Berita

Sebuah rudal anti-pesawat yang baru dikembangkan terlihat selama tes yang dilakukan oleh Akademi Ilmu Pertahanan/KCNA

Dunia

DK PBB Dinilai Terapkan Standar Ganda, Soal AS Diam, Soal Korut Lantang

MINGGU, 03 OKTOBER 2021 | 15:50 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Korea Utara menilai Dewan Keamanan PBB telah menerapkan standar ganda atas kegiatan militer di antara negara-negara anggota PBB.

Kritik itu dimuat dalam publikasi media pemerintah Korea Utara KCNA pada akhir pekan ini, di tengah sorotan global atas ujicoba rudal Korea Utara baru-baru ini.

Di tengah situasi tersebut, pada Jumat (1/10), Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan secara tertutup atas permintaan dari Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk membahas soal peluncuran rudal Korea Utara.


Sehari sebelumnya, Pyongyang melakukan peluncuran rudal anti-pesawat yang baru dikembangkan. Ini merupakan bagian dari rangkaian ujicoba senjata baru-baru ini yang dilakukan oleh Korea Utara, termasuk peluncuran rudal hipersonik yang sebelumnya tidak terlihat, rudal balistik dan rudal jelajah dengan kemampuan nuklir potensial.

Melihat sikap Dewan Keamanan PBB, Direktur Departemen Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri Korea Utara Jo Chol Su menilai bahwa ada provokasi serius yang tidak dapat ditoleransi.

Jo menuduh Dewan Keamanan PBB menerapkan standar ganda karena tetap diam tentang latihan militer gabungan Amerika Serikat dan uji senjatanya dengan sekutu. Namun lantang bersikap dan mempermasalahkan kegiatan militer yang dilakukan oleh Korea Utara. Padahal apa yang dilakukan oleh Korea Utara tidak lebih dari upaya untu membela diri.

"Ini adalah penolakan terhadap ketidakberpihakan, objektivitas dan keseimbangan, jalur kehidupan kegiatan PBB, dan manifestasi nyata dari standar kesepakatan ganda," kata Jo dalam sebuah pernyataan yang dibawa oleh kantor berita resmi KCNA, dan dikabarkan ulang Reuters pada Minggu (3/10).

Jo memperingatkan bahwa Dewan Keamanan PBB dapat menghadapi konsekuensi jika terus melanggar kedaulatan Korea Utara dengan tongkat kesepakatan ganda dan mengandalkan cara berpikir dan penilaian ala Amerika Serikat.

Di sisi lain, Amerika Serikat telah mengkritik peluncuran itu dan menilainya telah mengganggu stabilitas dan menimbulkan ancaman regional.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Tanpa Rompi dan Borgol Saat Ditahan, DPP IMM Minta Kejagung Tak Istimewakan Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:43

Belum Sebulan IPO, Direktur RANS Tiba-tiba Mundur

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30

Revitalisasi Pengurus AMPI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:26

Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Kediaman Kadis PUPR Bengkulu

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:09

Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Kehormatan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:07

PDIP Jatim Hadirkan RedTalks, Wadah Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:54

Sekolah Nasional Terintegrasi: Resep Medis Kuratif Pendidikan dan Kesehatan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:39

Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:35

TB Hasanuddin: Jangan Akali Putusan MK dengan Bebani Pelanggan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:59

Lodewijk: Ancaman Indonesia Kini Bukan Hanya Perang, tapi Ekonomi hingga Iklim

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:49

Selengkapnya