Berita

Salah seorang pengungsi lokal di Hasa Awal Park bernama Mohammad Naim berbagi cerita dengan RMOL/RMOL

Dunia

LAPORAN DARI KABUL

Pengungsi Lokal Afghanistan Menjerit: Tidur Beralaskan Tanah, Tanpa Makanan dan Air yang Cukup, Siapa yang Mendengar Kami?

RABU, 22 SEPTEMBER 2021 | 20:55 WIB | LAPORAN: ABDUL MANSOOR HASSAN ZADA

Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib ratusan pengungsi lokal Afghanistan yang kehilangan tempat tinggal dan kini tidak memiliki tujuan pasti untuk masa depan mereka, usai kelompok Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pertengahan Agustus lalu.

Sejak Taliban gencar menguasai wilayah-wilayah di Afghanistan usai pasukan Amerika Serikat angkat kaki dari negara itu beberapa bulan lalu, banyak pengungsi lokal dari daerah-daerah yang angkat kaki dari rumah mereka dan datang ke ibukota Kabul dengan harapan bisa menyelematkan diri.

Mereka terpaksa melakukan hal itu karena Taliban menghacurkan rumah mereka atau nyawa mereka berada di bawah ancaman.


Akibatnya, ratusan pengungsi lokal membanjiri Kabul sejak beberapa bulan lalu. Banyak di antara mereka yang tinggal dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kantor Berita Politik RMOL melihat langsung situasi di lapangan dengan datang ke sebuah taman di Kabul bernama Hasa Awal Park pada Rabu siang (22/9). Taman ini telah "disulap" menjadi penampungan pengungsi sejak setidaknya dua bulan terakhir.

Di lokasi ini, puluhan keluarga tinggal berhimpitan di bawah tenda-tenda darurat yang jauh dari kata layak.

Tampak sejumlah anak-anak di rentang usia sekolah dasar berlalu lalang, seolah mencari cara untuk bisa bermain di tengah situasi sulit yang barangkali belum mereka pahami sepenuhnya.

Tampak juga sejumlah wanita mengenakan jilbab berkumpul dan ada juga beberapa orang yang beristirahat di siang hari di bawah tenda mereka. Hal itu bisa tampak terlihat karena tenda-tenda tersebut dibuat ala kadarnya, dan tidak sepenuhnya tertutup dengan baik. Sehingga, istilah "privacy" sulit ditemukan di lokasi ini.

Beberapa tempat sampah di taman itu pun sudah dipenuhi sampah-sampah yang bahkan berceceran dan menumpuk di bawahnya. Banyak di antara sampah itu adalah wadah styrofoam atau plastik yang biasa digunakan untuk membungkus makanan.


Salah seorang pengungsi yang tinggal di antara tenda-tenda itu menuturkan ceritanya. Namanya Mohammad Naim, seorang pria yang masih tampak muda. Dia merupakan pengungsi dari wilayah Takhar.

Naim bercerita bahwa para pengungsi lain yang berada di lokasi itu datang dari banyak wilayah di Afghanistan, bukan hanya Takhar, tapi juga Kondonz, Baghlan, Badakhshan, Samangan dan juga Laghman. Mereka angkat kaki dari kampung halaman demi keselamatan diri dan keluarga mereka.

"Beberapa di antara kami kehilangan rumah. Kami tidak. memiliki makanan apalagi uang," ujar Naim.

Tidak Ada yang Mendengar Kami

Naim mengatakan, dirinya telah tinggal di taman itu bersama dengan delapan anggota keluarganya sejak sekitar satu setengah bulan yang lalu. Beberapa orang pengungsi di lokasi tersebut bahkan ada yang sudah mengungsi sejak dua bulan yang lalu, saat Taliban semakin gencar. mengambilalih kekuasaan di provinsi-provinsi di Afghanistan, sebelum puncaknya merebut Kabul pada 15 Agustus lalu.

"Taliban mengatakan, 'pulanglah ke rumah kalian!'. Tapi bagaimana kami mau pulang, kami tidak memiliki uang, bahkan ada juga yang sudah tidak memiliki rumah," kata Naim.

Dia mengatakan, meski sesekali ada bantuan datang, namun tidak rutin dan tidak mencukupi sama sekali. Dia dan ratusan orang lainnya pun terpaksa hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

"Kami tidak ingin hidup di sini. Namun kami tidak memiliki tempat untuk tinggal," ujar Naim.

Banyak pengungsi di lokasi itu terpaksa tidur beralaskan tanah dan beratapkan tenda seadanya, tanpa dinding penyekat untuk melindungi diri dari dinginnya malam.

"Musim dingin segera datang. Kami tidak memiliki tempat penampungan yang layak. Bahkan tidak ada makanan dan air yang cukup," cerita Naim.

Naim mengatakan, sejak beberapa waktu lalu, sejumlah media banyak datang dan meliput. Namun sayangnya, tidak ada perubahan drastis yang terjadi pada mereka.

"Tidak ada yang mendengar suara kami. Tidak ada yang membantu kami," kata Naim.

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya