Berita

Peace Village/Repro

Dahlan Iskan

Dading Faris

JUMAT, 22 OKTOBER 2021 | 05:49 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SATU keluhan orang tua bisa jadi berkah bagi anak. Bermula dari harga gabah yang turun di kala panen. Sang ayah, petani, curhat pada sang anak –yang tinggal di Jakarta.

Sang anak mengerti perasaan bapaknya. "Pak, akan saya carikan tengkulak yang mau membeli dengan harga baik," ujar sang anak menenangkan hati bapaknya.

Sang anak tidak berterus terang bahwa tengkulak itu ia sendiri. Tanpa ia tahu akan diapakan gabah sebanyak itu.


Dari peristiwa itulah sang anak baru tahu: harga beras bisa lebih baik kalau dijaga kualitasnya. Salah satu penanda kualitas itu adalah: kadar remuk-nya harus rendah.

Nama anak itu: Dhohir Farisi.

Sang ayah: petani di Probolinggo.

Pekerjaan sang anak: pernah menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra. Lalu tidak mau lagi dicalonkan. Pun oleh partai yang lain, termasuk partai yang pernah dideklarasikan mertuanya: KH Abdurrahman Wahid.

Padahal, istri Faris, Yenny Wahid, tidak pernah melarang sang suami untuk aktif di politik. Faris sendiri yang insaf.

Gara-gara keluhan ayahnya itulah Faris tergerak mendorong petani untuk memproduksi beras premium. Faris yang akan membeli beras premium itu. Untuk dikemas menjadi beras bermerek: Bintang Sembilan. Itu memang mengingatkan orang pada lambang Nahdlatul Ulama.

Lain kali Faris menerima keluhan lain lagi: ada orang tidak mampu menyekolahkan anak. Orang itu merayu Faris untuk membeli tanahnya di Sleman, Jogjakarta.

Faris tidak pernah punya niat punya rumah di Jogja. Faris memilih membantu saja uang kuliah anak itu. Ia tidak punya pikiran untuk menyimpan tanah. Apalagi harus tinggal di kota itu.

Kian lama uangnya kian banyak yang dipakai biaya kuliah. Itu pun belum cukup. Dan lagi tanah di Jogja itu juga nganggur. Maka Faris menerimanya sebagai pembayaran utang biaya kuliah tersebut.

Dan pandemi datang. Kian parah. Faris terpikir untuk menyingkir dari Jakarta. Tapi ke mana? Ia ingat tanah di Sleman itu. Ia bangun rumah di situ. Di desa sekali. Hanya mobil kecil yang bisa masuk-masuk ke jalan di desa itu.

Selama pandemi, Faris dan Mbak Yenny dan tiga anak lebih banyak di Sleman. Selama pandemi pula mereka taat pada nasihat sehat: perbanyak makan sayur dan buah. Lalu Faris terpikir membina petani yang menanam sayur.

Di sebelah rumahnya itu terdapat tanah kosong satu hektare. Milik desa. Yang bisa disewa. Jadilah tanah desa itu pusat kegiatan baru Faris dan Yenny: Peace Village.

Di gerbangnya tertulis "Jujur, Loman, Sabar, lan Ikhlas". Artinya: jujur, suka memberi, sabar, dan ikhlas. Ada gambar Gus Dur besar di halaman itu. Ada lagi gambar Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid agak di dalam.

Masih ada lagi bangunan serbaguna. Ada taman untuk anak-anak. Ada sanggar kreativitas. Ada pesantren dengan pelajaran khusus: coding di komputer. Mengapa pilih membuat pesantren coding? "Pesantren yang mengajarkan agama sudah banyak. Di sini diajarkan coding saja," ujar Faris.

Berapa banyak santrinya? "Tidak boleh melebihi jumlah santri di Ciganjur," jawabnya. Ciganjur adalah pesantren milik Gus Dur di Jakarta selatan. Santrinya: 25 orang.

Saya terus berjalan melihat-lihat apa saja yang ada di situ. Lokasi ini ternyata memanjang ke belakang. Ada sungai kecil di bagian belakangnya.

Ups, di bagian belakang itu masih ada gasebo-gasebo: itulah restoran baru. Dengan menu utama khusus steak daging lokal.

"Kami ingin membuktikan bahwa daging lokal tidak kalah enak dengan daging impor," ujar Faris.

Di antara petani binaan Faris memang ada peternak sapi. Faris harus menemukan cara memasak daging sapi lokal yang benar. Salah satunya harus melalui proses selama 14 hari. Sebelum proses itu dilakukan daging tidak boleh dijadikan steak.

Saya pun makan siang steak khusus itu di situ. Di gasebo pinggir sungai. Yang juga pinggir sawah kecil yang ditanami padi.

Kopinya di situ pun diberi merek Bintang Sembilan. Yang logonya juga mirip logo NU –tapi terbuat dari gambar biji kopi. Kopi Bintang Sembilan tidak hanya dijual di situ, tapi juga untuk umum –lewat online. Sudah dalam bentuk untaian sachet yang sudah diisi gula.

Habis makan siang saya belum boleh pulang. Ada pelukis ternama Jogja yang lagi di ruang besar: Bayu Wardhana. Bayu lagi melukis di kanvas ukuran besar. Objek lukisannya: salah satu sudut kota Yangon –kota terbesar di Myanmar. Bayu memang pernah pameran lukisan di sana, beberapa tahun lalu.

Faris pintar sekali menjebak saya: harus ikut lomba lukis dadakan di situ. Peserta lombanya: saya, istri, anak wedok dan suaminya, serta Kang Sahidin. Kami dipaksa menerima kanvas. Berikut cat air dan segebok kuas. Kami sekeluarga harus melukis di situ. Dilombakan. Bayu –yang sudah menghasilkan lebih 1.000 lukisan dan delapan anak kandung– yang jadi juri.

Bayu tidak hanya pelukis –yang pernah diundang Presiden Jokowi ke Istana. Ia juga sudah memproduksi cat air untuk melukis. Dengan merek Bayu Wardhana.

Maka jadilah saya tiga jam di Peace Village itu. Rasanya itulah kesempatan saya terlama dalam satu kegiatan dengan istri saya.

Tentu ada misi khusus mengapa padepokan itu didirikan di situ. Yakni misi yang akan dicapai di balik kegiatan fisik di sana: terbentuknya masyarakat damai, tanpa kekerasan, tanpa radikalisme, dan tanpa sikap ekstrem.

Misi itulah yang akan terus dikembangkan oleh Faris dan Mbak Yenny. Memang masih serba baru. Tapi sudah terasa menyenangkan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya