Berita

Kelompok feminis Femen di Jerman menggelar unjuk rasa di Gerbang Brandenburg di Berlin untuk memprotes pembatasan terhadap wanita di Afghanistan/BBC

Dunia

Sambil Bertelanjang Dada, Kelompok Feminis: Taliban Ingin Membuat Wanita Tidak Terlihat

MINGGU, 26 SEPTEMBER 2021 | 04:44 WIB | LAPORAN: ABDUL MANSOOR HASSAN ZADA

Gejolak politik, ekonomi dan sosial yang tengah terjadi di Afghanistan usai kekuasaan negara itu jatuh ke tangan kelompok militan Taliban pertengahan Agustus lalu mengundang perhatian banyak pihak, termasuk kelompok feminis Femen.

Kelompok feminis yang didirikan tahun 2008 di Ukraina ini terkenal ekshibisionis, alias gemar mencuri perhatian dengan mengorganisir hal-hal yang kontroversial, seperti bertelanjang dada di depan publik, untuk memperjuangkan hak wanita.

Baru-baru ini, sejumlah anggota kelompok feminis Femen di Jerman menggelar unjuk rasa untuk memprotes pembatasan terhadap wanita di Afghanistan.


Pada Kamis (23/9), sejumlah wanita itu melakukan aksi di depan Gerbang Brandenburg di Berlin untuk menyuarakan keprihatinan mereka.

Dari beberapa foto yang beredar, tampak tiga orang wanita yang mengenakan burqa hitam, atau pakaian longgar yang menutup seluruh tubuh wanita, dari atas kepala hingga kaki, termasuk bagian wajah, hanya di bagian mata yang tampak dibatasi kain menerawang atau kain jaring.

Mereka lalu melepas buqra terserbut dan memamerkan tubuh mereka yang dibalut pakaian berbahan seperti jaring tipis dan transparan. Ketiganya tampak hanya mengenakan celana dalam dan bertelanjang dada. Di bagian dada mereka terdapat tulisan serupa tulisan di poster yang mereka pegang.

Poster dan tulisan di dada mereka terdiri dari tiga bahasa. Satu wanita memegang poster dan tulisan di dadanya berbahasa Arab. Satu wanita dengan tulisan berbahasa Inggris, dan satu wanita lainnya dengan tulisan berbahasa Jerman.

Namun apa yang mereka suarakan adalah sama, yakni "Taliban ingin membuat wanita menjadi tidak terlihat".

Protes mereka ini merupakan bentuk keprihatinan mereka atas sikap Taliban yang membatasi ruang gerak serta peran publik wanita di Afghanistan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya