Berita

Foto Disway

Dahlan Iskan

Michelle Annissa

SABTU, 30 OKTOBER 2021 | 04:32 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEBERAPA kali ke Boston tetap saja tidak punya alasan untuk ke Long Island. Pulau di Teluk Boston itu memang praktis sudah diabaikan. Panjangnya 3 Km. Lebarnya 300-an meter.

Satu-satunya jembatan ke pulau itu sudah dibongkar. Di tahun 2014 lalu. Itu memang jembatan sederhana-untuk ukuran teknologi jembatan sekarang ini: terbuat dari besi. Orang Boston sendiri tidak mau menyebutnya jembatan -itu viaduct. Panjangnya 1 Km dengan lebar 10 meter.

Minggu ini jembatan itu hidup lagi. Setidaknya di acara debat calon wali kota Boston. Pilwali nya minggu depan. Tepatnya tanggal 2 November 2021. Yang mau memilih lewat pos sudah bisa memasukkan suara sejak tiga hari lalu. Terakhir hari ini. Agar pos bisa mengirim semua surat suara sebelum tanggal 2 Januari. Hanya penyandang cacat yang boleh mencoblos secara elektronik.


Calon wali kotanya dua orang. Dua-duanya wanita. Dua-duanya bukan kulit putih. Ini sejarah baru bagi Boston. Yang penduduk kulit putihnya masih sekitar 53 persen.

Cawali Annissa Essaibi George: jembatan itu harus dibangun kembali.

Cawali Michelle Wu: tambah saja ferry ke sana.

Annissa lahir di Boston. Umur: 47 tahun. Ibunyi: Polandia. Ayahnyi: Tunis. Sang ayah masih dikenal sebagai pemeluk Islam di Boston. Dia sendiri ikut ibunyi: Katolik.

Michelle Wu lahir di Chicago. Umur: 36 tahun. Ayah-ibunyi: Taiwan. Mereka migrasi ke Amerika tahun 1982 -tiga tahun sebelum Wu lahir. Sampai tamat SMA pun masih di Chicago.

Pulau itu tidak penting lagi-pun sejak lama. Apalagi sekarang. Di zaman perang, militer memang menjadikannya pangkalan. Lalu jadi pusat rehabilitasi penyakit tertentu. Atau untuk yang kecanduan obat dan alkohol. Pernah juga untuk menampung gelandangan.

Ketika jembatan dianggap sudah terlalu tua-dibangun tahun 1950kendaraan dilarang melewatinya.

Delapan tahun lalu Wali Kota Marty Walsh membongkarnya.

Walsh, kulit putih, sebenarnya ingin maju lagi di pilwali 2021 ini. Untuk periode yang ketiga. Ternyata Walsh diangkat menjadi menteri tenaga kerja di kabinet Presiden Joe Biden.

Sebenarnya Walsh sudah mendaftar untuk pemilihan bakal calon. Di sana siapa saja boleh mencalonkan diri. Asal: ada surat dukungan dari 3.000 orang. Tidak perlu dicalonkan oleh partai.

Sembilan orang memenuhi syarat sebagai bakal calon. Walsh mundur. Ia pilih jadi menteri. Tinggal delapan -empat di antaranya wanita.

Setelah diadakan pemilihan awal, dua wanita tadilah yang lolos. Wu dapat suara jauh lebih banyak: 32 persen. Annissa: 17 persen.

Apakah di Pilwali nanti Annissa bisa membalik keadaan?

Dua-duanya dikenal sebagai aktivis Partai

Demokrat. Tapi Annissa punya kelebihan: lahir di Boston. Mungkin, itu juga bukan kelebihan: lebih 50 persen penduduk Boston lahir di luar Boston.

Begitu menarik kota Boston. Sejak lama. Begitu banyak universitas ternama di Boston. Dua di antaranya Anda sudah tahu: Harvard dan MIT. Masih ada Boston University. Ada juga sekolah musik yang hebat: Berklee College of Music.

Wu sendiri kali pertama datang ke Boston juga untuk kuliah: di Harvard. Dia ambil ekonomi. Lalu hukum.

Di Boston pula Wu kali pertama mendapat pekerjaan. Yakni di kantor konsultan terkemuka dunia: Boston Consulting Group.

Tiba-tiba dia menerima email dari Chicago. Dia kaget. Bingung. Sedih. Yang mengirim itu email ibunyi. Bunyi email menggambarkan sang ibu seperti mau bunuh diri.

"Ibu sangat mencintaimu. Badai lagi menimpa keluarga kita. Suatu saat kamu akan mengerti. Ibu hanya ingin agar kamu tahu bahwa ibu sangat mencintaimu".

Michelle memutuskan bergegas ke Chicago. Dia mendapatkan ibunya dalam keadaan stres yang sangat dalam. Cerai. Sang ibu sampai sering mengetuk pintu apartemen tetanggatetangganyi. Sampai dilaporkan ke polisi.

Michelle memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia bertekad menemani dan menyembuhkan sang ibu. Tiga adiknyi masih kecil-kecil.

Setelah penyakit itu reda Wu membuat keputusan baru: membawa ibu dan adik-adiknyi ke Boston.

Sebagai lulusan Harvard dia bisa mudah dapat pekerjaan di sana. Dan lagi ada seseorang yang menunggu di Boston: Conor Pewarski. Yang kuliah di kampus seberang Harvard. Yang kelak jadi suaminyi.

Di samping soal jembatan viaduk masih ada tiga isu lagi yang membedakan dua cawali ini.

Annissa lebih moderat. Wu lebih "sosialis". Wu ikut ideologi mentornyi: Elizabeth Warren.

Misal: dalam hal mahalnya harga rumah di Boston. Annissa pilih mendorong pembangunan lebih banyak rumah dengan harga terjangkau. Wu pilih mengeluarkan aturan batas atas sewa rumah.

Dalam hal T Annissa pilih meningkatkan pelayanan. Wu punya ide gila: gratiskan.

T adalah nama sebutan untuk kereta bawah tanah di Boston. Yang suka naik T umumnya kelas bawah. Murah. Kulit hitam atau berwarna.

Tingginya peradaban di Boston bisa dilihat dari keberadaan T di sana. Boston sudah punya T sejak tahun 1890-an.

Kota Boston -dengan penduduk 600.000 orangpunya anggaran sekitar Rp 60 triliun. Tapi utangnya hampir Rp 25 triliun. Kota ini termasuk mengalami kesulitan untuk membayar utang. Rating kesehatan keuangannya, ehm, D-Anda sudah tahu betapa rendahnya.

Itu tidak membuat orang surut untuk berebut jadi wali kota. Bedanya: zaman dulu yang bersaing biasanya orang kulit putih Katolik lawan orang kulit putih Protestan.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya