecom yang dikelola negara, suara para pengunjuk rasa di Kazakhstan secara efektif telah dibungkam.


Yang pasti, ada tembakan di dekat Republic Square pada 6 Januari di tengah laporan bentrokan yang sedang berlangsung antara pasukan keamanan dan demonstran bersenjata.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan pihaknya "melikuidasi" lebih dari 26 "penjahat bersenjata" dan menangkap lebih dari 3.000 orang dalam beberapa hari terakhir. Dikatakan 18 polisi dan pasukan penjaga nasional telah tewas. Beberapa laporan mengklaim puluhan demonstran telah tewas sejak protes dimulai.

Tuleuzhanova bersikeras dalam sebuah wawancara dengan Layanan Kazakh RFE/RL bahwa mereka yang ditembaki di Almaty Republic Square tak lama setelah matahari terbenam pada 6 Januari adalah aktivis muda Kazakh yang tidak bersenjata.

Para pendemo kemudian menolak narasi Presiden Kassym-Jomart Tokayev yang menyebut mereka sebagai teroris yang harus ditembaki, dengan membentangkan spanduk yang menyatakan "Kami bukan teroris!" dan “Toqaev: Jangan tembak kami!”

Para pengunjuk rasa juga menyerukan pembentukan unit milisi lokal untuk melindungi orang-orang dari apa yang mereka sebut sebagai “provokator.”

Kazakhstan berada dalam kekisruhan politik di bawah kekuasaan presiden pertama Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, yang mundur pada 2019 lalu, kemudian menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan yang berkiprah menentukan arah kekuasaan Kazakhstan.

Aksi protes yang meletus pada 2 Januari adalah luapan dari ketegangan yang sudah lama menumpuk. Namun, perlu diingat, sebagaimana yang disampaikan Tokayev para perusuh diduga kebanyakan bukanlah orang Kazakh, melainkan pihak luar

Para penuntut meminta keadilan di negara yang telah kehilangan demokrasinya itu. Tuntutan para demonstran itu sendiri telah berkembang biak ketika protes telah menyebar ke seluruh negeri.

Salah satu tuntutan utama oleh banyak orang untuk reformasi demokrasi akan memaksa pejabat daerah untuk mengambil bagian dalam pemilihan daripada ditunjuk oleh pemerintahan presiden di ibu kota, Nur-Sultan.

Tetapi para kritikus mencatat bahwa Kazakhstan tidak pernah mengadakan pemilihan yang dianggap "bebas dan adil" oleh pengamat Barat sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Dalam pemilihan legislatif Januari 2021, tidak ada kelompok oposisi yang terpilih menjadi anggota parlemen Kazakh. Itu karena upaya untuk mendaftarkan suara itu oleh kelompok oposisi seperti Partai Demokrat dan partai El Tiregi (Ketergantungan Nasional) pimpinan Nurzhan Altaev semuanya ditolak.

Satu-satunya partai politik yang terdaftar secara resmi yang menyebut dirinya oposisi, Partai Sosial Demokrat Seluruh Nasional, memboikot pemungutan suara itu sebagai tipuan.

Aktivis hak mengatakan pemerintahan Toqaev telah secara efektif menghapus semua cara hukum bagi warga untuk berpartisipasi dalam politik - meninggalkan Kazakh tanpa perantara politik untuk menyelesaikan masalah ekonomi negara.

Nazarbayev sendiri tidak pernah muncul setelah mengundurkan diri di awal aksi protes berlangsung. Ia menghilang, dan menjadi sasaran bulan-bulanna pendemo yang merobohkan patungnya dan meneriakinya dengan kalimat yang kasar di spanduk.

Sebuah laporan dari situs regional kg.24 mengklaim bahwa dua pesawat milik keluarga Nazarbaev yang berusia 81 tahun, yang memerintah negara itu dengan kuat selama hampir tiga dekade, telah mendarat di Bandara Manas di negara tetangga Kirgistan semalam, dan setidaknya satu telah kemudian meninggalkan Manas tak lama setelah tengah malam waktu setempat.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Febrie Adriansyah Resmi Ajukan Gugatan Praperadilan ke PN Jaksel

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:27

Menko Polkam: Aktivitas Masyarakat Tetap Normal, Pasar dan Mal Ramai

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:26

Gelombang Reshuffle Berlanjut, Zelensky Pecat Dubes Ukraina untuk AS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:22

Harga Garam Brebes Anjlok saat Panen Raya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:16

Kelakuan SPPG di Ketapang: Rumah Wartawan Dikepung, Istrinya Diintimidasi

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:02

Situasi di Dalam Negeri Sangat-sangat Mantap

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:52

Laba Tergerus, Saham Lufthansa Anjlok 8 Persen

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:51

Kepemilikan Aset Tak Wajar Jadi Indikator Awal Pencucian Uang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:40

Api Membakar Lahan, Seorang Ayah Tak Pernah Pulang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:31

Koperasi Merah Putih Dinilai Jadi Penentu Implementasi Pasal 33 UUD 1945

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya