Berita

Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng/Net

Politik

Salamuddin Daeng: Jika Penerimaan Pajak 2021 Hebat, Kenapa Sri Mulyani Tambah Utang Rp 1.000 T?

SELASA, 28 DESEMBER 2021 | 09:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kegembiraan Menteri Keuangan Sri Mulyani atas penerimaan pajak yang sudah menembus target tahun 2021 terus menuai kritik. Salah satunya karena capaian itu didapat di saat target penenerimaan pajak diturunkan.

Per 26 Desember 2021, neto penerimaan pajak sebesar Rp 1.231,87 triliun atau setara 100,19 persen dari target APBN sebesar Rp 1.229,6 triliun.

Namun demikian, target penerimaan pajak ini jauh berada di bawah jika dibanding tahun 2019 yang sebesar Rp 1.557 triliun.


Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng pun bertanya-tanya tentang kemampuan Sri Mulyani dalam merencanakan keuangan negara.

“Kalau memang penerimaan pajak melebihi target mengapa target dalam perencanaan anggaran diturunkan? Berarti dia SMI tidak pandai dalam merencanakan,” tegasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Selasa (28/12).

Di satu sisi, Salamuddin Daeng juga merasa aneh jika penerimaan pajak ini dikatakan adalah sejarah pencapaian terbaik. Sebab, Sri Mulyani selalu mengancam bahwa Indonesia akan krisis.

Anehnya lagi, jika memang target pajak di atas 100 persen, maka mengapa Sri Mulyani mengambil utang yang begitu besar.

“Jika memang penerimaan pajak begitu hebat, bagaimana bisa tambahan utang tahun 2020 mencapai Rp 1.063 triliun dan 2021 juga lebih dari Rp 1.000 trililiun dan 2022 juga lebih dari Rp 1.000 triliun,” tanya Salamuddin Daeng.

“Apa yang menjadi landasan moral Sri Mulyani menambah utang yang nilainya hampir setara dengan penerimaan pajak? Tambahan utang Rp 1.000 triliun, penerimaan pajak Rp 1.200 triliun,” lanjutnya.

Baginya, penerimaan pajak yang hebat menurut Sri mulyani ini agak mistis. Mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mencapai posisi normal sebelum Covid-19. Selama ini penerimaan pajak juga tidak pernah mencapai target.

“Apakah selama pemerintahan Jokowi banyak pajak yang disembunyikan sengaja tidak ditagih, atau pajaknya masuk ke kantong oknum pajak?” tanyanya lagi.

Menurut Salamuddin Daeng, selama ini pajak tidak pernah dikelola secara transparan. Sementara di era digitalisasi setiap sen transaksi apapun yang terjadi seharusnya penerimaan pajak sudah bisa diketahui rakyat banyak.

“Tapi mengapa pengelolaan pajak sangat inclusive. Petugas pajak bak dewa dengan sejuta senjata rahasia,” sambungnya.

Jika memang penerimana pajak hebat, maka Sri Mulyani harus mengubah anggaran 2022. Sehingga tidak boleh ada tambahan utang Rp 1.000 triliun dengan alasan Covid-19. APBN 2O22 harus kembali ke keadaan normal sebelum Covid-19.

“Mulai sekarang Sri Mulyani tak boleh bercanda lagi mengancam Presiden Jokowi bahwa Indonesia akan krisis. APBN harus direncanakan kembali menghadapi kondisi normal,” tutupnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya