Berita

Ilustrasi/Disway

Dahlan Iskan

99 pCt v pCt

SENIN, 20 DESEMBER 2021 | 04:19 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MENGAPA artis dan selebriti dilarang pakai tas dan pakaian bermerek di media? Mengapa games tertentu dilarang untuk anak-anak? Dan mengapa orang tua yang membiarkan anaknya main games itu dihukum? Mengapa pula Jack Ma dari Alibaba didenda sampai Rp 25 triliun?

Tentu saya harus mencari tahu apa yang terjadi di balik semua itu-untuk Disway.

Tidak semudah dulu-ketika saya masih bisa mondar-mandir ke Tiongkok. Sudah dua tahun saya tidak ke sana-sejak sebelum Covid-19. Sekarang pun masih sulit ke sana. Masih ketat sekali. Fokus di sana masih pada penyelenggaraan Olimpiade musim dingin Februari depan. Yang diboikot Amerika dan tiga negara sekutunya itu: Australia, Inggris, dan Kanada.


Akhirnya saya mulai bisa menemukan jawabnya. Mungkin saja itu salah. Ini sama sulitnya

dengan menganalisis peristiwa di dalam negeri ini: mengapa Novel Baswedan dkk beneran

ditarik ke Polri. Mengapa pula atasan tertinggi mereka di KPK, Firli Burli, juga ditarik kembali ke Polri-dua hari lalu. Kini atasan yang mereka protes itu dan para bawahan yang memprotes itu, sama-sama ada di Polri.

Yang terjadi di Tiongkok juga rumit. Masalahnya menyangkut filsafat negara yang sangat mendasar: tujuan bernegara. Tegasnya: untuk apa negara anda.

Tujuan bernegara itu, di sana, dirumuskan dalam dua kata: Mimpi Tiongkok (FF). Seperti yang dilontarkan Presiden Xi Jinping di awal jabatannya dulu.

Tapi apa itu Zhong Meng, tidak segera jelas. Xi Jinping masih memprioritaskan dulu terwujudnya dasar-dasar untuk bisa melahirkan mimpi itu.

Sampai sekarang banyak yang mengira tujuan Tiongkok adalah ini: untuk menjadi negara superpowernomor 1 di dunia. Mengalahkan Amerika. Dan itu kian dekat. Diperkirakan akan terjadi di sekitar tahun 2030.

Baru dua-tiga bukan terakhir saya mendapat bocoran lebih jelas. Ternyata tujuan Tiongkok lebih jauh dari itu. Menjadi nomor 1 itu hanya hasil sampingan. Tujuan utamanya adalah Mimpi Tiongkok: sejahtera dan harmoni.

Sejahtera lewat pembangunan ekonomi dan sosial.

Harmoni akan dicapai lewat pembentukan jiwa manusia.

Mengapa menjadi nomor 1 bukan tujuan utama? "Konsekuensi menjadi negara superpower nomor 1 itu sangat berat. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat," ujar salah satu sumber saya di sana.

Bisa saja sumber itu bagian dari indoktrinasi, provokasi, promosi dalam sistem komunisme. Tapi sedapat mungkin saya mencoba membedakan mana informasi yang menyesatkan dan mana yang kenyataan.

Yang jelas upaya mencukupi sandang-panganpapan benar-benar telah tercapai. Tujuan menghilangkan kemiskinan juga baru saja tercapai-atau kalau mau lebih hati-hati, sudah di depan mata.

Persoalannya masih dua: munculnya perbedaan kaya miskin dan terjadinya perubahan moral masyarakat-yang kian mengejar materi.

Indonesia memang bisa lebih bangga: perbedaan kaya-miskinnya tidak semencolok Tiongkok - berdasarkan indeks Gini. Tapi mengejar pemerataan itu, di sana, bisa lebih mudah: kekayaan yang akan dibuat merata itu ada. Cukup. Banyak. Berlebih.

Maka di Tiongkok -masih di kalangan terbataskini beredar istilah seksi: 99 persen vs 1 persen. Itu bukan dalam konotasi negatif. Tidak seperti di Indonesia: khususnya soal isu 1 persen penduduk menguasai 59 persen tanah negara.

Di Tiongkok, isu itu lebih menyangkut pemahaman umum: di mana posisi negara. Di atas yang 99 persen atau di atas yang 1 persen.

Itu pun tidak dalam arti konfrontasi. Tidak ada pembenturan antara 99 persen itu dan 1 persen itu.

Yang 99 persen pasti diurus oleh negara. Pun yang 1 persen. "Negara berada di atas 100 persen," rakyatnya.

Berdasarkan kajian di sana, 99 persen rakyat itu sebenarnya tidak punya banyak keinginan. Yang penting terjamin dasar-dasar kehidupan: pangan, sandang, papan. Ditambah pendidikan. Ditambah lagi kesehatan.

Selebihnya adalah keinginan. Keinginan itulah yang ditunggangi ambisi dan kerakusan. Lalu: ambisi dan kerakusan itu yang merusak kehidupan. Yang pula bertentangan dengan tujuan hidup manusia. Pun bertentangan der filsafat hidup Konghucu.

Tapi menjadi kenyataan juga bahwa-berdasar kajian ituterdapat 1 persen penduduk yang genius. Yang tidak biasa-biasa saja. Yang mampu menciptakan apa pun yang bisa membuat kehidupan lebih mudah.

Lapisan kecil itu pula yang bisa membuat kemajuan di segala bidang. Termasuk di bidang ekonomi dan teknologi.

Maka penting sekali mengakomodasikan yang satu persen itu. Jangan dimusuhi. Tapi juga tidak seharusnya diciptakan iklim agar yang 99 persen ikut-ikutan bergaya 1 persen itu.

Intinya: jangan sampai 99 persen rakyat yang keinginannya biasa-biasa saja itu dirangsang untuk punya keinginan berlebihan. Akhirnya terjadi kerakusan sosial.

Bumi cukup untuk menghidupi kebutuhan seluruh umat manusia. Tapi tidak akan cukup menghidupi kerakusan sejumlah saja penghuninya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya