Berita

Dunia

Mata Uang Myanmar Merosot 60 Persen dalam Empat Minggu, Mana "Taring" Junta Militer?

RABU, 29 SEPTEMBER 2021 | 21:53 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mata uang Myanmar, Kyat mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 60 persen nilainya sejak awal September lalu. Kondisi mendorong harga pangan dan bahan bakar di negara yang kepemimpinannya baru diambilalih oleh militer melalui kudeta pada awal Februari lalu itu, melonjak.

Kondisi ini menjadi semacam pukulan tersendiri bagi pemerintahan junta militer yang kini berkuasa di Myanmar.

"Ini akan mengguncang para jenderal karena mereka cukup terobsesi dengan tingkat kyat sebagai barometer ekonomi yang lebih luas, dan karenanya mencerminkan mereka," kata pakar Myanmar di International Crisis Group, Richard Horsey.


Merujuk pada kabar yang dimuat Channel News Asia, pada bulan Agustus lalu, Bank Sentral Myanmar mencoba menambatkan kyat 0,8 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Namun kemudian menyerah pada 10 September karena tekanan pada nilai tukar meningkat.

Kekurangan dolar telah menjadi sangat buruk sehingga beberapa penukar uang telah menutup pintu mereka, salah satunya adalah penukaran mata uang Northern Breeze Exchange Service.

"Karena ketidakstabilan harga mata uang saat ini, semua cabang Northern Breeze Exchange Service ditutup sementara," kata pihak money changer itu dalam sebuah pengumuman.

Sementara itu, money changer yang masih beroperasi menggunakan tarif 2.700 kyat per dolar AS pada Selasa (28/9). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 1.695 kyat pada 1 September dan 1.395 kyat pada 1 Februari, ketika militer menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis yang dipimpin oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi.

Merujuk pada sebuah laporan yang diterbitkan pada awal pekan ini, Bank Dunia memperkirakan bahwa ekonomi Myanmar akan merosot sebesar 18 persen tahun ini, sebagian karena dampak dari pandemi Covid-19.

Tekanan ekonomi yang meningkat ini terjadi di tengah tanda-tanda peningkatan kekerasan yang terjadi di Myanmar, di mana milisi bersenjata kerap bentrok dengan pasukan militer di sejumlah daerah di Myanmar.

"Semakin buruk situasi politik, semakin buruk nilai mata uangnya," kata seorang eksekutif senior di sebuah bank Myanmar, yang menolak disebutkan namanya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya